Film yang Hening, Pikiran yang Berkecamuk


Jumat, 29 Maret 2013

Meskipun tengah dalam suasana libur panjang, namun ternyata tidak menyurutkan sejumlah orang untuk datang ke Garasi10 menghadiri diskusi film The Naked Island (1960) karya Kaneto Shindo. Sebelum orang-orang menyaksikan film tanpa dialog tersebut, Awal Uzhara memberi pengantar singkat bahwa film ini termasuk salah satu favoritnya. Ketika diputar di Moskow tahun 1961 dan memenangkan juara pertama di 2nd Moscow International Film Festival, Pak Awal -dan tokoh perfilman lainnya yakni Usmar Ismail- termasuk salah satu penonton yang duduk dan menyaksikan langsung. 


Film tersebut benar-benar tanpa dialog. Hanya ada musik dan suara audio seperti bunyi air serta tawa dan tangis. Kata Pak Awal sebelum film diputar, "Pada masa itu ada kejenuhan di dunia film dan orang mencari gaya yang baru. Film The Naked Island ini termasuk terobosan, bahkan untuk ukuran kita hari ini." Cerita dalam film tersebut dapat dibilang sederhana. The Naked Island berkisah tentang satu keluarga yang tinggal di sebuah pulau. Di pulau itu hanya ada mereka. Masalahnya, untuk mendapatkan air bersih untuk bercocok tanam, mereka harus pergi menyebrang pulau menaiki perahu. Air yang didapatkan dengan susah payah ini otomatis harus dihemat dengan menyiraminya sedikit demi sedikit saja. Keharuan mulai merasuki dada penonton ketika salah satu dari dua anak laki-laki milik keluarga tersebut meninggal akibat sakit. Sejak itu, Kehidupan rutin yang tadinya disikapi dengan tabah sekarang menjadi lebih berat dari sebelumnya. 
Pak Awal (paling kanan depan) menyimak pendapat peserta.
Ketika diskusi dimulai, Pak Awal menyerahkan pada para penonton yang jumlahnya sekitar dua puluh orang untuk berpendapat duluan. Rudy mengatakan bahwa film ini menarik karena suara yang dikeluarkan hanya ketika berhubungan dengan kehidupan manusia yang sifatnya mendasar yakni: air, tawa, dan tangisan. Pak Awal mengangguk setuju ketika Rudy mengatakan, "Film yang hening ini membuat kita harus menciptakan dialog-dialog kita sendiri." Hal ini senada yang diungkapkan oleh Ping yang punya istilah lebih menarik, "Film hening, namun dalam kepala berkecamuk." Ibu Elly kemudian menanggapi soal adegan pria yang seolah lebih dominan daripada perempuan dalam film tersebut. Kata Ibu Elly, "Bahkan dalam tuisan Kanji, perempuan sering digambarkan dalam bentuk yang negatif." Namun lanjut Ibu Elly, pria-pria Jepang bukan berarti kurang menghargai perempuan. Pekerjaan-pekerjaan sulit yang umumnya diserahkan pada perempuan justru menunjukkan bahwa perempuan dianggap punya kekuatan, ketabahan, dan kesabaran.

Ibu Elly memaparkan tentang bagaimana posisi perempuan di masyarakat Jepang.
Pak Setiawan juga tidak lupa untuk bertanya tentang seberapa jauh pengaruh musik dalam film. Karena melihat film The Naked Island tadi, kelihatannya musik cukup dominan dalam menciptakan suasana yang mengharu-biru. Pak Awal menjawab, "Sangat penting sekali. Musik menarik orang ke dalam film sehingga peristiwanya menjadi terasa nyata." Pada umumnya, penonton menyatakan puas akan filmnya. Rata-rata dari mereka merasa bahwa pengalaman menyaksikan film tanpa dialog ini adalah pengalaman baru. Pak Awal sendiri, sambil berkaca-kaca, mengatakan meski terakhir ia menonton film ini enam puluh tahun silam, namun ia tidak sedikitpun kehilangan kesan baik tentangnya. Ia pun mengagumi para peserta yang dianggapnya bisa memahami film tersebut. Karena suatu ketika, Pak Awal pernah memutar film ini di hadapan mahasiswanya dan malah dianggap tidak seru sama sekali. Kata Pak Awal, "Harus diakui, untuk memahami suatu film, sosio-estetika kita harus bisa mencapai film tersebut. Jika tidak, maka tidak akan mengerti."

Para peserta pun pulang untuk lebur bersama libur panjang. Mungkin dengan pikiran yang berkecamuk, tidak tenang ingin menangkap segala keheningan dalam bahasa.


Previous
Next Post »