Membahas Tegangan antara Etika dan Estetika

Rabu, 19 September 2013

Sore itu hujan turun amat deras. Padahal di Garasi10 sedang akan diadakan diskusi bertajuk "Agama, Seni, dan Peradaban". Meski demikian, acara tetap dilanjutkan meskipun harus terlambat satu jam dari jadwal yang sudah ditentukan. Heru Hikayat yang ditunjuk menjadi narasumber, membuka diskusi dengan pemaparan sekitar 45 menit.

Heru membaca cerpen Nipple Jesus karya Nick Hornby.
Diskusi yang merupakan kerjasama antara Garasi10 dengan komunitas Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) tersebut dimulai dengan pemaparan Heru yang menyuguhkan gambar dari seniman Agus Suwage dan salah satu karyanya yang pernah menjadi kontroversi berjudul Pink Swing Park. Karyanya tersebut diprotes oleh kaum fundamentalis karena mempertontonkan ketelanjangan yang melibatkan dua orang model yakni Anjasmara dan Isabel Yahya. Heru langsung melanjutkan pemaparan lewat cerpen berjudul Nipple Jesus karya Nick Hornby yang menceritakan tentang kontroversi gambar Yesus. Dalam cerpen tersebut, disebutkan tentang gambar Yesus yang sekilas tampak indah, namun ketika dicermati secara detail, ternyata gambar tersebut disusun dari potongan gambar payudara yang amat banyak jumlahnya. Setelah memaparkan soal Pink Swing Park dan Nipple Jesus, Heru lalu berkata, "Topik agama, seni, dan peradaban ini semuanya adalah narasi besar. Jadi kita bisa bicara apa saja tentangnya. Silakan."

Berbagai komentar, tanggapan, maupun pertanyaan muncul pada Heru terkait dengan topik yang wilayah cakupannya amat luas ini. Misalnya, Yunita mengemukakan pengalamannya bekerja sebagai desainer. "Ada satu perusahaan yang melarang saya mendesain sesuatu yang melibatkan gambar babi dan anjing karena kedua binatang tersebut dianggap haram dalam Islam." Kemudian Iska mengatakan tentang seni ini adalah soal pembiasaan. Mungkin karya-karya seperti Pink Swing Park yang kontroversial tersebut jika dibiasakan untuk dipamerkan maka lambat laun tidak akan menjadi sesuatu yang dipersoalkan. Komentar lain, Rio mengatakan soal "pornografi yang berkelamin". Maksudnya, "Pornografi tidak pernah netral. Apa yang dimaksud porno biasanya lebih identik dengan kaum perempuan. Jika kaum perempuan menunjukkan sensualitasnya sehingga menimbulkan hasrat bagi kaum pria, maka jelas itu adalah pornografi. Tapi sebaliknya, Rhoma Irama, misalnya, dengan segala sensualitasnya yang mungkin mengundang hasrat sebagian kaum perempuan, ia tidak dituduh melakukan pornografi."

Kemudian pembahasan masuk ke dalam satu definisi tentang tema dalam seni rupa yang sering dikait-kaitkan dengan agama yakni "seni rupa islam". Heru menjawab, "Sebenarnya ada kontradiksi dalam term seni rupa islam itu sendiri. Pertama mungkin dalam konteks keagamaan, islam itu berarti berserah diri. Ego kita melebur dan menjadi sesuatu yang tidak penting untuk dikemukakan. Hal ini tentu saja bertentangan dengan konsep seni rupa modern yang sangat menonjolkan ego ke-aku-an." Kemudian timbul pertanyaan, "Jadi maksudnya, jika benar-benar seni rupa Islam, maka harusnya dia membuat karya, tidak mengklaim sebagai pemilik, dan memberikannya langsung pada publik?" Heru menjawab singkat, "Kira-kira begitu."

Diskusi yang berlangsung selama lebih dari dua jam tersebut menyisakan pesan menarik dari Heru. Katanya, "Yang terpenting adalah kritis dan kritis. Jangan pernah berhenti untuk memeriksa segala sesuatu. Karya seni pada dasarnya adalah sesuatu yang terkait erat dengan sejauh mana ia mampu menggugah perasaan manusia. Jika itu benar-benar dihayati tanpa prasangka, maka seni sesungguhnya tidak perlu bertentangan dengan agama."

Previous
Next Post »