Merasakan Keputusasaan dalam Pencarian Cinta yang Hilang

Jumat, 8 Maret 2013

Setelah beberapa saat tanpa kegiatan, Garasi10 kembali aktif dimulai dengan pemutaran film. Film yang dihadirkan adalah 2046 karya Wong Kar-wai. Film tahun 2004 ini kemudian dibahas oleh narasumber yang merupakan lulusan filsafat dan ilmu politik dari University of Amsterdam, Roy Voragen.


Film 2046 secara garis besar bercerita tentang Mr. Chow (Tony Leung) yang berjuang untuk menemukan cinta -di masa lalunya- yang menurutnya ideal. Cinta itu jatuh pada seorang perempuan bernama Su-Lizhen. Perjalanan mencari cinta yang hilang ini membawanya pada petualangan bercinta dengan sejumlah perempuan -Sesuatu yang sesungguhnya tidak membuat Mr. Chow mampu menerima takdirnya bahwa ia pergi mencari cinta yang "tak mungkin kembali"-. Mr. Chow pada akhirnya hanya bertemu dengan kekecewaan. 

Roy memaparkan pemikirannya tentang 2046 yang diterjemahkan oleh Margaretha Nita.
Meski alur ceritanya tampak sederhana, namun Roy mengakui bahwa film ini, "Tidak mudah sama sekali untuk dipahami." Ia memaparkan sejumlah pemikirannya berkaitan dengan film ini. Misalnya, "Ini adalah film yang bercerita dari sudut pandang orang pertama. Dampaknya, kita sulit sekali untuk memahami film ini secara lebih luas. Perspektif orang pertama menghadirkan suatu perasaan yang 'sempit' dan sedikit banyak memberikan nuansa keputusasaan bagi kita karena tak sanggup memahaminya." Lalu Roy memberikan sedikit perbandingan, "Beberapa dari kita mungkin sudah menyaksikan Pulp Fiction karya Quentin Tarantino. Film itu berisi potongan-potongan cerita yang disusun secara non-linear. Jika kita susun berdasarkan urutan waktu, maka kita akan menemukan film yang sama. Tapi 2046 tidak. Meski ia non-linear, namun jika kita coba susun berdasarkan urutan waktu, maka filmnya akan lain sama sekali. Konsep ruang dan waktu dalam film ini sangatlah kuat. Kita melihat lompatan demi lompatan peristiwa memang mempunyai makna yang mendalam untuk membentuk kejiwaan Mr. Chow yang desperate untuk menemukan cintanya yang hilang."

Setelah memaparkan sejumlah pandangannya, forum memasuki sesi tanya jawab. Beni Yohanes yang pertama kali mengajukan pertanyaan. Tanyanya, "Dalam film tadi terkandung suatu problematika yang biasa terjadi dalam psikologi Barat. Bagaimana komentar anda tentang kenyataan bahwa sang sutradara adalah orang Timur yang kemungkinannya terbatas dalam mengekspresikan isu-isu Barat?" Pertanyaan Beni ini dijawab Roy dengan, "Hati-hati terhadap kategorisasi Timur-Barat dalam hal ini. Kita tahu kultur begitu penting membentuk kesenian seseorang. Tapi ekspresi seni juga banyak dipengaruhi oleh hal-hal eksternal. Kita tidak bisa begitu saja menuduh Wong (sutradara -red) sebagai 'orang timur' hanya karena dia berasal dari Hong Kong. Pada kenyataannya, ia sama sekali tidak populer di negaranya. Kategorisasi Timur dan Barat mungkin masih relevan untuk beberapa kasus, tapi dalam hal kesenian, kita bisa 'kehilangan banyak' jika menggunakan kategori semacam ini."

Awal Uzhara kemudian angkat bicara. Ia lebih banyak mengomentari sinematografinya yang monoton. Katanya, "Chekov berkata, jika dalam sebuah adegan tergantung senjata, maka senjata itu nantinya harus menembak." Artinya, Pak Awal menanti-nanti kapan sesungguhnya terjadi suatu 'tegangan' dalam film 2046. Pada kenyataannya, dari awal hingga akhir, Pak Awal hanya berhadapan dengan adegan yang itu-itu saja tanpa sedikitpun apa yang Pak Awal ibaratkan sebagai, "Perubahan 'warna'." Namun hal ini dijawab kembali oleh Pak Beni, "Apakah kita bisa membedakan monoton dalam arti struktur penceritaan atau monoton dalam arti tema sentral? Saya rasa memang Wong ini hendak memberikan sensasi keputusasaan dan monotonitas yang berasal dari cinta yang hilang." Pendapat Pak Beni segera diamini oleh Roy. Nita kemudian menambahkan bahwa film 2046 mempunyai sejumlah keterkaitan dengan film-film Wong yang lain. Ia menyebutkan bahwa menonton Days of Being Wild dan In The Mood for Love akan membantu menyusun kepingan pertanyaan yang mengganggu dalam film 2046.

Pak Awal dan istrinya, Ibu Susi Magdalena.
Seperti halnya Waiting for Godot karya Samuel Beckett, sutradara ingin agar penonton ikut merasakan -tidak hanya memahami- konsep yang disuguhkan. Waiting for Godot menyuguhkan tema tentang absurditas menunggu sesuatu yang tak pasti, dan Beckett ingin agar penonton tahu betapa memuakannya menunggu sesuatu yang tak pasti bukan lewat cerita, melainkan lewat ekspresi dari teater itu sendiri. Sama halnya dengan Waiting for Godot, 2046 juga ingin menghadirkan perasaan keputusasaan Mr. Chow itu lewat ekspresi dalam filmnya. Jika akhirnya penonton kecewa, maka demikian pula perasaan Mr. Chow kala cintanya yang hilang tak sanggup ditemukan.

Previous
Next Post »