FGD tentang Gedung Pertunjukkan: Mulai dari Persoalan Harga, Birokrasi, hingga Idealisme Seni Pertunjukkan yang Kian Menjauh

Bandung, 21 Mei 2016

Sore itu di Garasi10 berlangsung diskusi yang digagas oleh Yayasan Klasikanan. Diskusi yang juga menggaet komunitas musik klasik dari Bandung, KlabKlassik, sebagai rekan tersebut, mengusung tema tentang gedung pertunjukkan. Meski demikian, diskusi kemarin tidak seperti diskusi pada umumnya yang bersifat terbuka. Pertama, peserta yang hadir berdasarkan undangan tertutup. Kedua, diskusi diarahkan lewat pertanyaan-pertanyaan yang sudah disiapkan oleh moderator. Itu sebabnya, format diskusi semacam itu dinamakan dengan Focus Group Discussion (FGD). 


Diskusi dihadiri oleh Sophan Ajie (selaku sutradara teater dan penggiat komunitas Langit Inspirasi), Evi Sri Rejeki (penulis dan eks penggiat teater di Studi Teater Unisba), Adrian Benn (anggota paduan suara di Magnificat dan Svaditra), Sandy Mardiansyah (komposer), Syarif Maulana (koordinator KlabKlassik dan penggiat ruang alternatif Garasi10), sejumlah perwakilan dari UKM Gitar Klasik Silhouette di STT Tekstil yaitu Galih Ray C., Yuda Israwan, dan Rifqi Husaini, serta Adisti Ikayanti dan Condro Kasmoyo selaku moderator dan perwakilan dari Yayasan Klasikanan. Setelah saling memperkenalkan diri, Adisti mulai mengajukan pertanyaan pertama, “Gedung pertunjukkan apa saja yang pernah teman-teman pergunakan, baik sebagai pemain atau penonton?” Rata-rata peserta pasti menyebut setidaknya Auditorium IFI-Bandung, meski ada juga seperti Benn yang menyinggung tentang Dago Tea Huijs, Katedral, Padepokan Seni Mayang Sunda, dan Wisma Dana Mulia; Sandy (Selasar Sunaryo); Evi (Rumentang Siang, Sunan Ambu); Sophan (Sasana Budaya Ganesha [Sabuga], Gedung Kesenian Jakarta, Bentara Budaya Jakarta); Galih (Aula Gedung Serbaguna STT Tekstil); dan Syarif (Aula Universitas Kristen Maranatha dan New Majestic). 

Pertanyaan berikutnya muncul dari Adisti: “Seperti apa kira-kira gedung pertunjukkan yang ideal itu?” Syarif angkat bicara pertama kali, mengatakan bahwa gedung pertunjukkan yang ideal adalah gedung pertunjukkan yang profesional. Artinya, gedung pertunjukkan itu memang ditujukan untuk gedung pertunjukkan dan bukan merangkap fungsi dengan yang lainnya. Sebagai contoh, Auditorium IFI-Bandung, bagaimanapun, sehari-harinya juga digunakan untuk les Bahasa Prancis. Itu sebabnya, di hari kerja, pengguna auditorium tidak bisa bebas melakukan persiapan karena khawatir bersinggungan kepentingan dengan peserta les (misal: tidak bisa melakukan check sound yang terlalu gaduh). Hal itu berlaku juga dengan tempat pertunjukkan yang berafiliasi dengan kampus seperti Sunan Ambu (bagian dari Institut Seni Budaya Indonesia), atau Aula Universitas Kristen Maranatha. “Tentu saja, imej dari institusi itu sendiri menjadi melekat pada pertunjukkan. Misalnya, pertunjukkan yang diselenggarakan di Sunan Ambu menjadi punya erat dengan imej ISBI yang selama ini lekat dengan seni tradisi. Pun dengan tempat-tempat lainnya.” Benn menambahkan bahwa hal tersebut berlaku pada pertunjukkan yang diadakan di tempat keagamaan seperti gereja. Itu sebabnya, sekali lagi, gedung pertunjukkan yang ideal adalah gedung yang independen. 

