Mendoakan Umberto Eco Lewat Diskusi

Kamis, 31 Maret 2016

Hari Kamis itu adalah hari yang bertepatan dengan empat puluh hari wafatnya Umberto Eco. Siapakah Eco? Ia adalah ahli semiotika asal Italia yang juga seorang novelis handal. Mengapa empat puluh haru meninggalnya harus "dirayakan"? Tidak ada alasan yang lebih bagus, kecuali jika peringatan empat puluh hari wafatnya seseorang itu begitu dekat dengan budaya masyarakat Indonesia.  Artinya, kegiatan ini merupakan bentuk penghargaan terhadap pemikiran Umberto Eco yang sudah sangat mendunia, untuk kemudian dielaborasikan dengan seremonial a la masyarakat kita. 


Meski demikian, isi dari seremoni ini bukanlah semacam pembacaan surah Yaa Siin ataupun rangkaian tahlilan lainnya. Garasi10 mengisi peringatan empat puluh harian tersebut dengan kegiatan nonton bareng dan bincang buku yang bersumber dari novel karya Eco yang barangkali paling terkenal, berjudul The Name of The Rose. The Name of The Rose adalah novel debut Eco yang ditulis tahun 1980. Tidak butuh lama agar novel tersebut menjadi best seller, hingga akhirnya enam tahun sejak ditulisnya, karya sastra tersebut diangkat ke layar lebar oleh Jean Jacques Annaud -dengan dibintangi oleh Sean Connery, Christian Slater, dan F. Murray Abraham-. Film berdurasi dua jam sembilan menit tersebut diputar sebagai "menu pembuka" diskusi, sebelum akhirnya masuk lebih dalam ke pemikiran Eco, melalui bincang buku. "Tentu saja," kata Chiarra, salah seorang peserta asal Italia yang mengikuti baik film maupun bukunya, "Ada perbedaan antara bahasa tulis dengan bahasa visual. Menyaksikan The Name of The Rose dalam versi layar lebar ada kemudahan dalam memahami ceritanya, tapi memang hilang kedalamannya." Karena, lanjutnya, Eco punya gaya tutur yang khas: antara rumit, penuh teka-teki, setengah akademis dan setengah improvisatif. Hal-hal semacam itu tidak bisa kita tangkap dari sebuah film. 

Setelah menyaksikan filmnya secara utuh, para peserta diajak untuk berdiskusi, dipandu oleh seorang moderator yakni Hasan Sobirin, dan dua orang narasumber yaitu Acep Iwan Saidi (Forum Studi Kebudayaan) dan Syarif Maulana (Garasi10). Kedua narasumber ini memaparkan dua hal yang berbeda, demi melengkapi pandangan para peserta tentang The Name of The Rose. Pertama, Syarif -yang didapuk bicara mula-mula- menceritakan secara umum tentang situasi Abad Pertengahan dan pemikiran-pemikiran apa saja yang muncul pada zaman tersebut -Abad Pertengahan adalah latar yang digunakan Eco dalam novel The Name of The Rose-. "Abad Pertengahan sering dicibir oleh para filsuf modern sebagai masa dimana pemikiran Eropa tengah dalam kondisi stagnan. Berkembang pesatnya agama Kristen yang diwarnai oleh dominasi gereja (yang seringkali beradu wewenang dengan negara), menciptakan semacam dogma bahwa filsafat hanya diperbolehkan jika mendukung keimanan,:" kata Syarif, membuka pemaparan. "Keberadaan William dari Baskerville sebagai protagonis di novel The Name of The Rose adalah semacam kritik terselubung dari Eco terhadap agama dogmatis. Ia adalah simbol akal sehat di tengah-tengah masyarakat Eropa yang saat itu tengah menghubungkan segala sesuatunya dengan hal-ikhwal ketuhanan," lanjut Syarif.


