What Does It Took for Good People Doing Evil Things?




Good people doing good things and evil people doing evil things. But what does it took for good people doing evil things?

Rabu 10 Desember 2014 serentak di berbagai kota diadakan acara pemutaran film “Senyap” (The Look of Silence), karya film  Joshua Oppenheimer yang merupakan lanjutan film sebelumnya yang berjudul “Jagal” (The Act of Killing). Dan salah satu lokasi pemutaran adalah Garasi 10.

Film “Jagal” menggulirkan penuturan pelaku eksekusi peristiwa 1965, sedangkan “Senyap” tuturannya berada di sisi keluarga korban. Walau sebenarnya baik pelaku dan pihak korban sebenarnya sama-sama “korban”. Harus diakui bahwa Joshua baru sampai tataran mengeksplorasi para narasumber di kalangan akar rumput, masyarakat bawah, yang bahkan juga film ini terkesan mengeksploitasi obyek juga. 

Ada kesamaan dalam momen-momen besar tragedi kemanusiaan di dunia berikut: dari tragedi Nazi, pembantaian 1965, dan kerusuhan 1998. Para pelaku dalam ketiga peristiwa tersebut ternyata bukanlah orang-orang jahat yang pada dasarnya kejam, sadis, pelaku kriminal. Mereka hanya orang-orang, masyarakat biasa, dan orang-orang yang sekedar patuh pada perintah. Lalu apa yang menggerakkan mereka menjadi seperti itu?

Adanya citra “musuh” yang terciptakan yang ditanamkan begitu rupa sebagai sosok ancaman yang dilekatkan atas nama ideologi yang dipropagandakan dan kebenaran agama. Musuh itu bukan kami, bukan kita, dan bahkan bukan manusia yang derajatnya setara. Sehingga pembinasaan para musuh itu layaknya kita membasmi cecunguk, serupa mahluk menjijikkan. Ada kepuasan saat kita menginjak-injak cecunguk, kecoa dan melihatnya terkapar dengan injakan kita. Ada kepuasan juga yang bersanding dengan rasa heroik dan kebanggaan tersendiri dari para pelaku eksekusi bahwa mereka telah menunaikan tugas atas nama kebenaran dan bahkan atas nama Tuhan. Hilang kemampuan berempati sebagaimana tidak mungkinnya kita berempati bagaimana rasanya cecunguk yang menjelang mati.

Adi tokoh dalam film yang merupakan adik bungsu dari salah satu korban pembantaian, berkeliling menemui para penjagal dan keluarganya untuk berdialog. Mengajak para pelaku pembantaian saat itu setidaknya untuk mau mendengar, selain Adi juga ada di situ untuk mendengar rekonstruksi peristiwa dan pergumulan rasa yang dialami para pelaku.

Mereka hanya orang-orang yang mencoba patuh dan berbuat sesuatu bagi ideologi, bagi negara, bagi agama. Orang-orang yang terkalahkan oleh Superego-nya. Dengan kenaivan pemikiran yang dimilikinya mencoba menjadi pahlawan bagi apa yang selayaknya mereka bela. Nilai-nilai moralitas tergusur oleh kemutlakan  ideologi dan kepatuhan yang buta pada otoritas  Sayangnya kini masih ada usaha agar kenaivan itu  terus diwariskan dan dipupuk begitu rupa dengan menutup celah diri dalam memiliki kemampuan untuk bisa “mendengar”.

~ ping



Previous
Next Post »