“Gedung pertunjukkan yang ideal,” tambah Sophan, “Adalah gedung yang bisa mengakomodasi pemain dan penonton dengan baik.” Ruangan backstage, lanjutnya, adalah salah satu barometer. “Backstage yang baik adalah backstage yang profesional sekaligus fungsional.” Di satu sisi, jangan sampai orang susah untuk menjangkau toilet, tempat konsumsi, dan ruang rias. Di sisi lain, jangan sampai juga tercampur-campur antara orang yang makan, orang yang sedang merias, dan sebagainya. Seorang pemain harus diberi tempat yang baik, semacam “singgasana”, agar dia punya kesan yang baik terhadap gedung pertunjukkan. “Auditorium IFI,” kata Sophan, “Ideal bukan karena elemen-elemen gedung pertunjukkan, seperti backstage, alur penonton, dan profesionalitas serta fungsionalitas.” Auditorim IFI ideal karena harganya yang barangkali paling terjangkau, lanjut Sophan. Kemudian Galih menambahkan bahwa gedung pertunjukkan yang ideal mempunyai akses yang baik, terutama bagi pemain. “Pemain harus bisa keluar-masuk panggung dengan teratur, dan bahkan bisa ada akses menuju ke luar gedung, sehingga dia bisa rehat atau bahkan masuk lagi lewat jalur yang lain.” Syarif kemudian menyela, “Tentu saja gedung yang baik harus mempunyai akustik yang baik. Apa arti akustik yang baik? Penonton paling depan dan penonton paling belakang mendapatkan distribusi suara yang sama dari penampil, tanpa bantuan sedikitpun pengeras suara.” 

Pertanyaan lanjutan kemudian datang dari Adisti, “Kekurangan dari gedung pertunjukkan yang ada selama ini, apa sih?” Hampir semua sepakat menjawab, “Harga dan birokrasi.” Harga, kata Evi, seringkali terlalu jomplang antara Auditorium IFI dengan gedung-gedung yang lain. Itu sebabnya Auditorium IFI mendapat urutan teratas sebagai gedung yang paling banyak digunakan untuk pertunjukkan, setidaknya menurut para peserta FGD. “Untuk sewa Sabuga,” sambung Sophan, “saya harus mengeluarkan biaya ratusan juta. Meski pada akhirnya bisa tertutup lewat penjualan tiket, tapi tetap saja, untuk pertunjukkan yang diselenggarakan di Sabuga, pertunjukkan tersebut harus komersial.” Artinya, pertunjukkan yang diselenggarakan di Sabuga tidak bisa berupa pertunjukkan yang idealis, mengandalkan apresiasi semata, dan mungkin juga berat untuk dicerna – Sophan memberi contoh Menanti Godot-nya Samuel Beckett yang kemungkinan besar akan sepi peminat, walau nilai teater tersebut sangat tinggi bagi mereka yang mengerti hal-ikhwal pertunjukkan-. Adapun gedung-gedung lain seperti Sunan Ambu, Dago Tea Huijs dan New Majestic, harganya memang tidak mencapai belasan juta sekalipun, tapi kisaran antara empat juta hingga delapan juta tetap memberatkan bagi para pelaku seni pertunjukkan yang masih pemula. “Saya ada pengalaman,” lanjut Syarif, “pada tahun 2008, saya pernah menyewa New Majestic dan berhadapan dengan birokrasi yang teramat rumit.” Untuk sebuah pertunjukkan musik klasik berformat solo gitar saja, dibutuhkan tiga persyaratan agar bisa menyewa gedung New Majestic: Surat dari kepolisian, surat dari Dispenda Kota Bandung, dan penyediaan ambulan. 

