Sosok Ibu diantara Esai dan Puisi

Minggu, 5 Januari 2014

Hari Minggu itu adalah hari pertama Garasi10 beraktivitas di tahun 2014. Berdasarkan ide Rudy Rinaldi, acara yang dipilih adalah peluncuran buku berjudul Mom: The First God that I Knew. Buku tersebut tadinya hanya terbatas sebagai hadiah dari Rudy kepada ibunya yang berulangtahun di bulan Desember. Isi dari buku itu adalah kompilasi tulisan dari kawan-kawan Rudy yang berisi renungan tentang ibu. Namun Rudy kemudian ingin memublikasikan bukunya secara luas. Ia melihat bahwa tulisan-tulisan yang terkandung di dalamnya mungkin berharga jika diketahui orang lebih banyak.

Acara tersebut diawali dengan pembacaan beberapa tulisan yang terkandung dalam buku secara bergilir. Arden membacakan karya dari Mismayani Tahir yang berjudul Ibu, Pergilah dengan Tenang. Tulisan tersebut mengisahkan bagaimana perjuangan penulis dalam menjalani hidup tanpa sosok ibu kandung yang sudah berpulang sejak dirinya masih kecil. Kemudian berturut-turut Ardi membacakan karya dari Bilawa Ade Respati berjudul Astral, Rudy membacakan karya Lucky Ramadhan berjudul Pulang, Ping membacakan karya Driyan Natha berjudul Assalamualaikum, Ma!, dan Lucky membacakan karya Rio Rahadian Tuasikal berjudul Obat

Di sela-sela pembacaan, sering terselip obrolan-obrolan singkat. Termasuk pertanyaan yang muncul dari Rudy, "Mungkinkah membicarakan ibu tanpa menggunakan bahasa yang puitis?" Arden menjawab, "Sepertinya hampir tidak mungkin. Kita mau tidak mau harus menggunakan bahasa kiasan atau metaforis untuk bicara tentang ibu. Bahasa ilmiah, objektif, dan akademis agaknya tidak akan sanggup menggambarkan secara persis bagaimana perasaan kita akan ibu." Seorang ibu juga, dalam diskusi berikutnya, sepertinya tidak punya keinginan kuat untuk tercatat dalam arus sejarah. Bagi mereka, memberikan kasih sayang adalah lebih dari cukup. Kita tidak pernah sungguh-sungguh mengenal siapa ibu dari Jean Paul Sartre, Che Guevara, Mahatma Gandhi, Abraham Lincoln, Siddharta Gautama, dan sebagainya. Bagi seorang ibu, agaknya ditulis dalam sejarah adalah bukan bagian dari cita-cita hidupnya. 

Renungan tentang ibu ini menjadi kurang lengkap karena tidak ada satupun dari peserta yang sudah berperan sebagai seorang ibu. Maka itu diundang Ibu Elly dari Garasi10 untuk berbicara panjang lebar tentang pengalamannya menjadi seorang ibu. Ibu Elly menceritakan bagaimana kekhawatiran seorang ibu pada anaknya tidak pernah selesai sejak dari kandungan hingga dewasa. "Mungkin hanya jika sang ibu berakhir hidupnya, baru berakhir juga kekhawatirannya." Ia mengungkapkan satu kalimat yang membuat beberapa diantara peserta menitikkan air mata, "Seorang ibu mampu mengurusi tujuh orang anak. Tapi tujuh orang anak belum tentu mampu mengurusi seorang ibu." Mungkin sudah hukum alam, lanjutnya, bahwa ibu menyayangi anak sepenuh hati, tapi anak tidak akan bisa menyayangi ibunya dengan porsi yang sama. 

Kata-kata dari Ibu Elly tersebut membuat para peserta terdiam untuk beberapa saat. Ping kemudian memecah keheningan dengan berkata, "Setiap kita ada perasaan tidak suka pada seseorang, ingat bahwa mereka juga adalah anak dari ibunya. Seorang ibu, dimanapun, pasti merupakan sosok manusia yang hebat." Buku Mom: The First God that I Knew pun resmi diluncurkan sore itu dengan harapan sederhana dari para peserta, "Semoga kita semua menjadi orang-orang yang selalu sayang pada ibu." 
Previous
Next Post »