Catatan di Tahun Keempat Garasi10

Di tahun 2012 yang sebentar lagi berlalu, Garasi10 cukup aktif melakukan berbagai macam kegiatan. Meski awal tahun agak tersendat karena persiapan pernikahan salah satu punggawa yaitu Syarif Maulana, namun Garasi10 kemudian berturut-turut menyelenggarakan sejumlah kegiatan. Berikut catatan aktivitas Garasi10 sepanjang tahun 2012:

1. Penyelenggaraan Banyak Kelas
Di tahun 2012, Garasi10 mulai berani untuk membuka lebih banyak kelas dimana beberapa diantaranya dilaksanakan dalam periode yang bersamaan. Kelas-kelas tersebut yaitu: Kelas Cabang-Cabang Filsafat, Kelas Teori Musik Dasar, Kelas Filsafat Eksistensialisme Soren A. Kierkegaard, Kelas Filsafat Eksistensialisme Friedrich Nietzsche, Kelas Eksistensialisme Jean Paul Sartre, Kelas Filsafat dalam Film, Kelas Komposisi Musik Dasar, dan Kelas Dasar-Dasar Logika.

2. Konsistensi Kelas Filsafat Eksistensialisme
Tahun 2012 juga perlu dicatat sebagai keberhasilan konsistensi Kelas Filsafat Eksistensialisme yang diasuh oleh Rosihan Fahmi. Meski mengawali kelasnya dengan hanya tiga orang di pembahasan mengenai Soren A. Kierkegaard, pelan-pelan di kelas berikutnya peserta semakin bertambah. Hal tersebut tidak lepas dari kerja keras Kang Ami (panggilan Rosihan Fahmi) dalam mendesak para peserta untuk mengumpulkan tulisan. Tulisan tersebut kemudian dirangkum dalam buku yang hingga akhir tahun 2012 sudah termanifestasikan sebanyak tiga buah. Buku tersebut adalah Eksistensialisme Telanjang, Filsafat Martil, dan Mengintip Filsafat Sartre.

3. Fenomena Bambang Sapto
Satu fenomena menarik juga terjadi di salah satu kelas yang dibuka di bulan Januari dan Maret yaitu Kelas Cabang-Cabang Filsafat dan Kelas Filsafat dalam Film. Fenomena tersebut adalah keberadaan Pak Bambang Sapto yang notabene berusia paling tua diantara yang lainnya. Usianya 67 tahun dan beliau tengah mengambil kuliah S3 di ITB. Meski paling tua, beliau sangat bersemangat dalam mengikuti pelajaran dan tidak pernah sekalipun absen di total pertemuan keseluruhan. Hal tersebut memberikan suntikan energi tersendiri bagi sejumlah peserta lainnya.

4. Pergantian Manajer Operasional
Tahun 2012 juga ditandai dengan pergantian manajer kegiatan dari Bilawa Ade Respati ke Diecky K. Indrapraja. Bilawa mengakhiri masa jabatannya karena harus pergi ke Jerman untuk melanjutkan studi. Meski relatif singkat, namun Bilawa sukses menata sejumlah kegiatan seperti Kelas Filsafat Ilmu, Workshop Filsafat Yoga bersama Dada Liilananda, Musik Cianjuran, dan Musik Keroncong. Bilawa juga punya andil besar dalam meletakkan sistem administrasi dasar di Garasi10 yang tadinya masih kurang cakap dalam mengatur keuangan. Kehadiran Diecky pun tidak berlangsung lama karena keharusannya untuk melaksanakan persiapan pernikahan. Posisi manajer operasional akhirnya dikembalikan pada Syarif.

5. Warung Kejujuran
Untuk menopang ekonomi, tahun 2012 ini Garasi10 mencoba menghidupi dirinya sendiri dengan cara berjualan aneka snack dan minuman ringan. Warung kejujuran ini dijalankan tanpa penjaga. Masing-masing pembeli melayani dirinya sendiri.

6. Peningkatan Intensitas Kegiatan
Sejumlah kegiatan diadakan di Garasi10 sepanjang tahun 2012. Mulai dari Diskusi Kasundaan, Diskusi Buku Metodologi Penelitian Seni, Diskusi Lukisan Cadas Purba, Diskusi Mainan Anak, Diskusi Karma dalam Pandangan Yoga, Diskusi Tubuh Astral hingga Pameran Komik, Musik Keroncong, dan Musik Cianjuran. Hal tersebut belum termasuk beberapa kegiatan lain seperti workshop membatik dan penggunaan ruangan untuk konferensi pers acara Fiesta Film Independen Bandung.

7. Keberadaan Ruang Baru
Selain garasi induk yang biasa digunakan sehari-hari untuk menyimpan mobil, Garasi10 juga memperluas cakupan kegiatannya ke ruang sebelah. Ruangan tersebut selain pernah digunakan beberapa kali untuk penyelenggaraan kelas, juga digunakan untuk menjual beberapa merchandise.

8. Penutup Bersama Awal Uzhara
Sebagai penutup tahun 2012, Garasi10 mengadakan Apresiasi Sinema Rusia bersama Awal Uzhara. Dua film yang ditonton yaitu Battleship Potemkin (1925) dan Admiral (2008) dipandu dengan baik oleh Pak Awal yang amat berpengalaman -lima puluh tahun tinggal di Rusia, salah satunya dengan berkuliah di Institut Sinematografi Moskow-.

Renungan dab harapan Pak Setiawan Sabana sebagai pemilik Garasi10 adalah, "Small is powerfull. Semoga ruangan kecil ini selalu punya dampak besar. Fenomena kesenian kontemporer tidak lagi identik dengan ruang-ruang besar, melainkan justru semakin segmented. Kita harus semakin sadar bahwa dunia kekinian semakin jauh dari fenomena narasi besar modernisme. Meski sekilas tampak semakin terpecah belah, namun ekses positifnya, suara-suara minor bisa lebih terfasilitasi. Peristiwa seni menjadi muncul dari fenomena lingkup sosial terkecil seperti keluarga, tidak lagi dari apa-apa yang dulu dianggap adiluhung."


Previous
Next Post »