Jatuh Bangun Seorang Penerjemah Karya Sastra

Minggu, 8 Juni 2014

Jonjon Johana (paling kiri) dan Moh. Syafari Firdaus (tengah)

Jonjon Johana adalah ahli Bahasa Jepang yang terkenal salah satunya karena penerjemahan karya sastra Norwegian Wood dari Haruki Murakami. Pada hari Minggu kemarin, Pak Jonjon diundang untuk berbagi pengalaman tentang penerjemahan karya sastra di Garasi10. Bersama Moh. Syafari Firdaus, mereka berduet untuk diskusi tentang satu bidang yang sepertinya agak dilupakan oleh industri perbukuan. 

Pak Jonjon mula-mula memaparkan tentang mengapa ia dipercaya menerjemahkan Norwegian Wood, “Saya direkomendasi oleh kawan saya, Mikihiro Moriyama atau biasa dipanggil Miki-san, untuk menerjemahkan. Tadinya beliau lah yang diminta. Saya berpikir cukup lama sebelum mengiyakan. Setelah memutuskan oke, saya membutuhkan waktu satu tahun untuk menerjemahkan Norwegian Wood karena memang saya cukup sibuk juga mengerjakan hal yang lain.” Kemudian paparan berlanjut tentang apa saja kelebihan Murakami dibanding sastrawan Jepang yang lain seperti Eiji Yoshikawa dan Yukio Mishima, “Sebelum Murakami muncul, karya sastra di Jepang terbagi jadi dua kutub besar, karya sastra yang sangat nyeni dan karya sastra yang hiburan atau kitsch. Sejak ada Murakami, jurang diantara dua kutub itu menjadi menyempit. Murakami bisa menciptakan karya sastra yang disukai dua kelompok yang biasanya tidak bisa berdamai, yakni orang-orang serius dan orang-orang awam.”  

Setelah itu, sebelum Mas Daus mendapat giliran bicara, Pak Setiawan Sabana memberikan opini tambahan agar diskusi menjadi semakin menarik, “Pak Jonjon ini mengatakan bahwa ia tidak pernah membaca biografi pengarang sebelum menerjemahkan. Ia juga tidak pernah mengecek apakah hasil terjemahannya sesuai atau tidak. Kita bisa katakan itu sebagai sebuah kekurangan, tapi juga sekaligus kelebihan. Ia sudah tinggal di Jepang selama lebih dari sepuluh tahun dan direkomendasikan oleh seorang Miki-San yang cukup dikenal di dunia kebudayaan Jepang maupun Indonesia. Artinya, kemampuan penerjemahan Pak Jonjon ini sudah menubuh dalam dirinya. Ia sangat lekat dengan ke-Jepang-an sehingga baginya, tidak perlu repot-repot untuk membaca biografi pengarang dan mengecek kembali terjemahannya. Maka itu, kita perlu gali lebih dalam siapa Pak Jonjon ini sebenarnya karena meski sudah sedemikian hebat, ia seperti tidak mau menampilkan diri ke permukaan.” 

Memang iya, Pak Jonjon jarang sekali mau tampil sebagai pembicara. Ia sepertinya bersembunyi malu di tengah gemerlap popularitas novel Murakami. Pak Jonjon mengaku, meskipun novel Norwegian Wood ini sudah lima kali cetak ulang, honornya sudah selesai dibayarkan alias dikontrak putus. Ia tidak mendapat royalti tambahan dari penjualan demi penjualan Norwegian Wood. Hal tersebut mendapat kritikan tajam dari Mas Daus, “Iya memang pekerjaan penerjemah di kita masih memprihatinkan. Selain soal honor yang rendah, juga seharusnya nama penerjemah juga ditonjolkan. Mengapa? Ada banyak sekali buku-buku yang beredar di kita, yang tidak diterjemahkan secara layak padahal buku itu adalah buku yang bagus sekali. Para pembaca buku harus disosialisasikan untuk juga menilai buku tidak hanya dari judul, penulis, atau penerbit, melainkan juga penerjemahnya.” 

Diskusi yang berlangsung selama dua jam tersebut berlalu tanpa terasa. Sejumlah orang yang hadir ke Garasi10 kemarin, sekarang tahu siapa gerangan Jonjon Johana. Meski demikian, mereka tidak puas dari hanya diskusi singkat tersebut. Pak Jonjon tetap dipaksa untuk melayani pertanyaan demi pertanyaan hingga larut malam ketika diskusi sudah memasuki sesi informal. Ada dua hal yang barangkali bisa dijadikan “pesan moral” dari diskusi tentang penerjemahan karya sastra tersebut. Pertama, kata Pak Jonjon, kita bisa mengatakan sebuah kebudayaan adalah kebudayaan yang sophisticated, jika kosa kata yang dipunyainya banyak dan Jepang tentu saja termasuk ke dalamnya. Dua, penerjemahan yang baik adalah penerjemahan yang apa adanya sesuai yang tertulis, meski pengetahuan tentang kebudayaan dari negeri asal cerita itu dituliskan, tentu saja tidak kalah penting.

Pak Jonjon banyak ditanyai meskipun diskusi sudah selesai
Previous
Next Post »