Menyadari Bingkai di Sekeliling Kita

Senin, 24 Juni 2013

Yasraf Amir Piliang, sesuai dengan yang dijanjikan sebelumnya, hadir ke Garasi10 untuk menutup kelas Cultural Studies asuhan Rosihan Fahmi -sekaligus juga memberikan kuliah tentang "Bingkai dan Pembingkaian Kebudayaan"-. Sadar bahwa Pak Yasraf adalah intelektual yang tengah naik daun dan ceramahnya termasuk yang ditunggu-tunggu banyak orang, maka kehadirannya kali ini tidak terbatas untuk peserta kelas saja, melainkan untuk umum.



Pak Yasraf memulai presentasinya dengan menyuguhkan iklan dari sebuah mobil yang isinya ada citra seorang perempuan. Pertama, Pak Yasraf memperlihatkan adanya bingkai yang niscaya, yakni bingkai fotografi itu sendiri. Dengan bingkai, katanya, kita melihat bagian-bagian yang relevan saja untuk diperlihatkan. Kaki perempuan itu sendiri, kata Pak Yasraf, dianggap tidak punya kaitan apa-apa dengan apa yang mau direpresentasikan. "Ketika segala sesuatu menampilkan sesuatu," kata Pak Yasraf sembari merujuk pada istilah Heidegger yakni aletheia, "Ia sekaligus menyembunyikan sesuatu." Jika seorang pengusaha tahu membeberkan seluruh mekanisme produksi tahunya secara jujur dan apa adanya, lanjut Pak Yasraf, maka diyakini banyak calon pembeli yang kabur setelah mengetahui bahwa salah satu proses pembuatannya adalah dengan diinjak-injak kedelainya.


Setelah menayangkan sejumlah gambar dan menganalisanya, Pak Yasraf sampai pada gambar yang menurutnya "paling lengkap untuk dianalisa". "Di iklan tersebut, wajah perempuan tidak diperlihatkan karena tidak relevan," ujar Pak Yasraf. "Yang ditampilkan hanyalah bagian dada maka itu barangkali punya suatu keterkaitan dengan slogannya yang menyisipkan kata 'lebih'," ujarnya yang disambut tawa para peserta yang jumlahnya sekitar tiga puluh orang. Setelah itu Pak Yasraf tidak luput memberikan sejumlah teori diantaranya dari Jacques Lacan. Dari teori Lacan yang mengatakan bahwa hasrat manusia itu berasal dari pengalaman ia dalam melihat orang lain, dan orang lain pun demikian halnya mempunyai hasrat dari melihat orang lainnya ad infinitum, maka itulah yang disebut sebagai "bingkai diri". "Lacan menjelaskan bagaimana misalnya saya, jika memilih pakaian sebelum pergi, pasti yang jadi pertimbangan adalah pendapat masyarakat. Tidak mungkin saya tiba-tiba ke kampus dengan pakaian perempuan," kata Pak Yasraf.

Tiba saatnya Pak Yasraf berdiskusi dengan para hadirin. Ia menjawab pertanyaan mulai dari "Apakah ada, Pak, sesuatu yang tidak terbingkai?", persoalan oposisi biner modernitas, hingga kritik terhadap posmodernisme yang terasa seperti mengulang-ulang sejumlah pemikiran yang sudah lalu. Untuk pertanyaan pertama, Pak Yasraf menjawab, "Tidak ada." Bahkan, kata Pak Yasraf, kalaupun semua kejadian di dunia ini dapat ditampilkan, tetap saja untuk melihat, kita terbatasi oleh bingkai mata kita sendiri. "Bingkai pasti ada, tapi bingkai dapat diperluas," demikian ujar Pak Yasraf. Lalu untuk menjawab pertanyaan kedua, Pak Yasraf menggunakan teori Jacques Ranciere tentang partisi-partisi biner, sekaligus menarik semacam kesimpulan bahwa memang sulit sekali melepaskan dualisme dari fenomena-fenomena kebudayaan. "Bahkan, maskulinitas punya arti ketika ada feminin vice versa. Mobil high-class hanya punya nilai ketika ada yang low class dan seterusnya," kata Pak Yasraf. Sedangkan atas pertanyaan terakhir, Pak Yasraf mengaku yang satu ini cukup sulit. Namun beliau tetap menjawabnya dengan singkat, "Filsuf sebelumnya memikirkan Tuhan, alam semesta, manusia, dsb. Tapi mungkin belum ada yang secara intens berbicara mengenai bahasa. Posmodernisme inilah yang cukup dalam mengupasnya."

Demikian pertemuan malam itu ditutup dengan perasaan berkecamuk. Ada yang tercerahkan, ada pula yang mungkin tidak mendapatkan apapun. Namun hal tersebut dianggap sebagai bagian dari petualangan intelektual. Tidak semuanya harus dapat dimengerti dalam satu kali perjumpaan. 



Previous
Next Post »