Aura Benda-Benda

Selasa, 18 Maret 2014

Kelas Heidegger akhirnya mencapai pertemuan terakhir. Seperti biasa, setiap kelas pamungkas, tidak ada lagi paparan materi yang terlampau padat. Yang ada adalah ngobrol santai, sedikit evaluasi, pembagian sertifikat, dan pengumpulan tulisan renungan. Atas dasar itu pula, diundang Gito Upoyo, seorang praktisi tradisi ketimuran untuk berbagi tentang "Aura Benda-Benda".

Mengapa ditutup dengan menyoal aura benda-benda? Meski agak berbau mistis, tapi sebenarnya ada benang merah antara topik tersebut dengan pemikiran Heidegger. Pertama, Heidegger mempertimbangkan cara untuk menghidupkan lagi mistis keseharian setelah mati oleh teknologi, modernitas, dan "kematian Tuhan". Ia merasa bahwa keseluruhan degradasi kemistisan itu adalah akibat kegagalan manusia dalam memahami Ada. Manusia sudah semestinya berhenti berpikir dengan cara "aku berpikir"-nya Descartes dan mengembalikan segala sesuatunya pada fenomena keseharian. Heidegger juga mengadopsi pemikiran Edmund Husserl tentang fenomenologi. Katanya, kita harus membiarkan sesuatu berbicara tentang dirinya sendiri. Kita harus membuang semua asumsi dan presuposisi dalam kepala agar suatu fenomena dapat tersibak segala kebersembunyiannya.

Dari sudut pandang Timur, sesungguhnya mengembalikan segala sesuatu pada hakikat sesuatu itu sendiri bukanlah pemikiran yang baru. Timur mengajarkan hidup yang harmonis dan selaras. Pikiran, jiwa, tubuh, dan ruh bukan sesuatu yang secara tegas. "Timur mengajarkan bahwa segala sesuatu harus seimbang. Menitikberatkan segala sesuatu pada pikiran hanya akan menjadikan kehidupan manusia ini timpang," ujar Pak Gito seolah mau menyindir gaya berpikir Barat yang seringkali punya sikap tidak percaya terhadap keseimbangan ini. Malah seringkali hal-hal yang oleh Kant disebut noumena (di luar batas pengetahuan) seperti jiwa, ruh, bahkan pikiran itu sendiri, bukanlah sesuatu yang harus dipedulikan. Artinya, dalam terminologi yang lain, Heidegger memang mengubah peta pemikiran Barat untuk juga lebih seimbang. Manusia tidak lagi harus berpusat pada pikirannya saja, melainkan mencoba menghayati Ada di sekelilingnya.

Pak Gito mengawali pemaparannya dengan menyinggung soal prana yang menjadi pusat segala sesuatu dari cara berpikir Timur kuno. "Prana ini adalah sumber energi yang harus dikelola agar manusia bisa selaras dengan alam," ujar Pak Gito. "Apakah Barat juga pada awalnya mempercayai hal-hal semacam prana ini?" tanya Ping. "Dulu mungkin Timur dan Barat juga tidak dibedakan! Saya yakin bahwa perbedaan ini banyak dimunculkan setelah kolonialisme sebagai bentuk diskriminasi," ujar Kang Ami mencoba menjawab sebelum Pak Gito menjawab. Setelah menjelaskan panjang lebar, Pak Gito kemudian mengajak para peserta untuk bermeditasi dengan medium mangkuk tibetan.

Hubungan Heidegger dengan dunia Timur memang cukup kental. Heidegger, dalam suatu literatur, mengaku bahwa filsafatnya juga cukup terpengaruh oleh The Book of Tea. The Book of Tea sendiri adalah suatu teks kebijaksanaan yang diklaim muncul dari kebudayaan di Asia Timur. Selain itu juga, Bambang Q-Anees, seorang dosen filsafat pernah mengatakan bahwa belajar filsafat saja tidak cukup. Seseorang harus juga menjadikan filsafat itu sebagai falsafah atau kebijaksanaan hidup. Dunia Timur memang belum lama ini diakui oleh Barat sebagai filsafat setelah lama dipercaya bahwa ketimuran hanya cocok dikatakan sebagai agama yang harus diimani saja.

Kelas Heidegger pun usai. Sertifikat kelulusan dibagikan sebagai tanda bahwa kelas sudah berakhir.

Previous
Next Post »