Penantian Panjang Kelas Filsafat Eksistensialisme Albert Camus


Jumat, 21 Maret 2013

Setelah tertunda lebih dari satu bulan akibat berbagai gangguan, akhirnya penantian panjang para peserta Kelas Filsafat Eksistensialisme Albert Camus berakhir juga. Mereka tak hanya diwisuda secara resmi sebagai tanda studinya selesai, melainkan juga diberikan satu penanda yang lebih konkrit: Buku kompilasi karya tulis mereka sendiri.

Dari total enam peserta, yang hadir pada wisuda ini pada mulanya hanya tiga -Ping, Rudy, dan Liky-. Namun menjelang selesai, dua orang lagi yakni Satrio dan Kharisma tiba-tiba datang menyusul. Arden yang cukup banyak menyumbang pendapat yang merangsang selama kelas, urung hadir di pertemuan pamungkas. Rosihan Fahmi alias Kang Ami sebagai pengajar, membuka kelas dengan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas kepercayaan dan apresiasinya selama ini. Kang Ami juga mengungkapkan betapa filsafat eksistensialisme, jika diaplikasikan dengan "tepat guna" akan membantu dalam memetakan pelbagai persoalan hidup yang konkrit sehingga lebih mudah untuk diurai dan diselesaikan.

Rudy, pada diskusi final ini, menyatakan juga rasa terima kasihnya atas Kelas Filsafat Eksistensialisme yang menyumbangkan banyak hal sehingga dirinya menjadi lebih percaya diri untuk menghadapi segala sesuatu -Sebagai informasi, Rudy adalah satu-satunya peserta yang mengikuti empat edisi Kelas Filsafat Eksistensialisme di Garasi10 mulai dari tentang Soren Kierkegaard, Friedrich Nietzsche, Jean Paul Sartre, hingga Albert Camus-. Rudy kemudian menyebutkan secara spesifik bahwa sekarang ia lebih mudah dalam menuangkan ide-idenya baik dalam tulisan maupun lisan sejak "ditempa" oleh Kang Ami. 

Sebelum betul-betul ditutup dalam bentuk penyerahan sertifikat, Pak Setiawan Sabana selaku kepala Garasi10 memberikan sedikit cerita. Misalnya, betapa berharganya dulu jika menemukan buku filsafat yang notabene jarang sekali ditemukan. "Sekarang buku-buku filsafat bergelimpangan. Dulu? Mungkin kita hanya bisa menemukan satu atau dua saja di toko buku," ujarnya. Pak Setiawan juga mengingatkan bahwa kegiatan-kegiatan di Garasi10 yang seolah-olah kecil ini bisa menjadi sangat mendunia jika digarap dengan benar. 
Rudy Rinaldi sukses menamatkan empat edisi Kelas Filsafat Eksistensialisme di Garasi10
Pak Setiawan kemudian mengungkapkan pengalamannya, "Waktu saya di Jepang dulu, banyak sekali galeri dengan ukuran yang jauh lebih kecil dari Garasi10. Tapi program yang mereka garap sudah sangat profesional dengan skala internasional. Bayangkan, ruang sekecil itu sudah memprogram kegiatannya secara lengkap hingga setahun ke depan." Artinya, lanjut Pak Setiawan, ada suatu pergeseran paradigma dari ruang-ruang besar ke ruang-ruang kecil. Ruang-ruang besar bisa kita analogikan sebagai raksasa arogan yang berkata, "Datangi aku!" Sedangkan ruang kecil lebih rendah hati dan menghampiri masyarakat terlebih dahulu.

Acara ditutup dengan penyerahan sertifikat oleh Pak Setiawan sendiri. Rudy secara otomatis meraih predikat peserta terbaik karena keikutsertaannya dalam empat edisi Kelas Filsafat Eksistensialisme. Sebagai informasi tambahan, buku kompilasi hasil karya tulis para peserta kelas yang berjudul Camus Absurd sudah bisa dipesan lewat 0817-212-404 dengan harga 50.000.

Sampul depan buku Camus Absurd.

Previous
Next Post »