Bincang-Bincang Penerjemahan Karya Sastra bersama Jonjon Johana dan Moh. Syafari Firdaus

Minggu, 8 Juni 2014
Jam 15.00 - 18.00
Garasi10, Jalan Rebana no. 10, Bandung
Gratis dan terbuka untuk umum

Norwegian Wood adalah novel yang ditulis oleh pengarang terkenal Jepang, Haruki Murakami, pada tahun 1987.  Norwegian Wood menjadi salah satu novelnya yang paling mendunia setelah terjual empat juta kopi di tahun rilisnya, diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia, dan difilmkan pada tahun 2010 oleh sutradara Prancis keturunan Vietnam, Tran Anh Hung. Norwegian Wood juga diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Jonjon Johana yang sebelumnya sudah pernah menerjemahkan novel lain dari Murakami yang berjudul Hear the Wind Sing (1979). Tidak kalah populer dari versi Jepangnya, Norwegian Wood dalam Bahasa Indonesia pun laku di pasaran dan terjual sebanyak dua juta kopi. 

Menarik kiranya jika kita sama-sama mendengarkan pengalaman Jonjon Johana dalam menerjemahkan karya legendaris tersebut disertai kenyataan bahwa ia pernah diundang sang penulis langsung ke Jepang. Tidak hanya itu, kita juga bisa sekaligus memperbincangkan penerjemahan karya sastra secara umum dengan narasumber lainnya, Moh. Syafari Firdaus. Kita akan bergelut dengan pertanyaan semacam ini: Bagaimana penerjemahan karya sastra yang dianggap baik? Apakah yang terpenting dari penerjemahan karya sastra adalah substansi atau keakuratan kata demi kata yang diterjemahkan? Apakah penting bagi seorang penerjemah untuk mempunyai wawasan sosio-kultural tentang negara asal si penulis, atau cukup sebatas kemampuan berbahasa saja?


Profil Narasumber

Jonjon Johana lahir tahun 1955 di Sumedang. Jonjon lulus dari Universitas Tokyo pada tahun 1983 dan menerima gelar M.Ed. dari Universitas Tokyo Gakugei pada tahun 1986. Sejak tahun 1989, Jonjon bekerja sebagai dosen di Fakultas Sastra Univeritas Padjadjaran (sekarang Fakultas Ilmu Budaya). Dia adalah penulis buku Analysis of Haiiro no Tsuki and The Contrastive of Japanese and Sundanese Phrase Structure dan penerjemah karya sastra dari Naoya Shiga yang berjudul Akanishi Kakita dan Noruwei no Mori (Norwegian Wood) karya Haruki Murakami.

Moh. Syafari Firdaus adalah seorang penulis lepas. Ketertarikan Firdaus adalah terutama pada sastra, teater, dan film. Puisi-puisinya antara lain terkumpul dalam antologi Pesan Ombak Padjadjaran (1993), Cermin Alam (1996), dan Malam 1000 Bulan (1996); sedangkan beberapa cerpennya tersimpan dalam antologi Improvisasi X (1995). Sejumlah naskah lakon dari Firdaus sempat dipentaskan oleh Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film (GSSTF) Unpad, dan beberapa kali juga disutradari langsung olehnya. Firdaus juga pernah bekerja di Common Ground Indonesia (2002―2004), sebuah lembaga non-pemerintah yang menangani soal transformasi konflik, sebagai salah seorang penulis naskah sandiwara radio Menteng Pangkalan (348 episode). Selain menjadi penulis lepas, kini Firdaus aktif di Komunitas Perfilman Intertekstual (KoPI), sebuah kelompok kerja yang bergerak di bidang audio-visual, terutama dalam pembuatan film dokumenter.
Previous
Next Post »