Mengenalkan Sastra Rusia pada Generasi Muda

Minggu, 17 Mei 2015


Garasi10 kembali mengadakan diskusi. Kali ini tema yang diangkat adalah tentang sastra Rusia. Awal Uzhara, sebagai orang yang pernah tinggal puluhan tahun di Rusia dan menggemari ragam sastranya, didapuk menjadi narasumber. Secara spesifik, sastra Rusia yang dibahas adalah cerita pendek dari Anton Chekhov yang berjudul Riwayat yang Membosankan. Kenyataannya, cerita pendek dari Chekhov tersebut dapat dikatakan tidak pendek sama sekali (berisi lebih dari sembilan puluh lembar). Atas dasar itu, para peserta diskusi yang datang adalah mereka yang sudah diberi bacaan tersebut dari seminggu sebelumnya. 

Pak Awal membuka pemaparan dengan menceritakan tentang siapa gerangan Anton Chekhov. Chekhov digambarkan oleh Pak Awal sebagai "Raja Cerpen Rusia". "Saya suka cerpen-cerpennya karena selain menimbulkan kesan satir, Chekhov juga sering menyerahkan akhir cerita pada masing-masing pembaca," kata Pak Awal yang berusia 83 tahun itu. Setelah sedikit mengulas tentang reputasi Chekhov, Pak Awal masuk ke dalam cerpen Riwayat yang Membosankan tersebut, "Cerpen ini adalah tentang idealisme kolot seorang guru besar bernama Nikolai Stepanich. Dengan reputasinya yang besar dan kehidupannya yang mapan, ia justru merasa bosan dan muak. Istrinya adalah orang yang begitu menginginkan perubahan bagi Stepanich. Dengan reputasi suaminya yang begitu tinggi, ia merasa Stepanich tidak cocok lagi dengan pakaiannya yang dulu, selera makannya yang dulu, atau pelayannya yang dulu. Namun Stepanich merasa bahwa ketinggian reputasinya tidak usah diiringi dengan perubahan seperti itu. Itu sebabnya dalam cerpen ini, Stepanich adalah simbol orang idealis yang menolak perubahan." 

Chekhov, lanjut Pak Awal, menceritakan kehidupan Stepanich dengan gaya sedemikian rupa sehingga pembaca akan merasakan suatu kebosanan (justru karena isinya adalah melulu tentang reputasi yang tinggi). Kita juga akan bisa membaca bahwa Stepanich adalah simbol kekolotan, setelah ia menolak mahasiswa yang minta diluluskan setelah lima kali gagal melewati mata kuliah yang ia pegang. Kata Stepanich, "Masih untung baru lima kali saya tidak meluluskanmu, bukan seumur hidup." Pak Awal sendiri mengakui bahwa ia, kurang lebih, punya kesamaan dengan tokoh Stepanich. "Mungkin karena saya lama sekali tinggal di Rusia, jadi banyak kaget dengan keadaan anak-anak muda di sini," ujarnya sembari membandingkan bahwa anak muda di Rusia jauh lebih sering membaca daripada anak muda di Indonesia. 

Terkait dengan budaya membaca tersebut, sebagian besar peserta mengakui bahwa diskusi tersebut merupakan perkenalan pertama kali mereka dengan sastra Rusia. Beberapa diantaranya malah mengaku tidak biasa dengan pemaparan Chekhov yang terhitung berat dan panjang tersebut. Kata Susi Magdalena, istri Pak Awal, "Karya sastra Rusia umumnya memang berat dan panjang. Mungkin itu disebabkan oleh keadaan iklim di Rusia yang amat dingin jika sudah musimnya. Membuat orang menjadi tidak bisa pergi kemana-mana dan mungkin tinggal diam di rumah saja untuk menulis panjang lebar. Penyebab lainnya, bahasa Rusia memang bahasa yang sudah sangat lama. Mereka punya bermacam-macam istilah untuk sebuah ekspresi saja." 

Marina Garkusha, seorang mahasiswi Rusia yang kebetulan terlibat dengan diskusi, turut berpendapat, "Sejak bangku SMP, kami sudah terbiasa dengan sastra Rusia. Karya-karya sastrawan seperti Chekhov, Leo Tolstoy, Aleksandr Pushkin, atau Fyodor Dostoyevsky, adalah nyaris menjadi makanan sehari-hari kami. Suka tidak suka, paham tidak paham, kami diwajibkan untuk membacanya." Hal tersebut seolah berlawanan dengan budaya membaca di Indonesia yang tidak mengenalkan sastra Indonesia secara intensif sejak dini. Terbukti dari ketidaktahuan sebagian peserta yang datang ke Garasi10 pada karya-karya dari Pramoedya Ananta Toer, Putu Widjaja, atau Motinggo Busye. Meski diskusi tentang cerpen tersebut agak berlangsung satu arah (karena sebagian besar peserta gagal menamatkan seluruh halamannya), namun para peserta merasa diperkenalkan dengan dunia sastra Rusia yang begitu rumit dan seringkali gelap. Para peserta juga sepertinya merasa terngiang dengan pesan Pak Awal di penutup diskusi, "Yang terpenting adalah membaca, membaca, dan membaca."



Previous
Next Post »