Sajak Suara: Membedakan Fiksi dan Non-Fiksi


Minggu, 28 Februari 2016

Komunitas Sajak Suara kembali berkumpul setelah dideklarasikan di minggu sebelumnya. Kali ini, mereka punya materi untuk didiskusikan secara serius, yaitu tentang ragam jenis tulisan -mulai dari fiksi dan non-fiksi, mengerucut ke puisi, esai, artikel ilmiah, hingga biografi-. Pada awalnya, perbedaan antara fiksi dan non-fiksi mungkin kelihatan jelas dan tegas. Namun ketika Cahya Sukma Riyandi menerangkan tentang penulisan sejarah, maka mulai kabur batas antara fiksi dan non fiksi. "Perhatikan," kata Cahya, "Novel Musashi misalnya, apakah sejarah yang dituliskannya fiksi atau non fiksi?" Kemudian ia melanjutkan, "Memang data-data yang termuat di dalamnya mengandung kebenaran karena sesuai dengan teks sejarah. Tapi sepertinya banyak penambahan unsur fiksi di dalamnya, terutama terkait hal-hal mendetail." Artinya, sejarah tidak selalu merupakan hal-hal faktual, karena pasti ada penambahan hal-hal fiksional juga. 

Pemaparan awal dari Cahya tersebut mendorong para anggota komunitas Sajak Suara untuk memeriksa kembali perbedaan antara fiksi dan non-fiksi. Pada akhirnya, lanjut Eling -salah seorang peserta-, tidak ada yang benar-benar fiksi dan tidak ada yang benar-benar non-fiksi. Bahkan, lanjutnya, suatu karya paling fiksi sekalipun, pastilah diinspirasi oleh kejadian nyata, dan punya fungsi untuk merubah kenyataan. Namun Cahya menambahkan, mungkin ada salah satu pembeda antara fiksi dan non-fiksi, yang barangkali bisa membantu mengatasi kebingungan ini. "Fiksi," kata Cahya, "Punya sifat eye of God. Penulis seperti tahu semua." Ia menambahkan, Musashi misalnya, penulisnya, Eiji Yoshikawa, seperti tahu Musashi mengerjakan apa, apa yang sedang ia rasakan, ia hendak berjalan kemana, dan sebagainya. Hal-hal seperti itu tidak akan kita temui pada non-fiksi yang notabene sangat hati-hati dalam menarik kesimpulan. 

Diskusi tersebut berlangung hingga hampir empat jam. Meski segala definisi tentang fiksi dan non-fiksi semua sudah termaktub dalam internet, komunitas Sajak Suara enggan begitu saja menelan bulat-bulat. Mereka mau memeras pikirannya agar muncul definisi-definisi yang berasal dari dialektika yang sehat.
Previous
Next Post »