Sebelum dilanjutkan, mungkin ada baiknya ada sedikit sinopsis dari novel The Name of The Rose ini. The Name of The Rose adalah novel dengan latar Abad Pertengahan, dengan protagonis seorang biarawan Franciscan, William dari Baskerville dan muridnya, Adso. Dalam kunjungannya ke sebuah biara Benedictine, mereka dikejutkan oleh serangkaian kematian tidak wajar, baik berupa bunuh diri maupun pembunuhan. William kemudian menginvestigasi pembunuhan tersebut dan menemukan bahwa di balik kesucian biara Benedictine, ternyata terdapat upaya-upaya untuk menutupi kejadian tersebut. The Name of The Rose menarik, salah satunya dikarenakan oleh teka-teki yang dikandungnya. William mencoba menyingkap sejumlah kode rahasia baik itu berupa gambar, kata-kata, hingga gestur seseorang. Itulah mengapa The Name of The Rose juga disebut-sebut sebagai novel yang mengandung teori semiotika (ilmu tentang tanda) - Apalagi jika ditambah fakta bahwa Eco adalah seorang profesor Semiotika-.

Pemaparan sekarang berpindah ke Acep Iwan Saidi. Acep lebih banyak berbicara tentang semiotika itu sendiri. Ia mencoba membandingkan antara semiotika Eco, dengan semiotika yang muncul dari pemikir lain, seperti Roland Barthes atau Charles Sanders Peirce. Menurut Acep, Eco menarik karena ia menjadikan Abad Pertengahan sebagai latar - berbeda dengan Barthes atau Peirce yang menjadikan dunia modern sebagai "arena bermain"-nya - "Lewat latar Abad Pertengahan tersebut," kata Acep, "Eco hendak menegaskan tentang 'teori dusta', tentang bagaimana agama, seni, dan pengetahuan, justru merupakan cara terbaik untuk menutupi kebenaran." Hal tersebut, lanjut Acep, tidak disentuh oleh Barthes dan Peirce, yang lebih banyak berkutat dengan imaji budaya populer dan makna-makna dibaliknya. Acep juga menambahkan bahwa Eco adalah penulis yang sungguh mengesankan. Ia memasukkan teori-teori semiotika dengan sangat halus, lewat pemaparan demi pemaparan yang sangat mendetail sekaligus naratif. Setelah membaca buku tersebut, kita mendapatkan satu paket lengkap mengenai cerita detektif, pelajaran sejarah, isu-isu keagamaan, dan itu tadi, teori semiotika.


Setelah dua pemaparan tersebut, terjadi diskusi yang cukup intens mengenai sejarah Abad Pertengahan -dari mulai kejatuhan Romawi, kemunduran filsafat di Eropa, hingga zaman keemasan Islam-. Juga muncul pertanyaan dari salah seorang peserta, Adi Bayu Mahadian, tentang, "Apa pentingnya meneliti semiotika? Tidakkah itu hanya sebentuk tafsir terhadap tanda-tanda saja? Sedangkan tafsir sendiri, umumnya bersifat subjektif dan bisa saja tidak ada hubungannnya dengan teks yang ditafsir." Kemudian dijawab oleh Acep bahwa kekeliruan orang pada umumnya adalah menganggap bahwa penafsiran merupakan kerja yang mudah. "Padahal," lanjut Acep, "Penafsiran merupakan kerja panjang dan butuh disiplin ketat sebagaimana halnya ilmu-ilmu eksakta. Memang pada akhirnya hasil tafsir tidak lepas dari unsur-unsur subjektif. Tapi setidaknya subjektifitas tersebut tidak muncul dari spontanitas saja, melainkan sudah melalui sejumlah metode yang ketat."

Tepat pukul sembilan, Hasan Sobirin selaku moderator menutup diskusi dengan mengatakan bahwa diskusi memang berkembang seolah menjauhi novelnya, tapi hal ini justru menunjukkan kekayaan pemikiran Eco yang mengandung banyak lapisan pemikiran. Akhirul kata, ia mengajak para hadirin untuk berdoa agar arwah Eco tenang di alam sana.

Berikutnya, para peserta tidak langsung pulang. Mereka justru semakin seru mengobrol di teras, ditemani oleh kopi, rokok, dan juga lapak buku milik Deni Rachman dari Lawang Buku (yang juga menjual sejumlah buku hasil tulisan Eco).


Previous
Next Post »