Kelas Sejarah Seni Rupa Indonesia: Sudjojono dan Seni Rupa Modern Indonesia

Kamis, 3 Oktober 2013

Kelas Sejarah Seni Rupa pertemuan kedua kali ini -setelah minggu lalu membahas Raden Saleh dan mooi indie- membahas Sudjojono, yang sering dijuluki sebagai Bapak Seni Rupa Modern Indonesia.

Heru memulai pemaparannya dengan bercerita tentang kenyataan bahwa pada masa itu (era Revolusi Kemerdekaan), infrastruktur seniman hanyalah sanggar-sanggar seni, koran-koran, dan majalah-majalah. Sudjojono termasuk orang yang aktif menulis. Sudjojono cukup sering menulis tentang kritik terhadap mooi indie. Ia mengecam mooi indie sebagai kepalsuan, ketidakjujuran, dan hanya ditujukan untuk melayani para turis. "Mooi indie melukis keindahan alam dalam suatu fakta bahwa kehidupan rakyat sesungguhnya tidak terlalu baik. Misalnya, jika ada gambar gubuk reyot dalam sebuah gambar pemandangan, maka gubuk itu pasti disingkirkan dari bidang gambar." Sudjojono menawarkan suatu konsep bernama jiwa kethok, "Istilah Inggris-nya visible soul, atau dalam khazanah seni rupa modern Barat, kita menyebutnya dengan self-expression."

Heru kemudian membacakan satu pernyataan dari Sudjojono yang mengatakan tentang bagaimana seniman seharusnya independen, tidak takut, berjuang untuk keotentikan, hingga akhirnya nanti ketika mati disambut oleh Dewi Kesenian. "Ini adalah bentuk pernyataan yang kemudian akan menjadi cikal bakal seni modern. Mengapa? Karena untuk pertama kali diserukan bahwa seniman seharusnya jujur untuk mengekspresikan apa yang ada dalam dirinya, apa yang menjadi 'aku', dan tidak lagi terikat oleh kelompok-kelompok pemesan tertentu yang disebutnya sebagai orang-orang sok moralis," ujar Heru. Heru kemudian memperlihatkan beberapa contoh gambar Sudjojono pada para peserta. Rudy bertanya, "Sudjonono juga menggambar pemandangan, kenapa kita tidak menyebutnya dengan mooi indie?" Heru kemudian menjawab, "Perhatikan saja gambar pemandangan ala Sudjojono, ada kesan mencekam dan sama sekali tidak bermegah-megah dengan keindahan alam Indonesia."

Contoh tulisan Sudjojono yang memberi semangat untuk memulai kemodernan seni rupa Indonesia.

Terkait dengan Sudjojono yang dihubungkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), ada pertanyaan dari Ping, "Bukankah apa yang dikredokan oleh Sudjojono tersebut justru bertentangan dengan manifesto seni kaum sosialis yang menganggap karya seni itu harusnya untuk tujuan propaganda dan bukannya menampilkan ke-aku-an?" Heru kemudian menjawab bahwa memang iya, atas dasar itu juga pada akhirnya Sudjojono tidak lagi aktif di PKI. Kemudian diskusi berlanjut kepada bagaimana kasus poligami Sudjojono dengan Rose Pandanwangi ternyata membuat Gerwani, salah satu sub-organisasi dari PKI yang bergerak di isu-isu perempuan, marah besar. "Gerwani ternyata anti-poligami," komentar Yunita yang seolah-olah menolak penggambaran Gerwani yang dicitrakan non-moralis oleh film Pengkhianatan G 30 S/ PKI.

Minggu depan, Kelas Sejarah Seni Rupa Indonesia akan membahas lirisisme dan anti lirisisme.

Previous
Next Post »