Catatan Awak Garasi di AIAE (Hari Ketiga)

Sabtu, 19 Januari 2012

Di hari ketiga ini, rombongan tidak berangkat sepagi biasanya. Mereka diperbolehkan berkumpul pukul sembilan untuk kemudian menuju Museum of Contemporary Art (MOCA) yang terletak relatif jauh dari hotel.

Lewat cerita yang diperoleh via tour guide, MOCA ini dimiliki oleh seorang miliuner bernama Boonchai Bencharongkul yang senang mengoleksi karya-karya seni. Dalam katalog kecil yang dibagikan secara gratis bagi pengunjung, terdapat tulisan bahwa museum ini ditujukan untuk Raja Rama IX dan Profesor Silpa Bhirasri, yang disebut sebagai "Bapak Seni Kontemporer Thailand". Gedung museum ini terbilang spektakuler. Ia terdiri dari lima lantai dengan desain arsitektur yang modern. Untuk mencapai lantai demi lantai, terdapat pilihan ingin menggunakan tangga, lift, atau elevator.  Pengamanannya pun ketat: para rombongan dilarang membawa tas dan berbagai alat tulis. Anak di bawah umur pun harus diawasi secara serius. Normalnya, untuk memasuki MOCA, pengunjung umum harus membayar 180 Bath (sekitar 60.000 rupiah). Namun, kata pemandu, "Kita punya hubungan baik dengan museum ini, sehingga mereka membiarkan kita masuk secara gratis!"

Para rombongan kemudian berkeliling, mengitari museum besar tersebut selama kurang lebih satu setengah jam. Di dalamnya, selain karya seniman-seniman Thailand, juga terdapat seniman-seniman Asia lainnya. Bahkan sejumlah karya dari Eropa juga dipajang di sebuah ruangan khusus bernama Robert Green. Karya yang dipajang amat beragam mulai dari mulai dari karya patung, lukis, instalasi, hingga dokumentasi land art. Terdapat juga karya berukuran amat besar yang bertemakan surga, neraka, dan bumi. Tata letak karya-karya ini sudah ditata sedemikian rupa sehingga nyaman untuk dilihat berkeliling. Sehingga lima lantai pun tidak terasa melelahkan untuk dijelajah.

Setelah makan siang di King Power, rombongan kemudian dipulangkan ke hotel untuk beristirahat. Waktu istirahat ini terbilang singkat, hanya 45 menit sebelum dijemput kembali. Tujuan berikutnya adalah menghadiri pembukaan pameran AIAE itu sendiri. Tiba di galeri, rombongan langsung berkeliling melihat-lihat karya-karya seniman peserta AIAE yang kali ini mencapai jumlah peserta terbanyak (mencapai 21 negara, dengan Afghanistan, Bangladesh, dan Iran, bergabung). Pameran ini berlangsung dalam dua lantai. Di lantai kedua, dipajang karya para peserta workshop yang seminggu lebih dahulu tiba mendahului delegasi lain. Salah satu karya peserta workshop ini adalah wakil dari Indonesia, Patra Aditia. Setelah kurang lebih satu jam berkeliling, tibalah acara pembukaan AIAE ke-27 yang diawali dengan sejumlah sambutan, termasuk dari Menteri Kebudayaan Thailand. Sesuai tradisi, pembukaan AIAE selalu dilakukan dengan gunting pita bersama oleh wakil dari masing-masing negara yang disebut dengan chairman.



Setelah acara pembukaan formal tersebut, para rombongan kembali berbaur dalam suasana cocktail party yang hangat.

Previous
Next Post »