Pertemuan Keempat Kelas Cultural Studies

Rabu, 15 Mei 2013

Pertemuan keempat kelas Cultural Studies malam itu mulai membahas tema-tema spesifik. Kali ini topiknya adalah tentang nasionalisme, poskolonialisme, dan multikulturalisme. Sesuai janji di silabus bahwa kelas ini akan dibawakan oleh empat narasumber secara bergantian, kali ini tiba giliran Syarif Maulana menggantikan Rosihan Fahmi yang sudah tiga kali berturut-turut membawakan materi.


Sebelum masuk ke materi, terlebih dahulu dipaparkan secara singkat tentang posmodernisme. "Bagaimanapun," ujar Syarif, "Memahami cultural studies adalah tidak mungkin jika tidak terlebih dahulu menyelidiki posmodernisme." Posmodernisme-lah, katanya, punya andil besar tentang bagaimana sebuah fenomena dapat dilihat secara beragam dari pelbagai sudut pandang sekaligus memberi legitimasi bahwa cara pandang-cara pandang tersebut punya nilai kebenarannya sendiri. "Kita tidak lagi termonopoli seperti halnya pandangan era modern yang menganggap hanya cara pandang tertentu saja yang absah dalam melihat kebenaran. Rupanya posmodernisme sukses melihat cara pandang semacam itu sebagai bentukan kekuasaan saja," katanya. 

Pengantar tersebut membawa bahasan pada kajian film atau film studies. Mengapa? "Kita mengambil contoh satu jenis seni yang berkembang di keseharian, yang sekilas nampak seperti hiburan semata, namun sesungguhnya punya sejumlah lapisan ideologis jika kita mau menggunakan teori tertentu untuk membedahnya. Inilah film," ujar Syarif. Dalam film, kita bisa mempraktekkan sejumlah teori yang diwadahi dalam cultural studies seperti neo-marxisme, psikoanalisis hingga feminisme, untuk melihat lapisan yang lebih dalam. Siapa tahu, ujar Syarif, kita bisa menemukan unsur-unsur nasionalisme, poskolonialisme, multikulturalisme, atau bahkan lebih luas daripada itu.

Film yang disajikan untuk dianalisis cukup banyak. Pertama adalah memperbandingkan dua film yang secara ideologis cukup jelas. Pertama, film Green Berets dan yang kedua film Full Metal Jacket. Lewat potongan-potongan klip nya saja terlihat cukup jelas bagaimana perbandingan ideologis dari kedua film tersebut. Green Berets punya dukungan terhadap perang Vietnam sedangkan Full Metal Jacket sebaliknya. Kemudian pembacaan melangkah lebih jauh dengan melihat sisi-sisi neo-marxis dalam film Modern Times-nya Charlie Chaplin. Tentu saja, neo-marxisme belum tentu ditampilkan oleh film tersebut secara an sich. Namun demikianlah halnya penggunaan cultural studies pada umumnya, memang ditujukan untuk membedah sesuatu agar tidak tampak seperti permukaannya saja, melainkan ada terungkap sisi-sisi kedalamannya. Liky kemudian melihat Modern Times sebagai kecenderungan rakyat Amerika di masa itu yang sudah mulai kenal dengan industrialisasi. Dampaknya, buruh-buruh mulai apa yang Marx sebut sebagai alienasi. Bagi Liky, Charlie Chaplin berhasil menunjukkan suatu ironi kaum buruh: Ia mengerjakan mesin namun kemudian terotomatisasi menjadi mesin itu sendiri. Kemudian berturut-turut dibahas film Blue Velvet dan Psycho dari segi psikoanalisis, serta film The Matrix dari sudut pandang semiotika.

Setelah menyaksikan beberapa potong film, kemudian pembahasan berlanjut ke film 2001: A Space Odyssey yang disajikan nyaris utuh. Film garapan Stanley Kubrick tersebut dibahas mulai dari sudut pandang semiotika hingga feminisme. Para peserta diajak untuk secara kritis memahami sekaligus mengaplikasikan sejumlah teori yang biasa identik dengan cultural studies.


Previous
Next Post »