HEIDEGGER DAN SEIN UND ZEIT*)

Sein und Zeit, atau diterjemahkan ke dalam Bahasa dengan Ada dan Waktu, adalah buku yang ditulis oleh Heidegger pada tahun 1927 dan dianggap sebagai salah satu buku yang berpengaruh dalam peta pemikiran filsafat Barat. Dalam tulisan ini akan dipaparkan secara singkat bagaimana isi dari buku yang tebalnya sekitar 250 halaman tersebut. Isi tersebut, tentu saja, sudah jauh lebih disederhanakan dan mungkin saja tidak tepat benar dengan apa yang dimaksud oleh Heidegger. Bagaimana tidak, kita membutuhkan napas panjang untuk membaca Ada dan Waktu selain karena filsafatnya yang rumit, juga karena istilah-istilah baru yang dimunculkan oleh ia sendiri sebagai bentuk “protes” terhadap term-term lama yang tidak sesuai untuk menggambarkan dunia kehidupan manusia. Jean Paul Sartre, seorang filsuf terkemuka asal Prancis, bahkan dikritik oleh Heidegger sebagai filsuf yang gagal dalam menerjemahkan apa yang ia pikirkan.

Ada
Heidegger dengan tegas mempertanyakan kembali hakikat dari Ada, setelah sekian lama para filsuf dengan enteng terus menyebut-nyebutnya. Kata Heidegger, kita, sesungguhnya, sudah lama kehilangan kontak dengan Ada. Segala asumsi, presuposisi, dan segala rasionalitas yang ditawarkan oleh kemodernan, membuat kita tidak lagi bisa merasakan Ada. Keyakinan kita akan langit pasti biru, daun pasti hijau, besok pasti ada, kedatangan kereta bawah tanah pasti tepat waktu, hujan pasti turun, dan kepastian-kepastian lainnya, membuat kita sesungguhnya tidak tahu lagi apa itu Ada. Apakah langit pasti biru? Iya, menurut asumsi yang berlandaskan pengalaman beberapa kali melihat langit. Tapi coba dongakkan kepalamu sekarang dan melihat sungguh-sungguh langit dengan membuang presuposisi dan bersikap seolah-olah menurut Heidegger “seperti melihat dunia untuk pertama kalinya”. Akankah kamu temukan biru? Atau kamu akan menemukan warna-warna lain yang tidak terduga? Kita punya banyak kemungkinan soal ini. Bisa jadi, setiap orang akan menemukan warna-warna lainnya. Tapi setidaknya poin Heidegger cukup jelas, untuk menemukan Ada, kamu harus bersikap kagum terhadap dunia –hal yang dibuang jauh-jauh oleh modernitas yang menawarkan berbagai kepastian-. Frans Budi Hardiman menyebutnya sebagai sikap “mistik keseharian”.

Dasein
Heidegger, dalam buku Ada dan Waktu, juga membahas tentang manusia. Namun ia tidak menyebut manusia dengan sebutan biasa. Heidegger menyebutnya dengan Dasein atau Ada-di-Sana. Ia menyebut manusia sebagai entitas yang sanggup menyadari Ada tapi juga sekaligus sanggup menyadari keberadaan dirinya sendiri. Dalam Ada dan Waktu, Heidegger membagi manusia ke dalam dua bagian yaitu mereka yang otentik dan mereka yang tidak otentik. Yang otentik adalah mereka, yang senantiasa berada dalam situasi angst (kecemasan eksistensial) dan menyadari bahwa dirinya tengah berjalan menuju kematian. Sedangkan yang tidak otentik adalah yang sebaliknya, dalam hati kecilnya mereka sadar bahwa ada kecemasan akan eksistensi dan kematian, namun lebih memilih untuk bersikap acuh dan tenggelam dalam keseharian.

Waktu

Heidegger melihat bahwa waktu telah dikotakkan oleh Dasein, sehingga ia sendiri menjadi kesulitan untuk memahami Ada. Waktu ada, tapi ia ditempatkan dalam satuan-satuan kecil yang kemudian membuat Dasein berada dalam perangkap keseharian. Padahal seharusnya, kata Heidegger, kitalah yang menjinakkan waktu dan bukan sebaliknya. Heidegger, terkait dengan situasi Dasein yang dipaparkan di atas, melihat bahwa pengotakkan waktu akan menjauhkan Dasein dari otentisitas. Dasein akan lebih otentik jika kemudian waktu tidak dipahami sebagai satuan-satuan yang ada dalam jam atau kalender, melainkan melepaskan semuanya dan menjadikan kematian sebagai satu-satunya penanda yang riil. Dalam terminologi yang lain, mungkin tepat dikatakan bahwa, “Waktu hanya ada bagi orang-orang yang sibuk.”

Syarif Maulana

*) Ditulis sebagai suplemen untuk pertemuan pertama Kelas Garasi: Menembus Rimba Pemikiran Heidegger.

Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments
Imanov
AUTHOR
3 Februari 2014 07.18 delete

ya.. saat melihat orang berlalu lallang mengejar target dari kotak waktu, imanov cuma mengatakan "waktu asa cepat berlalu"... mau ikut kelasnya bang? hhee... :)

Reply
avatar