Dibuka Pendaftaran Kelas Garasi: Sejarah Seni Rupa Indonesia

Pengantar

Kesadaran nasionalisme bangkit berkelindan dengan proyek modernisasi di Indonesia. Proyek besar ini merombak segala lini kehidupan, menumbuhkan cara pandang yang berbeda. Pertumbuhan ini mencakup pula bidang seni. Jika di Barat ada anggapan bahwa sejak Renaissans-lah pandangan antroposentris dimulai, dan dengannya mulai ada perhatian khusus pada seniman sebagai “genius” pencipta karya, maka di Indonesia, perhatian pada seniman dan karya seni secara khusus muncul berkelindan dengan pencerapan pengertian seni modern itu sendiri. Praktik dan pergulatan pemikirannya berkelindan dengan diskusi-diskusi mengenai kebudayaan nasional, kemajuan dan kesetaraan, serta pembentukan pranata kehidupan berbangsa. Perkembangan seni bersifat menyejarah. Memahami seni berarti menelisik aspek kesejarahannya. Upaya memahami sejarah seni merupakan bagian dari upaya memahami pandangan-terpusat-pada-manusia yang mendasari kebudayaan kita hari ini. Kelas Sejarah Seni Rupa ini berupaya menghidupkan diskusi-diskusi mengenai konsep-konsep tertentu dalam seni rupa. Kronologi historis merupakan wahana tempat konsep-konsep tersebut menjadi fokus secara khusus.

Materi Pertemuan

19 September 2013
I. Raden Saleh: Mooi Indie dan Orientalisme 
Raden Saleh selalu ditunjuk sebagai perintis seni rupa modern Indonesia. “Modern” dalam hal ini merujuk pada pengertian seni yang yang mengadaptasi estetika Barat. Karya Raden Saleh, selain menunjukan keterampilan melukis yang diadaptasi dari khasanah seni rupa Barat, juga menunjukan idealisasi alam. Maka dari karyanya kita bisa mendiskusikan pertemuan idealisasi yang berbeda-beda: “Timur dan Barat”.


26 September 2013

II. Sudjojono: Realisme, Kemanusiaan, dan Nasionalisme 
Sudjojono sesungguhnya adalah murid pelukis Mooi Indie. Murid yang bengal. Ia menentang pelukisan pemandangan indah yang mengesampingkan kenyataan: yaitu hidup sebagai rakyat yang tertindas penjajahan. Ia, bersama banyak seniman dan kalangan cendekiawan semasanya turut membangun semangat kesetaraan: menjadi manusia, menjadi bangsa, yang sejajar dengan manusia-manusia, bangsa-bangsa lainnya.

3 Oktober 2013
III. Lirisisme dan Anti-lirisisme 
Bagian ini akan mendiskusikan sejumlah prinsip dalam seni rupa, perdebatan dan pergulatannya, pada periode tahun 1960-an hingga awal tahun 1980-an. Ini merupakan kisah penghayatan tentang kemodernan seni, ekspresi diri, dan pergulatan tentang batas-batas seni.

10 Oktober 2013
IV. Globalisasi dan Kekontemporeran
Bagian ini akan berupaya mendiskusikan berbagai isu terakhir dalam perkembangan seni rupa. Terbukanya jejaring internasional, percepatan informasi, perubahan politik, pergeseran paradigma, dominasi pasar seni: seni rupa kontemporer!

Informasi Pendaftaran 

1. Kelas dibatasi untuk 10 (sepuluh) orang peserta.
2. Kelas diselenggarakan setiap hari Kamis mulai 19 September 2013 pukul 19.00 sampai pukul 21.00 WIB di Garasi 10, Jl. Rebana no. 10, Bandung.
3. Biaya Rp. 100.000 untuk 4 (empat) pertemuan akan sepenuhnya dikembalikan pada peserta dalam bentuk hand-out, sertifikat, dan operasional kelas itu sendiri.
4. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Syarif (0817-212-404).

Profil Pengajar

Heru Hikayat, lahir tahun 1974, Sarjana Seni dari FSRD ITB, bekerja sebagai kurator dan pengulas seni rupa, pernah menjadi koresponden majalah Visual Arts (2009-2012), kini sehari-hari mengelola ruang gagas PLATFORM3, Bandung.


Previous
Next Post »