Bertahan dalam Solidaritas

Sebuah keluarga pada mulanya berhubungan baik dengan tetangganya yang menganut aliran tertentu. Ketika arus meniup perubahan pandangan ideologi dan suara teriakan yang begitu kencang untuk mengharamkan aliran keyakinan sang tetangga, keluarga itu tidak bisa menjalin hubungan seperti sebelumnya dengan sang tetangga. Keluarga itu juga tidak bisa berbuat banyak saat tetangganya itu dikucilkan warga dan akhirnya dibawa untuk dikarantina di tempat di mana warga yang mendapat cap sesat ditempatkan di satu tempat bersama di sebuah tempat penampungan.

Situasi di atas memang belum seekstrim situasi perang. Perang membuat hawa kematian terasa begitu dekat, manusia akhirnya mengikuti pilihan insting bertahannya dengan cara yang berbeda-beda. Pilihan-pilihan cara bertahan hidup yang menihilkan, sebab apa pun pilihan bertahannya, tampak berujung di muara yang sama. Benarkah? Ada pilihan cara bertahan atas nama idealisme besar sebagai pegangan kebenarannya, di lingkup kecil ada yang atas nama melindungi keluarga dan orang-orang terdekat, ada yang bersikap pragmatis yang demi kebertahanan hidupnya menjadi pengkhianat bagi orang-orang yang kesehariannya dikenal, tetangganya sendiri dan dalam lingkup lebih luas negaranya sendiri.

Adakah ruang refleksi di sana ketika daya dan upaya yang ada hanyalah demi untuk bisa bertahan melewati hari demi hari? Ruang refleksi tetaplah ada sebab itu tidak dapat begitu saja tergantikan oleh kebutuhan praksis semata. Ruang refleksi menjaga agar sisi kemanusiaan manusia tetap terjaga dan terpelihara. Maka Bagi Rabbi E. Davidovic, saat ia di Auschwittz, ketika penderitaan berada dihadapan manusia maka satu-satunya cara untuk menghadapinya adalah dengan memerangi penderitaan itu. Ketika pilihan bertahan juga yang tersisa maka bertahanlah dalam solidaritas dengan sesama yang menderita.

Film "The Ascent" (1977) yang disutradari Larisa Shepitko bercerita tentang dua tokoh utama bernama Sotnikov dan Rybak sebagai gerilyawan Soviet yang bermula mendapat tugas dari pasukannya untuk mencari persediaaan makanan di salah satu desa di Belarusia. Mereka tertangkap di sebuah rumah yang didiami Demchikha seorang ibu dengan ketiga anaknya yang masih kecil. Malam sebelumnya Sotnikov dan Rybak mendapatkan seekor ternak untuk dijadikan makanan pasukan dari seorang kepala kampung yang mereka temui.




Sotnikov, Rybak, Demchikha, kepala kampung dan seorang gadis kecil yang tidak mau berkhianat; ditangkap dan diinterogasi di dalam kamp tentara Jerman. Portnov seorang warga Belarusia yang menjadi anggota satuan polisi bentukan Jerman menjadi interogator. Kecuali Rybak, keempat orang yang ditangkap mengenal Portnov sebelum situasi perang menjadikannya seorang antek Jerman. Bahkan gadis kecil yang ditangkap mengatakan bahwa Portnov dahulu adalah guru paduan suara yang diikutinya.

Di pagi hari setelah kelimanya dikurung dalam ruangan gelap bawah tanah, mereka dipersiapkan untuk menjalani eksekusi hukuman gantung. Sotnikov memberikan pernyataan agar hanya dialah yang layak dihukum gantung sebab ketiga orang yang lainnya hanyalah warga sipil dan kepala kampung serta Demchikha ditangkap karena ketidaksengajaan "pertemuan" dengannya. Rybak memohon untuk tidak digantung setelah ia mengajukan penawaran untuk bergabung dengan polisi Belarusia bentukan Jerman dan permohonan itu akhirnya dikabulkan.

Setelah eksekusi berlangsung, Rybak diliputi perasaan bersalah yang begitu mengguncangnya. Dengan ikat pinggang yang berada di tangannya, ia mencoba bunuh diri tetapi gagal. Beberapa kali Rybak memiliki bayangan untuk melarikan diri dari pasukan Jerman dan kamp, tetapi ia tidak memiliki keberanian untuk itu.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------




Film "The Ascent" (1977) menjadi materi apresiasi dan diskusi di Garasi 10 pada tanggal 11 mei 2014. Sebelum film diputar, Pak Awal Uzhara memberikan pengantar yang sangat informatif mengenai situasi latar belakang pecahnya PD II utamanya dari sisi Jerman dan Soviet pada saat itu. Dari kisah sejarah di tahun 1939 di mana Jerman dengan taktik "Blitzkrieg" (perang kilat) melanggar semua perbatasan Eropa bermula dengan menaklukan Polandia. Dengan taktik Blitzkrieg itu pula pada 21 Juni 1941 Jerman dengan tentara Nazinya melanggar perjanjian dengan Soviet untuk tidak saling menyerang. Belarusia sendiri yang menjadi latar cerita film Ascent berada di perbatasan Polandia dan Soviet.

9 Mei bagi rakyat Rusia merupakan hari bersejarah di mana pada tanggal itu di tahun 1945 Jerman menyerah tanpa syarat. Setiap tahun di Rusia pada tanggal 9 Mei dirayakan secara patriotik dengan parade militer besar-besaran yang dipusatkan di Lapangan Merah kota Moskow. Sejak  Vladimir Putin menjabat presiden setiap tahun di tanggal 9 Mei setiap warga Rusia yang dilahirkan sebelum tahun 1931 mendapat kiriman surat ucapan penghargaan dari negara. Alasannya karena setiap mereka yang dilahirkan sebelum tahun 1931 mengalami masa Perang Dunia II yang begitu kelam. Dan Pak Awal Uzhara merupakan salah satu warga yang mendapatkan ucapan tersebut. Pak Awal berujar kemudian,"Saya memang tidak terlibat langsung dengan Perang Dunia II di Eropa, tetapi saya terlibat langsung dengan efek Perang Dunia II di tanah air saya Indonesia saat itu." 

Film ini memaparkan realita pergulatan dan getir kehidupan manusia begitu gamblang. Selalu terngiang di benak, perkataan Pak Awal mengenai kriteria sebuah film yang bagus. Menurut Pak Awal film yang bagus adalah film yang menawarkan pesan pada apresiatornya untuk berani hidup. Ketika kita terus berani untuk terus membuka mata menyaksikan adegan-adegan dalam film, setidaknya kita berani mencerap rasa realita yang dituturkan film.

                                                                                                                                          ~ Ping





Profil Narasumber
Setelah sejak tahun 1959 tinggal di Rusia, Pak Awal Uzhara akhirnya kembali ke Indonesia di tahun 2012. Lima puluh tahun lebih menetap, beliau pernah bersekolah dan kemudian menjadi asisten Profesor Sergei Gerasimov di Institut Sinematografi Gerasimov di Moskow. Institut sinematografi tertua di dunia tersebut (berdiri tahun 1919) telah melahirkan sutradara legendaris peletak dasar teknik-teknik penyutradaraan yang masih lestari digunakan hingga hari ini seperti Sergei Eisenstein, Alexey Batalov, Vsevolod Pudovkin, hingga Andrei Tarkovsky.


Previous
Next Post »