Menelaah Makna Kertas di The Bandung Paper Art Show

Setelah pembukaan yang dihadiri sekitar delapan puluh orang pada tanggal 1 November, pameran The Bandung Paper Art Show melanjutkan kegiatannya dengan seminar. Seminar yang dimulai pukul sembilan pagi tersebut dibuka dengan paparan Setiawan Sabana sebagai keynote speaker. Ia memaparkan kembali karya-karya dari 24 seniman yang dipamerkan di The Bandung Paper Art Show untuk kemudian dikaji tentang bagaimana para seniman tersebut menuangkan idenya lewat kertas. "Isa Perkasa, misalnya, ia menggunakan abu kertas dalam karyanya. Abu kertas itu berasal dari kertas yang dibakar dalam sebuah performance art yang mungkin hadirin sama-sama mengetahuinya jika hadir di pembukaan," kata Setiawan Sabana. 

Kemudian acara dilanjutkan dengan menghadirkan tiga pembicara yaitu Teddy Permadi, Armein G. Langi, dan A. Rikrik Kusmara yang meninjau kertas dari tiga sudut pandang yang berbeda. Teddy memaknai kertas dari sudut pandang kesejarahan dengan membahas daluang sebagai pra-kertas Sundawi. Armein melihatnya secara lebih futuristik dengan mencoba me-reposisi kertas dalam konteks kemajuan teknologi. Sedangkan Rikrik memaparkan pemanfaatan kertas dalam seni rupa yang seringkali dianggap "kelas dua" karena sifatnya yang rapuh. Willy Himawan kemudian ditunjuk untuk menjadi moderator dalam seminar yang berlangsung selama dua jam tersebut. 

Seminar Nasional "Perspektif Kertas: Media, Seni, dan Lingkungan Hidup"
Teddy memulai pemaparannya dengan mempertanyakan judul makalahnya sendiri yakni Daluang: Pra Kertas Sundawi. "Tidak adil rasanya jika kertas ini dikatakan hanya milik satu bangsa saja yakni Sunda. Kertas semacam ini ternyata universal, ada di hampir semua kebudayaan kuno," terangnya. Meski demikian, ia mengatakan bahwa setelah melalui berbagai penelitian, istilah "daluang" itu memang dikenal hanya di Tatar Sunda -walaupun esensinya sebenarnya sudah dimanfaatkan di daratan Cina pada sekitar abad ke-6 SM dengan istilah tapa atau kapa-. Lantas, apa yang dimaksud dengan "pra-kertas"? Teddy memaparkan bahwa pra-kertas mengacu pada kertas yang teknik pembuatannya belum melalui bubur kertas atau pulp. Pra-kertas ini dibuat dengan cara ditumbuk dan berasal dari kulit kayu pohon fu atau Papermulberry. Teddy juga menambahkan bahwa keberadaan pra-kertas ini tidak dapat dipisahkan dari tradisi Hindu, Buddha, bahkan Islam. "Pra-kertas adalah elemen penting dalam ritual maupun perekaman data," ujarnya sambil menunjukkan kitab suci yang menggunakan pra-kertas.

Kemudian Armein mendapat giliran bicara selanjutnya dengan memaparkan fungsi-fungsi kertas dalam keseharian kita mulai dari uang, sertifikat, hingga surat cinta. "Kertas memberi makan untuk mental kita," ujarnya. Kertas juga dalam banyak hal masih lebih dipercaya dibanding digital. "Buktinya, kontrak itu harus diatas kertas. Tidak ada kontrak digital yang dipercaya," tambah Armein. "Kertas adalah bahan yang amat "manusiawi", ia seperti ekstensi dari manusia itu sendiri, maka itu kertas akan selalu dipakai untuk waktu yang lama," jelasnya sembari menambahkan bahwa ancaman besar bagi kertas itu adalah silikon yang makin lama juga semakin "manusiawi". Jika komputer sudah tertanam dalam kepala manusia sehingga data-data tidak perlu lagi di-print-out, barangkali itulah, kata Armein, momen berakhirnya kertas.

Rikrik kemudian mendapat giliran berikutnya untuk memaparkan posisi kertas dalam seni rupa. Seperti yang sudah ditulis sebelumnya, kertas dalam dunia seni rupa punya asosiasi sebagai medium "kelas dua" karena sifatnya yang rapuh dan mudah rusak. Berbeda dengan misalnya, tentu saja, kanvas. Namun Rikrik memaparkan bagaimana peran Setiawan yang sangat penting dalam meninggikan derajat kertas dengan cara memberikan sentuhan kreatif dan estetik pada kertas. "Biasanya disinilah seniman berperan penting, yaitu ketika ia mampu memaknai sesuatu dengan cara yang sama sekali unik dan berbeda dari cara-cara yang dilakukan oleh sains, agama ataupun filsafat," tambahnya.

Pemaparan dari ketiga pembicara yang berlangsung selama sembilan puluh menit tersebut dilanjut dengan tanya jawab singkat selama sekitar tiga puluh menit dengan para peserta seminar. Peserta kemudian diberi makan siang ketika seminar berakhir pukul setengah satu. Meski demikian, acara hari itu belum berakhir. Masih ada artist talk dengan Haryadi Suadi, Sujana Suklu, dan Ismet Zainal Effendi setelah break selesai.

Artist talk

Previous
Next Post »