Meneropong Kehidupan Materialistik di Kota Moskow

Minggu, 7 April 2013

Harapan Pak Awal Uzhara untuk membicarakan film ini akhirnya tercapai juga. Sejak tiga minggu silam ketika pertama kali menyaksikannya di Pusat Kebudayaan Rusia, film Elena (2011) tidak sabar untuk didiskusikan oleh Pak Awal. Persoalannya, ketika menyaksikannya di Pusat Kebudayaan Rusia, pada saat itu tidak disediakan waktu khusus untuk membicarakan filmnya. Garasi10 kemudian menyediakan film ini untuk dibahas oleh Pak Awal beserta para penikmat film lainnya yang kebetulan hadir tidak sebanyak waktu-waktu sebelumnya. Alasannya? Kebanyakan karena hujan dan terjebak banjir.


Elena adalah film yang menceritakan tentang kehidupan seseorang bernama Elena (Nadezhda Markina) yang terjepit di antara dua dunia. Dunia pertama adalah ia bersama suaminya bernama Vladimir (Andrey Smirnov) yang merupakan seorang pengusaha kaya raya. Dunia kedua adalah ia bersama anak dari pernikahan sebelumnya. Anak dari Elena yang bernama Sergey (Alexey Rozin) itu, sudah mempunyai keluarga dengan dua anak dengan kondisi ekonomi yang memprihatinkan. Vladimir yang merupakan ayah tiri, enggan membantu Sergey dan lebih memilih untuk mewariskan kekayaannya pada anak perempuan hasil dari pernikahan sebelumnya bernama Katerina (Elena Lyadova).

Pertentangan ini digambarkan dengan dialog dan musik yang jarang dan alur yang relatif monoton. Itu sebabnya ketika Pak Awal bertanya kesan-kesan tentang film ini pada para peserta, rata-rata memilih untuk bungkam karena tidak terlalu bisa memahami filmnya secara utuh. Rudy bahkan mengaku tidak menemukan konfliknya sama sekali. Pak Dicky adalah satu-satunya yang mau buka suara. Katanya, "Akhir dari film ini begitu mengganggu. Saya kira si anak akan mendapat karma, tapi ternyata sutradara membiarkan kita menerka-nerka sendiri bagaimana kelanjutan ceritanya." Pak Awal mengangguk tanda setuju dengan pernyataan Pak Dicky tersebut. Beliau berkata, "Seperti inilah bagaimana karya-karya sastra dari Anton Chekov."

Setelah itu, Pak Awal bercerita tentang riwayat sastrawan bernama Chekov tersebut. Lantas ia memaparkan gaya penulisan Chekov yang memang sering sekali mengangkat tema-tema keseharian yang tampak begitu biasa di wilayah permukaan. "Namun karena tampak seperti biasa-biasa, kita harus mencari dan menemukan makna terdalamnya sendiri," ujar Pak Awal. Bahkan, lanjutnya, Chekov -persis seperti film Elena- sering membiarkan akhir cerita diserahkan saja pada penonton.



Pak Awal juga menyoroti film Elena sebagai film yang menonjolkan tentang bagaimana materialisme sudah menjadi paham baru di tengah masyarakat Rusia yang dahulunya hidup demi ideologi komunisme. "Materi dan moral bejat ini menjadi dua hal yang saling berkaitan membangun film Elena," ujar Pak Awal. Ia mencontohkan anak dari Elena, Sergey, yang sehari-harinya hanya duduk tanpa bekerja, minum bir, namun pada akhirnya begitu gembira ketika Elena meracuni Vladimir agar mereka dapat warisan. Penuhanan terhadap uang ini, kata Pak Awal, sudah menjadi hal yang lumrah dan terang-terangan di Rusia dewasa ini. Hal yang demikian berbeda ketika di zaman Uni Soviet, kapitalisme masih dianggap sebagai musuh ideologi komunisme.

Terakhir, Elena juga bisa dilihat sebagai persoalan eksistensial. Dua mahasiswa Pak Awal yang berasal dari jurusan sastra Rusia menyetujui bahwa ekspresi Elena dari awal hingga akhir tidak banyak berubah. Ia terus-terusan berada pada situasi kejiwaan yang muram. Dari permulaan film ia sudah memaknai hidupnya sebagai persoalan belaka. Hal ini ditambah juga dengan alur film yang cenderung membosankan yang membuat para penonton semakin sadar situasi kehidupan kota Moskow yang terpenjara dalam situasi materialistik dan moral yang terdegradasi. Seperti biasa, diskusi berlanjut dengan mendengarkan cerita-cerita dari Pak Awal tentang pengalamannya tinggal lima puluh tahun di Rusia.  
Previous
Next Post »