Membongkar Mitos


Rabu, 5 Desember 2012

Ami mengajar sambil memangku anaknya, Fio.
Setelah sempat libur minggu sebelumnya oleh sebab kesibukan sang mentor, Rosihan Fahmi, pertemuan kedua kelas filsafat eksistensialisme Albert Camus kembali dilanjutkan pada Rabu kemarin. Kelas diawali dengan cerita seru mengenai mitos Sisifus - sebagai salah satu kisah dalam mitologi Yunani yang rajin diangkat dalam pemikiran Camus-.


Sisifus adalah seorang raja yang dihukum oleh Zeus untuk mendorong batu besar ke atas bukit untuk selama-lamanya. Setelah batu itu sampai di atas bukit, batu menggelinding kembali ke bawah, demikian ad infinitum. Sebelum masuk ke pembahasan mengenai Sisifus, Kang Ami lebih dahulu bertanya, "Apakah kita bisa lepas dari mitos?"Bagaimanapun, lanjut Ami, tidak hanya Camus, melainkan juga misalnya Nietzsche, menggunakan mitologi sebagai bagian dari penjelasan rasionalnya. "Artinya, apakah mitos mengandung rasionalitas?" tukas Ami membuka wacana.

Kemudian Ami menuju papan tulis, menuliskan tentang klaim kebenaran yang terbagi berdasarkan sejumlah paradigma seperti agama, filsafat, dan sains. "Ada satu paradigma kebenaran yang hari ini dianggap usang, yaitu mitos," kata Ami. Kemudian kelas menjadi seru mendiskusikan bagaimana mitos masih tidak bisa dilepaskan dari manusia modern. Ia bahkan terkandung dalam ilmu logika maupun matematika. Arden bahkan menambahkan, bahwa mitos adalah "rasionalitas yang kehilangan benang merah dengan kenyataan". "Bisa saja," tambah Arden, "Dulunya Semar itu orang. Tapi karena Semar merupakan manusia unggul, maka ia dimitoskan menjadi semacam dewa. Jangan-jangan, proses dari mulut ke mulut itu yang menyebabkan mitos. Padahal di mulanya bisa jadi ia adalah fenomena yang nyata."

Pada tingkat tertentu, lanjut Ami, "Kita semua datang ke tempat ini oleh sebab percaya bahwa tempat ini mengandung faedah tertentu." Artinya, ada kepercayaan, ada mitos, ada yang tidak bisa dipertanyakan. Sambil menunggu Ami yang sibuk menidurkan anaknya, Arden "mengambil alih" sejenak dengan mengajak diskusi soal bilangan nol yang katanya "ketakterhinggaan". Tak cukup sampai disitu, Arden kemudian mempraktekkan bagaimana dalam satu menit, ia bisa mengubah metafisika menjadi fisika. Demonstrasi dilakukan secara bersama-sama, dimulai dengan meminta peserta kelas lain menempelkan kedua tangannya berdasarkan garis di pergelangan (agar lurus). Ternyata, jari tengah sebelah kanan lebih panjang beberapa mili dibanding yang kiri. Lalu Arden mengajak meditasi sedikit, meminta seluruh peserta untuk berpikir dalam hati, fokus pada memanjangkan jari tengah kirinya. Setelah disamakan kembali dengan pergelangan tangan, ternyata beberapa peserta seperti Rudy dan Kape, menemukan jari tengah kirinya lebih panjang!


Ternyata eksperimen Arden ini menjadi penutup. Ami mengajak aplaus sambil berkata, "Semoga pembongkaran mitos ini menjadi jalan masuk yang berharga untuk memahami Camus."


Previous
Next Post »