Garasi Nyunda: Larut Bersama Musik Tarawangsa

Senin, 22 Mei 2017 



Garasi10 kembali mengadakan kegiatan setelah cukup lama vakum. Kali ini, yang diundang adalah Grup Mekarwangi Cibunar Rancakalong dari Sumedang untuk menampilkan kesenian tarawangsa. Kelompok kesenian tersebut tidak hanya membawa pemain musik saja, melainkan juga sejumlah penari laki-laki dan perempuan sebagai bagian dari pertunjukkan. 

Kegiatan yang dimulai pukul 19.30 tersebut dibuka dengan sambutan dari Prof. Dr. Anis Sudjana dari ISBI Bandung dan Mas Nanu Muda selaku dosen tari ISBI yang mendukung seni tradisi. Setelah itu, musik dimulai dengan permainan apik antara tarawangsa dengan jentreng, Satu per satu penari mulai beranjak dari duduknya, dan melakukan tarian di depan “panggung”. Tarian dimulai dari penari laki-laki terlebih dahulu yang kemudian disusul dengan penari perempuan. Urutan ini biasanya sudah baku sebagaimana tradisi yang dipegang terkait penghormatan pada Dewi Sri dan para leluhur. Para hadirin yang hadir di Garasi10 juga ikut menari. Pertunjukkan musik tarawangsa biasanya berakhir hingga tengah malam atau bahkan dini hari. Namun kegiatan di Garasi10 kemarin hanya dibatasi hingga pukul 22 saja. 

Tarawangsa sendiri dapat mengacu pada dua arti. Pertama, tarawangsa adalah nama instrumen musik yang dimainkan dengan cara digesek seperti rebab namun punya ukuran yang lebih panjang (maka itu sering disebut juga dengan rebab jangkung). Kedua, tarawangsa bisa diartikan sebagai jenis musik itu sendiri. Pada kesempatan tertentu, orang-orang yang menari ketika pertunjukkan tarawangsa, bisa mengalami trance karena pengaruh intensitas ritmik sekaligus melodi yang magis.

Previous
Next Post »