Menyegarkan Kembali Ingatan akan Lagu-Lagu Perjuangan

Selasa, 27 Agustus 2013


Untuk pertama kalinya Garasi10 mengadakan acara setelah istirahat panjang selama bulan Ramadhan. Acara yang dipilih kali ini adalah acara musik dengan tema lagu-lagu perjuangan. Penyebabnya, tentu saja, karena bulan Agustus kita masih segar dengan suasana ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Ammy Kurniawan, pemain biola yang piawai juga bermain gitar, tampil sebagai musisi utama.

Ammy membukanya dengan solo gitar lagu Desaku yang secara otomatis membuat audiens sekitar dua puluh orang ikut menyanyi. Setelah itu, Ammy langsung melakukan intermezzo dengan lagu anak-anak Cicak di Dinding yang diaransemen ulang dan ikut dimainkan oleh kedua muridnya, Afifa dan Anggin. Pasca Cicak di Dinding, Ammy kemudian menyuguhi penonton dengan lagu-lagu seperti Sersan Mayorku, Rayuan Pulau Kelapa, Melati di Tapal Batas, Tanah Airku, dan Indonesia Pusaka. Beben, salah seorang penonton, sesekali diajak untuk ikut bernyanyi dengan suaranya yang khas.

Setelah lagu-lagu tersebut dimainkan, Ibu Elly, personil Garasi10, meminta Ammy untuk memainkan lagu-lagu Jepang. Mengapa? Karena ada salah seorang penonton yang berasal dari Jepang. Hal ini tidak ditolak sama sekali. Ammy langsung menyuguhkan tiga lagu yakni Sukiyaki, Sakura, dan Jonetsu bersama dengan kedua muridnya. Kemudian penampilan malam itu ditutup dengan lagu Padamu Negeri yang turut serta Pak Setiawan membaca puisi. Garasi Merdeka, judul acara tersebut, pun berakhir bahagia. Salah seorang bapak yang menjadi penonton berkata, "Sudah jarang kita disegarkan lagi oleh lagu-lagu perjuangan. Bahkan anak-anak generasi sekarang tidak banyak lagi diajarkan lagu semacam ini."




Previous
Next Post »