Kelas Sejarah Seni Rupa Indonesia: Globalisasi dan Kekontemporeran

Pada tahun 1970-an, terdapat suatu kecenderungan dalam dunia senirupa Indonesia untuk melampaui batas-batas. Heru bercerita mulai dari Semsar Siahaan yang pernah membakar karya Sunaryo dan menjadikannya sesajen sebagai bentuk karya seni gaya baru yang katanya lebih "merakyat". Semsar waktu itu memang dikeluarkan dari kampus, namun apa yang ia lakukan mencetuskan suatu wacana cutting-edge atau avant-garde. "Ada suatu pertanyaan akan batas-batas antara seni dan bukan seni," begitu ungkap Heru membicarakan apa yang dilakukan Semsar secara filosofis. 

Heru kemudian membahas tentang performance art sebagai bagian dari seni kontemporer. Sebelum Heru melanjutkan bicaranya, Yunita bertanya, "Apa perbedaan performance art dengan happening art?" Heru menjawab tidak ada, "Itu hanya beda istilah saja seperti semiotika dan semiologi." Heru mengatakan performance art sebagai seni yang "mengalami peristiwa". Seni tidak lagi sesuatu yang berjarak dan dibingkai, melainkan dihadirkan langsung dan dialami. Yunita kembali bertanya, "Apakah performance art itu harus terencana atau tidak?" Heru menjawab, "Ya dan tidak."

Memang ada semacam definisi bahwa performance art itu sebaiknya unscripted untuk membedakan dirinya dengan teater. Tapi kemudian Heru menceritakan tentang seorang seniman Singapura bernama Tang Dang Wu yang pernah membuat karya yang berjudul Don't Give Money to The Arts. Karya fotografi tersebut berisi peristiwa salaman antara Wu dengan Perdana Menteri Singapura yang diabadikan lewat jepretan para wartawan secara tidak sengaja. Yang menarik, Wu mengenakan jaket bertuliskan Don't Give Money to The Arts. Artinya, peristiwa tersebut tentu saja ada dalam skenario Wu, tapi terdapat banyak sekali elemen yang tidak disengaja melihat kenyataan bahwa baik Perdana Menteri maupun wartawan tidak ada yang tahu bahwa Wu tengah merencanakan sesuatu.

Heru kemudian memasuki topik art market. Sejak tahun 1980-an ada suatu kesadaran bahwa ternyata lukisan adalah aset berharga yang nilainya terus naik. Lukisan kemudian menjadi permainan orang kaya yang mengabaikan persentuhan dengan publik. Heru menyebutkan pemikiran Sanento Yuliman tentang "pemingitan" yang menggambarkan bagaimana karya seni dipindahkan dari satu ruang privat ke ruang privat lain tanpa sempat disaksikan oleh publik. Contoh pemingitan adalah misalnya ketika seorang seniman masih mengerjakan karyanya di studio, kemudian ada seorang kolektor yang menawar karyanya padahal belum selesai. Jika karya tersebut terjual, berarti karya tersebut tidak pernah dicicipi sama sekali oleh mata publik. Istilah lain adalah "goreng-menggoreng". Ini juga istilah kolektor untuk menambah nilai pada seni dengan cara membesar-besarkan lewat cerita tertentu. Pada mulanya, kolektor ini terlebih dahulu membeli sejumlah karya si seniman dengan harga murah. Setelah "digoreng", ia bisa menjual karya-karya tersebut berkali lipat.

Fenomena art market dalam dunia seni rupa ini seringkali menciptakan harga-harga karya seni yang bombastis. Karya Damien Hirst bisa mencapai ratusan juta dollar yang merupakan rekor bagi seniman yang masih hidup. Namun Heru juga mengingatkan bahwa fenomena karya seni yang melambung tinggi seolah-olah tidak masuk akal ini akan dikembalikan juga pada senimannya, "Sering ada fenomena seniman yang sukses menjual karyanya dengan harga tinggi, tapi setelah itu karirnya meredup karena tak sanggup memenuhi tuntutan pasar."

Berakhirnya pertemuan keempat ini berarti juga mengakhiri Kelas Sejarah Seni Rupa Indonesia. Setiawan Sabana selaku kepala Garasi10 memberikan beberapa kata penutup sembari berharap kelas sejarah ini tetap berlanjut dengan topik yang lain. Usul dari Heru untuk kelas berikutnya adalah Teori-Teori Seni Rupa atau Sejarah Seni Rupa Barat. Ia berjanji akan mempublikasikan silabusnya dalam beberapa pekan ke depan. Sampai jumpa di kelas berikutnya!

Previous
Next Post »