Catatan Awak Garasi di AIAE (Hari Kedua)

Jumat, 18 Januari 2013


Pagi itu, rombongan sudah harus turun dari kamarnya kurang dari pukul tujuh untuk sarapan. Pukul delapan, rombongan yang jumlahnya jika ditotal mencapai lebih dari dua ratus orang, harus segera berkumpul di lobi untuk kemudian memasuki bis. Bis ini kemudian akan membawa rombongan AIAE ke wilayah Ayutthaya -ke utara Bangkok sekitar sembilan puluh menit- untuk melihat sejumlah candi peninggalan raja-raja terdahulu.

Meski relatif memakan waktu lama, namun perjalanan ini terasa singkat dikarenakan tour guide yang memandu rombongan selama di bus, cukup atraktif. Ia tampil enerjik dan dengan bahasa Inggris yang fasih, sering sekali menyisipkan humor-humor yang segar. Pengetahuan sejarahnya pun sangat baik. Pemandu tersebut memaparkan sejarah wilayah Ayutthaya yang dahulunya didiami raja-raja yang secara turun temurun bernama Rama. Kekuasaan Ayutthaya acapkali mendapat tantangan dari Burma yang terus menerus mengobarkan perang. Tour guide yang akhirnya diketahui bernama Perisha itu pun memaparkan fakta menarik, "Bangkok adalah kota dengan nama terpanjang di dunia." Nama asli Bangkok adalah: Krung Thep Mahanakhon Amon Rattanakosin Mahinthara Ayuthaya Mahadilok Phop Noppharat Ratchathani Burirom Udomratchaniwet Mahasathan Amon Piman Awatan Sathit Sakkathattiya Witsanukam Prasit.

Kemudian rombongan pun diajak mengunjungi sejumlah kuil dimana citra Buddha dipampang dimana-mana. Selain citra Buddha yang dikenal secara umum, terdapat juga patung bhiksu yang sepertinya cukup populer karena di empat kuil yang dikunjungi, penampakannya selalu ada. Menurut pemaparan Perisha, "Bhiksu ini dikenal sebagai orang suci, karena sanggup mengubah air laut menjadi air yang bisa diminum. Padahal, ia dan penduduk sekitar berada pada kondisi kritis: terjebak di pulau terpencil, tanpa pangan dan air bersih. Tidak heran sosoknya kemudian diabadikan. Keberadaannya sendiri belum lama, ia hidup di sekitar 150 tahun silam." Perisha juga memaparkan tentang kepercayaan di Thailand yang umumnya berupa Buddha beraliran Hinayana (kereta kecil). Namun, lanjut sang pemandu, pemerintah di Thailand sangat mendukung keragaman agama yang berkembang di negaranya. Agama-agama lain seperti Islam, Kristen, Hindu, Konfusius, ataupun Buddha Mahayana, dikelola sedemikian rupa sehingga dapat hidup berdampingan. Salah satu citra Buddha yang menarik adalah The Reclining Buddha, yaitu citra Buddha yang tengah berbaring, menopang kepalanya dengan tangan kanan.



Setelah mengunjungi sejumlah kuil, rombongan pun kembali ke Bangkok. Namun acara belum selesai karena panitia langsung memandu untuk berbelanja selama kurang lebih satu jam di Asiatique. Pusat perbelanjaan ini menarik karena berada langsung di pinggir sungai terkenal yang membelah Bangkok: Chao Praya. Kesempatan ini tidak disia-siakan. Pasca berbelanja, rombongan diajak untuk menaiki kapal menyusuri sungai tersebut. Perjalanan berakhir dengan makan malam hangat, diringi musik organ tunggal yang mana salah satu penyanyinya menampilkan performa yang aneh tapi juga sekaligus luar biasa -bisa bernyanyi dalam dua suara sama bagusnya: suara laki-laki dan perempuan-.

Sementara di tempat lain, beberapa anggota delegasi Indonesia memilih untuk tidak ikut makan malam. Patra Aditia, WIlly Himawan dan Dimas Arif Nugroho harus melakukan display di galeri. Karena esok harinya, tanggal 19, pameran akan dibuka. 

Previous
Next Post »