Pertemuan Kelima Cultural Studies

Kamis, 22 Mei 2013

Kelas Cultural Studies pertemuan kelima menghadirkan Pak Acep Iwan Saidi sebagai pembicara. Ketua Forum Studi Kebudayaan FSRD ITB ini membahas tentang isu-isu dalam Cultural Studies terutama tentang cyberspace dan cyberculture.

Pak Acep memulai dengan membahas tentang perkembangan definisi kebudayaan itu sendiri. Misalnya, di abad ke-17, kebudayaan dianggap sebagai keberagaman. Lantas di abad ke-18 dan ke-19 kebudayaan berkembang menjadi sistem yang evaluatif -melahirkan modernisme, strukturalisme dan studi budaya sebagai anak kandungnya-. Kemudian di abad ke-20 dan ke-21, kebudayaan menjadi ekspresi keseharian (kulturalisme sebagai parole). Kang Acep mengatakan, "Di abad ini, pusat filsafat bergerak dari tadinya berpusat pada sains, menjadi berpusat pada bahasa terutama metafor." Cultural Studies, pada titik ini, lanjut Pak Acep, merayakan "garis-garis antara oposisi biner". "Dulu, waria dianggap alien, sekarang bisa dijadikan suatu studi akademis," papar Pak Acep. 


Kemudian Pak Acep melanjutkan pembahasannya dengan membicarakan cyberspace dan cyberculture. "Apa yang dimaksud dengan pergeseran orientasi menjadi cyberspace atau cyberculture? Energi menjadi ditentukan oleh hukum-hukum byte, bukan lagi hukum-hukum fisika misalnya," Pak Acep menjadikan kalimatnya tersebut sebagai pembuka paparan. Dunia cyber, kemudian lanjut Pak Acep, "Lebih dekat dengan dunia kelisanan dari dunia tulisan. Ini adalah kelisanan tingkat ketiga setelah radio dan televisi sebagai tingkat kedua." Kemudian Pak Acep menjelaskan visi-visi cyberspace yakni:
  • Simulasi pikiran kolektif manusia, membentuk pikiran super (super mind).
  • Obsesi akan 'keabadian' (immortality), dengan menciptakan kehidupan abadi cyberspace.
  • Penciptaan dunia yang terbebas dari keterbatasan tubuh.
  • Obsesi manusia menavigasi diri sendiri di dalam cyberspace.
  • Redefinisi 'spirit', berupa informasi yang hidup.
Kemudian Pak Acep secara menarik memaparkan tentang komunitas virtual, tentang bagaimana sebetulnya mereka yang berinteraksi secara virtual seringkali lupa bahwa mereka sedang melakukan tindak sosial imajiner. "Orang dapat melakukan apa saja yang dapat dilakukan di dalam komunitas nyata, dengan cara yang baru yang artifisial," ujar Pak Acep.  Pak Acep lompat lagi melanjutkan topiknya pada dromologi dan realitas. Tentang bagaimana masyarakat kita, yang dibentuk oleh televisi dan internet, menjadi orang-orang yang reaksioner. "Bukan lagi revolusioner," katanya. "Bedanya revolusioner dan reaksioner adalah revolusioner ia istiqamah memperjuangkan satu ideologi nyaris sepanjang hidupnya dan membekali diri dengan literatur dan amunisi-amunisi intelektual untuk mencapai tujuannya. Sedangkan reaksioner? Mereka lebih banyak bereaksi atas isu-isu yang sesungguhnya lebih banyak didorong oleh media," demikian lanjut Pak Acep. Apa kemudian yang disebut dengan dromologi? Dromologi adalah percepatan. Misalnya, ketika ada SMS masuk, kita merasa punya dorongan psikologis untuk membalasnya secara cepat. Dunia hari ini sangat didorong dengan "ketergesa-gesaan" karena khawatir dunia ini "akan meninggalkannya".

Ketika ditanya, bagaimana jalan keluar akan semua ini, Pak Acep? "Walkout," jawabnya singkat, "Kita harus revolusi."
Previous
Next Post »