Balada Potemkin yang Tidak Otentik

Jumat, 28 Desember 2012

Apresiasi Sinema Rusia bersama Awal Uzhara berlangsung perdana di Garasi10. Sesuai jadwal, film yang diputar ada dua, keduanya bertemakan tentang kapal perang. Yang pertama berjudul Battleship Potemkin tahun 1925, yang kedua adalah Admiral tahun 2008. 

Selain sama-sama berkisah tentang kapal perang, Pak Awal juga ingin membandingkan sudut pandang dari kedua film tersebut. Potemkin boleh dibilang berkisah dari sudut pandang kubu komunis, yang sering juga disebut tentara merah. Sedangkan Admiral adalah kisah tentang Alexander Kolchak, seorang tentara yang setia dibawah panji Tsar alias tentara putih. Potemkin punya nilai propaganda karena dibuat di jaman Lenin yang segala-gala seni harus punya fungsi bagi kelangsungan ideologi. Admiral, bagi Pak Awal, biasa-biasa saja secara artistik, namun ia punya kedalaman sejarah.

Sesi pertama berlangsung terlambat. Harusnya dimulai pukul tiga, film baru diputar pukul empat disebabkan keterlambatan peserta. Setelah mulai diputar, satu per satu peserta berdatangan hingga jumlahnya mencapai dua belas. Potemkin yang berdurasi 72 menit tersebut ceritanya diawali dari pemberontakan kelasi kapal yang kecewa pada daging yang sudah busuk. Pemberontakan tersebut, meski berhasil, namun menelan sejumlah korban. Korban tersebut menimbulkan kemarahan masyarakat yang lebih luas. Namun tanpa sempat menumpahkan kekesalannya, di tangga Odessa mereka dibantai oleh pasukan Tsar.

Selesai film yang digadang Pak Awal sebagai "salah satu dari sepuluh film terbaik di segala waktu" tersebut, secara mengejutkan beliau mengungkapkan kekecawaannya. Katanya, "Banyak perubahan serius pada filmnya. Ini sudah jauh melenceng dari yang digarap oleh Eisenstein." Apa yang diucap beliau nampak valid, karena Pak Awal menghabiskan lima puluh tahun di Moskow untuk salah satunya mempelajari secara serius film tersebut. Ditambah lagi, Eisenstein satu almamater dengannya: Institut Sinematografi Gerasimov. Namun Pak Awal sendiri merasa sudah biasa dengan "pembelokan" karya-karya Rusia. "Tidak hanya di film, di karya sastra sendiri banyak sekali novel Rusia yang diterjemahkan tidak sesuai aslinya," tukasnya. Potemkin yang satu ini, kata Pak Awal, berbeda di akhir cerita, pun montage-montage-nya cenderung membosankan. "Eisenstein tak mungkin melakukan itu," ujarnya.

Acara dilanjutkan dengan pemutaran film kedua yaitu Admiral. Film kedua ini cukup panjang yaitu 123 menit. Admiral berkisah tentang cinta segitiga Aleksander Kolchak-istrinya-Anna Timireva. Kisah cinta tersebut mengambil latar ketika rezim Tsar berada pada ujung sejarah. Mereka akan segera digulingkan oleh saudaranya yaitu tentara merah pimpinan Lenin yang berideologi komunis. Revolusi tersebut sering disebut dengan Revolusi Bolshevik.

Selesai film yang berdurasi cukup panjang tersebut, diskusi berlangsung singkat saja karena jam sudah menunjukkan waktu setengah sembilan. Pak Awal mengakui bahwa aspek historis jauh lebih bisa menjadi pelajaran dari film tersebut, ketimbang aspek filmis. "Sejarah yang termuat dalam film Admiral bisa dibilang cukup netral, tidak banyak unsur propaganda atau keberpihakan," ujar Pak Awal sembari menekankan bahwa Aleksander Kolchak itu memang nyata adanya. Pak Awal juga sekaligus menunjukkan keprihatinannya tentang anak muda di Rusia sekarang yang sudah tidak lagi memperingati Revolusi Oktober -dulu dinamakan Revolusi Bolshevik-. Sekarang orang-orang berubah menjadi memperingati 12 Januari, atau hari kemenangan Boris Yeltsin. Meski demikian, berulangkali Pak Awal katakan, "Orang-orang Russia tetap punya penghargaan tinggi terhadap sejarah. Bagus atau jelek, mereka simpan dan tidak ditutup-tutupi sama sekali."
Pak Awal (kedua dari kiri) tengah menerangkan tentang sejarah Rusia era Revolusi Bolshevik. 

Pak Awal masih menyimpan banyak energi untuk minggu depannya. Ia akan kembali mempresentasikan film Russia lain berjudul Burnt by The Sun (Utomlyonnye Solntsem). 

Previous
Next Post »