Membayangkan Nasib Kotov

Jumat, 4 Januari 2012

Setelah minggu lalu mengapresiasi dua film Rusia sekaligus yakni Battleship Potemkin dan Admiral, Garasi10 kembali mengadakan acara serupa di Jumat kemarin. Kali ini film yang diapresiasi adalah Utomlyonnye Sontsem atau Burnt by The Sun karya Nikita Mikhalkov. Selain diapresiasi, tentu saja film itu didiskusikan juga bersama Pak Awal Uzhara.

Meski berdurasi cukup panjang, yaitu 135 menit, namun film yang meraih Piala Oscar untuk Film Berbahasa Asing Terbaik tahun 1994 ini tidak membosankan sama sekali. Padahal, isi dari film ini hanyalah berupa dialog-dialog yang digambarkan berlangsung dalam satu hari saja. Burnt by The Sun berkisah tentang seorang pahlawan perang bernama Sergei Petrovich Kotov (Nikita Mikhalkov). Ia, yang tengah berlibur bersama keluarganya, mendapatkan interupsi setelah seorang warga lokal meminta tolong Kotov untuk menghalau sejumlah tentara Rusia yang berupaya menghancurkan ladang gandum atas perintah atasannya. Setelah Kotov kembali ke keluarganya, adegan kemudian hanya berkutat di obrolan dan keceriaan diantara mereka. Namun persoalan terjadi ketika Mitya (Oleg Menshikov) bergabung bersama keluarga mereka. Mitya bukan orang asing bagi keluarga tersebut. Ia pernah bertunangan dengan perempuan yang menjadi istri Kotov sekarang yaitu Maroussia (Ingeborga Dapkūnaitė).

Mitya adalah pribadi yang menyenangkan sehingga mudah sekali ia untuk diterima di tengah keluarga yang tengah berlibur tersebut. Ia adalah orang yang jenaka dan sekaligus pandai bermain musik. Namun Mitya mempunyai rahasia. Ia adalah juga agen rahasia untuk polisi politik milik Uni Soviet era Stalin, NKVD. Ia punya maksud menangkap Kotov untuk sejumlah tuduhan, salah satunya sebuah kekesalan pribadi yaitu tuduhan Kotov telah mencuri tunangannya dulu, Maroussia. Film tersebut menjadi menarik karena di dalamnya terdapat sejumlah intrik antara Kotov dan Mitya, namun terjadi dalam suasana keluarga yang penuh dengan kegembiraan.

Film tersebut menyisakan keheningan cukup panjang setelah diputar. Peserta yang jumlahnya delapan membayangkan nasib Kotov yang di film tersebut disisakan tak bervisualisasi. Hal tersebut diungkap oleh Pak Awal sebagai mirip dengan bagaimana Anton Chekov (penulis) bercerita. Dalam novel-novelnya, Chekov sering menyerahkan bagaimana akhir ceritanya pada pembaca. Beben kemudian bertanya, "Ketika film tersebut dibuat, tahun 1994, adalah era dimana Mikhail Gorbachev berkuasa. Bagaimana posisi Stalin di mata masyarakat Rusia ketika itu?" Pak Awal, sebelum menjawab pertanyaan tersebut, memaparkan terlebih dahulu bagaimana perjalanan kepemimpinan di Rusia pasca Stalin. Pak Awal bercerita secara detail mulai dari Kruschev, Brezhnev, Andropov, Gorbachev, hingga Yeltsin. Perubahan tampuk kekuasaan tersebut juga berpengaruh pada bagaimana Stalin dicitrakan. "Stalin, ia pernah dimumikan bersebelahan dengan Lenin. Namun rakyat tidak suka. Jadi Stalin akhirnya dikuburkan saja seperti manusia biasa," kata Pak Awal. Jadinya, ketika film tersebut dibuat, kata Pak Awal, citra Stalin memang tengah tidak baik. "Sepertinya, nama Stalin dalam sejarah Rusia bisa dibilang selalu buruk," tukas Pak Awal.

Pak Awal kemudian meneruskan ceritanya tentang Stalin. "Stalin, saking kejamnya, ia pernah enggan menukar tawanan perang. Jerman menyekap anaknya, sedangkan Soviet menyekap salah seorang jenderal milik Jerman," kata Pak Awal yang kemudian mengutip ucapan Stalin, "Saya tidak mau menukar monyet dengan seorang jenderal." Kata "monyet" disini, Pak Awal menambahkan, mengacu pada anaknya. Perbincangan kemudian menjadi masuk ke bagaimana Burnt by The Sun banyak juga menyuguhkan refleksi kebudayaan Rusia. "Kita akan paham film tersebut sepenuhnya jika sedikit banyak belajar tentang kebudayaan Rusia," ujar Ibu Susi Magdalena, istri dari Pak Awal yang setia mendampingi. Ibu Susi mencontohkan tentang bagaimana orang Rusia, meskipun namanya hanya satu, tapi bisa dipanggil hingga ke empat puluh panggilan. Beliau juga memberi contoh bagaimana orang Rusia, meski sebagian besar ateis, tapi banyak diantaranya memercayai takhayul yang diperoleh dari tradisi lokal.


Demikian obrolan berlangsung nyaris satu setengah jam. Peserta betah berdiam diri mendengarkan cerita demi cerita yang terlontar dari Pak Awal. Hingga waktunya beranjak, Pak Awal menukaskan kalimat yang mengharukan, "Terima kasih saya ucapkan pada kalian, saya menjadi merasa akan berumur panjang." Kami semua tertawa sambil terkagum-kagum betapa Pak Awal, dalam usianya yang 82, masih sangat bersemangat dan masih piawai dalam mengingat banyak hal.

Previous
Next Post »