Dibuka Pendaftaran Kelas Garasi: Pengantar Cultural Studies

Pengantar

Konon dunia hari ini sudah tidak tepat lagi kita sebut dengan zaman modern. Apa yang digadang-gadang sebagai modernitas ternyata hanya berujung pada perang-perang berkepanjangan yang menihilkan penghargaan terhadap manusia. Menyebut diri sebagai manusia modern bisa jadi telah diolok-olok sebagai jargon usang. Sekarang katanya dunia sudah memasuki suatu era bernama posmodern yang melantangkan suatu kalimat pembebasan bagi pelbagai aspek dalam kehidupan yang tadinya terpinggirkan -yang oleh modernisme dianggap sebagai the others-.

Salah satu gelagat posmodernisme adalah menyerang sendi-sendi ajaran modern yang menitikberatkan diantaranya pada oposisi biner dan universalisme. Oposisi biner berarti melihat "jika saya adalah satu-satunya yang benar, maka hal lain di luar saya adalah salah". Sedangkan universalisme adalah semacam kepercayaan bahwa ada kebenaran yang objektif alias berlaku untuk semua. Bagi posmodernisme, oposisi biner ditolak karena segala sesuatu punya kebenarannya sendiri-sendiri -kita harus melihat kebenaran bukan dari sudut pandang kita sendiri, melainkan secara fleksibel berada pada berbagai sudut pandang sehingga kebenaran yang tampil pun bisa dalam beragam versi-. Demikian halnya dengan alasan penolakan terhadap universalisme. Bagi kaum posmodernis, apa yang disebut objektif dan absolut jangan-jangan hanya terdapat pada kacamata kekuasaan. Sejatinya kebenaran adalah subjektif, partikular, dan tidak perlu diupayakan untuk dirangkai menjadi bangunan besar seperti cita-cita modernisme.

Ekses dari serangan posmodernisme ini bagaikan ketika Gorbachev menerapkan glasnost dan perestroika di Uni Soviet: Berbagai wilayah menyatakan kemerdekaannya. Wilayah kebudayaan, yang tadinya dipinggirkan sebagai hal-hal yang hanya menjadi fokus kajian para antropolog, sekarang mendapatkan tempat untuk diteropong dari berbagai multidisiplin mulai dari filsafat, psikologi, semiotika, komunikasi, bahkan hingga linguistik. Term "kebudayaan" tidak lagi secara peyoratif dipandang sebagai milik pedesaan -yang oleh kaum modernis tentu saja sering dipandang sebagai wilayah yang bertentangan dengan semangat kemajuan dan pencerahan-. Istilah kebudayaan ini diperluas dengan melihat bahwa dalam kehidupan masyarakat perkotaan ternyata juga mengandung banyak hal yang bisa kita sebut sebagai peristiwa kebudayaan. Misalnya: Fenomena manusia yang antri demi Blackberry, fenomena dipasangnya wajah-wajah tokoh kiri seperti Marx dan Mao Tse Tung di sebuah restoran mewah di Jakarta, fenomena populernya Sinta dan Jojo ataupun Briptu Norman, hingga fenomena iklan yang memenjara hampir dalam setiap jangkauan pandangan kita.

Sampul majalah Paris Match yang menjadi bahan analisis Roland Barthes untuk menunjukkan bahwa dalam hal-hal yang paling sederhana sekalipun di dalamnya sangat mungkin terkandung unsur-unsur ideologis bahkan mitologis.
Cara pandang semacam ini kemudian dibakukan menjadi semacam disiplin ilmu tersendiri yang dinamakan cultural studies. Kekeliruan pertama adalah menganggap cultural studies adalah suatu teori yang berdiri sendiri. Justru cultural studies adalah semacam wadah yang berisi banyak teori dan sudut pandang yang dianggap "perlu" untuk membedah suatu fenomena kebudayaan -khususnya kebudayaan urban-. Dengan mengkaji cultural studies, kita akan disibukkan oleh rimba pemikiran dari sejumlah pemikir lintas disiplin seperti Lacan, Zizek, Foucault, Saussure, Barthes, Deleuze, Guattari, hingga Ranciere. Cultural studies adalah salah satu cara untuk memahami kehidupan urban yang semakin lama lapisan ilusinya semakin tebal dan harus disibak perlahan-lahan.

Materi

Pertemuan 1 - Apa itu cultural studies?
Pertemuan 2 - Teori dan disiplin yang termasuk ke dalam cultural studies
Pertemuan 3 - Akar cultural studies: globalisasi dan posmodernisme.
Pertemuan 4 - Isu-isu dalam cultural studies: nasionalisme, poskolonialisme, dan multikulturalisme.
Pertemuan 5 - Isu-isu dalam cultural studies: sains, teknologi, dan cyberculture.
Pertemuan 6 - Isu-isu dalam cultural studies: seksualitas dan gender.
Pertemuan 7 - Isu-isu dalam cultural studies: konsumsi dan pasar.
Pertemuan 8 - Penutup

Informasi Pendaftaran
  1. Kelas dibatasi untuk 10 (sepuluh) orang peserta.
  2. Kelas diselenggarakan setiap hari Rabu mulai 24 April 2013 pukul 19.00 sampai pukul 21.00 WIB di Garasi 10, Jl. Rebana no. 10, Bandung.
  3. Biaya Rp. 150.000 untuk 8 (delapan) pertemuan akan sepenuhnya dikembalikan pada peserta dalam bentuk hand-out, sertifikat, dan operasional kelas itu sendiri. 
  4. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Syarif (0817-212-404).
Profil Pengajar

Rosihan Fahmi - Lulusan Aqidah Filsafat UIN dan Pascasarjana Ilmu Filsafat UI ini adalah penggiat filsafat yang lebih banyak aktif di komunitas. Bersama Bambang Q-Anees, Ami -panggilannya- mendirikan komunitas diskusi Madrasah Falsafah Sophia yang aktif berkumpul di Tobucil & Klabs. Ami yang sehari-hari menjabat sebagai Kepala Sekolah Manba'ul Huda ini sekarang aktif sebagai pengajar filsafat di ruang alternatif Garasi10 dan sejumlah kampus maupun komunitas. Metoda mengajar Ami lebih mengedepankan dialog daripada pengungkapan teoritik secara satu arah. Ia juga kerapkali mendorong para peserta kelasnya untuk menuliskan hasil perenungannya atas apa yang sudah diuraikan selama kuliah.
Syarif Maulana - Lulusan Hubungan Internasional UNPAR dan Pascasarjana Ilmu Komunikasi UNPAD ini sehari-hari aktif sebagai dosen di Fakultas Ilmu Budaya UNPAD, koordinator Klab Filsafat Tobucil, mengurus garasi rumahnya sendiri bernama Garasi10, menulis untuk sejumlah blog maupun media online, mengajar gitar, bermain musik serta menjadi koordinator komunitas musik klasik bernama KlabKlassik. Dalam waktu dekat, Syarif akan meluncurkan buku pertamanya tentang analisis film yang berjudul Manusia dan Teknologi dalam 2001: A Space Odyssey. Tulisan-tulisan Syarif dapat dibaca di sini.




Acep Iwan Saidi - Acep Iwan Saidi adalah Doktor dari FSRD ITB yang sekarang menjabat sebagai Ketua Forum Studi Kebudayaan (FSK) FSRD ITB. Profil lengkapnya dapat dibaca di sini






Setiawan Sabana - Setiawan Sabana adalah Guru Besar FSRD ITB yang sekaligus juga penggagas ruang alternatif Garasi10. Profil lengkapnya dapat dibaca di sini
Previous
Next Post »