Bahasa sebagai Rumah Ada

Selasa, 18 Februari 2014

Setelah dua kali pertemuan membahas karya Heidegger yang berjudul Sein und Zeit dan dua kali pertemuan membahas hubungan Heidegger dan dunia politik, kali ini Kelas Filsafat Heidegger membahas tentang pandangan sang filsuf mengenai manusia. Kang Ami menyebutnya sebagai Pandangan Eksistensialisme dari Heidegger. 

Tentang manusia, sekali lagi Heidegger menyebut tentang keterlemparan ia yang terjadi begitu saja. Dari keterlemparannya itu, yang hakiki hanyalah kenyataan bahwa manusia selalu bergerak menuju kematian. Sebuah kenyataan yang tak terbantahkan itu membuat manusia mengalami angst, yakni kecemasan eksistensial yang selalu berusaha dihalau dengan berbagai cara. Salah satu yang menurut Heidegger paling jujur dalam menerima angst adalah dengan seni. Anehnya, ia menitikberatkan pada satu jenis seni yakni puisi. Tentang kenapa puisi ini dianggap sebagai cara "terbaik" dalam memahami kecemasan terdalam manusia, adalah pembahasan yang kemudian berkembang menjadi diskusi hangat di pertemuan Selasa kemarin.


Namun sebelum memasuki pembahasan mengenai puisi tersebut, Ping terlebih dahulu bertanya soal mengapa Heidegger pernah menolak disebut eksistensialisme? "Bukankah seluruh pemikirannya terdengar sangat eksistensialistik?" tanya Ping. Memang iya, Heidegger sempat menuduh bahwa Sartre, yang menuliskan tentang dirinya di bukunya yang berjudul Eksistensialisme adalah Humanisme, tidak mengerti apa-apa tentang pemikirannya. Dalam buku tersebut, Sartre menggolongkan dirinya sendiri dan Heidegger sebagai seorang eksistensialis ateis yang berbeda dengan kelompok eksistensialis yang lain yaitu eksistensialis religius yang diwakili oleh Karl Jaspers dan Gabriel Marcel. Heidegger menolak disebut eksistensialis, karena mungkin filsafat eksistensialisme masih menitikberatkan pada individu sebagai pusat. Sedangkan Heidegger justru menolak ke-aku-an dan mengembalikan segala Ada pada fenomena itu sendiri. Ia menolak filsafat Barat yang sudah kadung dikuasai oleh cara pandang Cartesian yang berpusat pada aku yang berpikir. Demikian kemungkinan mengapa Heidegger menolak disebut sebagai seorang eksistensialis. 

Kemudian kita akan kembali ke persoalan puisi tadi. Heidegger berkata, "Bahasa adalah rumah dari Ada". Apa gerangan artinya? Liky mencoba berpendapat, "Mungkin memang iya, karena tidak ada apapun di luar bahasa. Ada karena dikatakan, dikatakan karena ada." Bahasa dikatakan sebagai suatu upaya manusia untuk menangkap fenomena, walaupun kemudian fenomena itu sendiri tidak pernah sanggup terwakili secara presisi oleh bahasa. Tapi bahasa adalah suatu keniscayaan. Kata Kape, salah seorang peserta, "Kita pasti akan membahasakan segala sesuatunya," Kemudian bagaimana dengan puisi? Puisi ia bisa berkelit, melampaui definisi-definisi yang sudah ada, dan menemukan suatu posisi yang barangkali "lebih dekat" dengan Ada. Lewat puisi, kadang kita tidak mengerti arti ataupun makna yang dikandungnya, namun kita merasakan sesuatu yang sangat asing sekaligus akrab dengan diri kita, suatu perasaan kedekatan dengan Yang Hakiki.

Pembicaraan tentang hubungan bahasa, puisi, dan Ada ini sama sekali tidak bisa diselesaikan dalam pertemuan yang berlangsung hanya dua jam. Agaknya, jikapun pertemuan tersebut diteruskan hingga berbelas ataupun berpuluh jam, mungkin tidak akan ada suatu titik temu yang memuaskan. Bagaimana tidak? Kita semua membicarakan hakikat bahasa tapi dengan tetap menggunakan bahasa. Satu-satunya jalan adalah menyadari bahwa bahasa merupakan suatu cara "terbaik" dalam mengartikulasikan Ada, sekaligus juga lewat puisi, kita bisa lebih mendekati Sang Ada dan menghayati kecemasan eksistensial kita sebagai suatu fakta yang tidak terelakkan. 


Previous
Next Post »