Heidegger dan Hermeneutika

Selasa, 11 Maret 2014

Tidak terasa, kelas filsafat Heidegger memasuki pertemuannya yang ketujuh. Pada pertemuan kali ini, sang tutor Rosihan Fahmi memilih untuk membicarakan Heidegger dari sudut pandang yang lebih metodologis yakni hermeneutika. Dengan menawarkan hermeneutika versinya sendiri, Heidegger tidak hanya mewacanakan sebuah gagasan, tapi sebuah cara yang cukup sistematis agar gagasan tersebut dapat dicapai.


Pertama-tama, mau tidak mau, Kang Ami harus membahas terlebih dahulu mengenai guru dari Heidegger yakni Edmund Husserl. Dari Husserl, Heidegger belajar tentang sebuah cara memandang dunia yang tidak lagi bersumber pada "aku yang berpikir"-nya Descartes. Kata Husserl, kita harus memusatkan diri pada fenomena dan membiarkan fenomena tersebut bicara tentang dirinya sendiri pada kita. Meski demikian, Husserl tetap menyebut fenomenologi sebagai ilmu pengetahuan yang ketat (rigorous science) karena untuk mencapai "kebenaran", mutlak diperlukan tahapan-tahapan yang ketat seperti misalnya proses menempatkan fenomena dalam kurung (epoche) sebagai bentuk penundaan dari asumsi-asumsi kita. Misalnya, sebelum memandang suatu fenomena, terlebih dahulu segala teori, prasangka, maupun presuposisi dalam kepala kita dibuang terlebih dahulu sehingga fenomena tersebut menjadi hadir secara murni dan jujur. "Apakah kalian yakin, bahwa daun itu pasti berwarna hijau? Bisa jadi itu adalah semacam asumsi saja. Jika diamati secara lebih teliti, pasti yang muncul tidak hanya warna hijau semata," kata Kang Ami.

Heidegger kemudian menunjukkan perbedaannya dengan sang guru. Ia menolak fenomenologi masuk dalam satu ranah saintifik yang terlalu ketat. Heidegger lebih senang menyebut pemikirannya sebagai bagian dari hermeneutika. Apa itu hermeneutika? Awalnya, hermeneutika digunakan hanya untuk menelaah serta menafsir kitab suci saja. Setelah itu, hermeneutika dikembangkan sebagai metode untuk menafsir segala bentuk teks secara umum. Heidegger melihatnya secara berbeda, ia merasa bahwa segala kegiatan dasein adalah menafsir. Sehingga hermeneutika adalah juga sebentuk penafsiran terhadap segala aspek kehidupan dan fenomena-fenomena di dalamnya (Biasanya, pemikiran Heidegger tersebut, kata Kang Ami, sering disebut sebagai hermeneutika fenomenologi). Namun lebih jauh, Heidegger terus mengingatkan bahwa manusia bukanlah pusat dari kesadaran akan dunia. Sebetulnya kesadaran manusia juga turut dibentuk oleh dunia. Bukan "Aku berpikir maka aku ada", tapi "Aku ada maka aku berpikir". Sebelum manusia berpikir, ia sudah berada dan dibentuk oleh dunia di sekitarnya.

Penolakan Heidegger terhadap fenomenologi Husserl membuat ia mempunyai metodenya sendiri dalam soal hermeneutika. Ia menilai bahwa pemahaman manusia akan Ada hanya bisa dilakukan dengan terus menggaulinya suatu fenomena secara intensif. Namun intensifnya Heidegger dengan Husserl tentu berbeda. Husserl mengartikulasikan intensi pergulatan manusia dengan fenomena ke dalam suatu pengetahuan yang objektif-ilmiah-ketat. Namun Heidegger mengartikulasikan intensi pergulatan tersebut ke dalam hal-hal yang lebih abstrak seperti seni. Ia hendak mengatakan bahwa seni -terutama puisi- lebih punya keterkaitan langsung dengan Ada. "Untuk menggambarkan pergulatan kita dengan keindahan kupu-kupu, tentu saja alangkah lebih baik jika kita gambarkan dalam puisi, daripada dalam karya tulis ilmiah," ujar Kang Ami seolah menafsirkan kritik Heidegger terhadap Husserl.

Kelas pertemuan ketujuh tadi membuat kelas filsafat Heidegger akan berakhir di pertemuan berikutnya. Di pertemuan kedelapan, akan ada penutupan yang melibatkan narasumber bernama Gito Upoyo. Pemikiran Heidegger yang agak menyentuh dunia ketimuran rasanya lebih baik jika ditutup dengan suatu pernyataan dari seorang praktisi yang memang sering terlibat dengan pemikiran-pemikiran timur. Kelas filsafat Heidegger akan ditutup dengan sebuah topik berjudul "Aura Benda-Benda".


Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments
Imanov
AUTHOR
14 Maret 2014 02.46 delete

harus bisa hadir ini mah bang syarif.. :D

Reply
avatar