Pengalaman tersebut membawa Adisti pada pertanyaan lainnya, “Jika harus memilih, apakah lebih baik gedung pemerintah atau gedung non-pemerintah?” Nyaris semua menjawab, “Gedung non-pemerintah.” Alasannya kembali lagi, birokrasi. “Gedung pemerintah,” kata Sandi, “Pertama, biasanya cenderung mempersulit, dan kedua, biasanya yang mengurusi gedung, tidak paham tentang pertunjukkan.” Evi menambahkan sembari mengiyakan, bahwa para birokrat pemerintah yang mengurusi gedung, kemungkinan tidak mengerti ragam seni pertunjukkan, sehingga seluruh seni pertunjukkan dianggap sama saja. “Teater tentu punya persiapan yang berbeda dengan musik. Musik barangkali bisa persiapan dari H-1 atau bahkan dari hari H untuk urusan dekorasi dan teknis panggung. Tapi teater bisa jadi harus punya persiapan dari H-4 untuk menghasilkan suatu dekorasi panggung yang baik.” 

Pertanyaan terakhir, kata Adisti, jika ingin memperbaiki kualitas gedung pertunjukkan, apa yang harus dilakukan pertama kali? Sebagian menjawab SDM, dan sebagian lagi menjawab tentang harga gedung yang diturunkan. Menyoal SDM, kata Evi, memang orang yang mengurusi gedung pertunjukkan, kembali lagi, harus orang yang mengerti tentang seni pertunjukkan. Untuk mencapai tahap “mengerti” tersebut, tentu saja butuh edukasi yang panjang. “Harus ada semacam pelatihan bagi para birokrat pemerintah,” kata Benn, “mengenai ragam seni pertunjukkan yang mungkin ditampilkan di gedung.” Sedangkan saran Sophan lebih ke bersifat praktis, “Jika harga gedung pertunjukkan terus naik, maka pertunjukkan yang akan diselenggarakan tentu hanya yang bersifat komersil. Pun jika harga gedung pertunjukkan juga kian tinggi, maka para penyelenggara akan lebih memilih menampilkan pertunjukkan di hotel-hotel. Mengapa? Jelas karena hotel lebih mempunyai brand image yang cocok untuk menarik harga tiket yang mahal.” Bahkan lebih jauh lagi, jika tidak ada tindakan serius menyoal harga sewa gedung yang kian mahal, maka siap-siap, kata Sophan, lima puluh tahun lagi, kita hanya bisa menyaksikan pertunjukkan tradisional di hotel-hotel mewah. Jikapun ada harapan, kata Sophan, maka harapan itu ada banyak di luar Pulau Jawa. “Di umumnya di kota-kota di Pulau Jawa, mindset orang umumnya sudah ke arah bisnis, sehingga seni itu sendiri tidak lagi independen,” lanjutnya. Di luar Pulau Jawa masih banyak tempat-tempat yang barangkali bisa dijadikan “lahan” untuk membangun gedung pertunjukkan yang kiranya sesuai dengan keinginan masyarakat. 

“Atau bisa jadi,” ujar Sophan, “sebenarnya tidak ada masalah dari gedung pertunjukkan ini.” Mengapa? Karena seni pertunjukkan dari Timur pada umumnya tidak memisahkan antara pemain dan penonton, dan tidak membutuhkan backstage serta fasilitas yang lengkap. Pertunjukkan bisa diadakan dimana saja, bisa di pasar, bisa di garasi rumah, bisa di jalan raya, dan sebagainya. Esensinya adalah pesan dari kesenian itu sampai pada masyarakat, tanpa jarak pemisah yang tegas seperti umumnya kesenian dari Barat. Kalimat dari Sophan tersebut menutup FGD, sembari menyisakan satu ruang untuk pertanyaan besar terkait gedung pertunjukkan: Adakah masa depan bagi isu ini?
Latest
Previous
Next Post »