Konferensi Pers Fiesta Film Independen Bandung

Kamis, 29 November 2012

Pagi menjelang siang, tidak biasanya, di Garasi10 sudah terjadi aktivitas cukup ramai. Sejumlah awak dari Langit Inspirasi tampak sibuk menata kursi, meja, serta menghidangkan makanan dan membentangkan spanduk. Rupanya akan ada konferensi pers terkait dengan acara Fiesta Film Independen Bandung 4 Desember nanti. 
 

Hampir setiap hari, Langit Inspirasi yang dikomandoi oleh Sophan Ajie, mengambil tempat di Garasi10 untuk rapat. Kegiatan yang digagas dalam waktu relatif singkat ini membuat mereka mesti memeras otak secara intensif. Konferensi pers yang diadakan kemarin ini menghadirkan Sophan Ajie, Syarif Maulana, Awal Uzhara, dan Setiawan Sabana sebagai narasumber. Dua nama pertama adalah wakil dari panitia, sedangkan dua nama yang disebut terakhir adalah wakil dari tim seleksi.

Sophan Ajie membuka konferensi pers ini dengan memaparkan latar belakang acara. "Saya ingin agar penggiat film independen lebih dihargai, terutama mereka yang berasal dari kaum non-urban. Dengan akses teknologi yang semakin meluas, penggiat film tidak lagi datang dari mereka yang berada di kota," terang Sophan. Lebih lanjut, ia juga menceritakan tentang tema FFIB ini yaitu "Inspirasi dari yang Kecil", "Semua yang berkaitan dengan penyelenggaraan ini dimulai dari yang kecil. Tempat kumpul kami, Garasi10 ini, adalah tempat kecil. Awal mula ide ini terealisasikan juga datang dari nongkrong santai di warung kopi. Nantinya, film-film yang masuk pun diharapkan bisa menginspirasi temanya dari yang kecil. Meskipun tentu saja, apa yang dikatakan 'kecil' ini nanti bisa didiskusikan."

Awal Uzhara, ketua tim seleksi, mendapat giliran berikutnya. Bapak berusia 82 tahun yang ini baru saja pulang dari Rusia, setelah tinggal disana selama puluhan tahun, untuk salah satunya bersekolah di jurusan film. Menanggap tema "Inspirasi dari yang Kecil" yang sudah diusung Sophan tadi, Pak Awal bercerita tentang sekolah yang didirikan Muhammad Syafi'i, yang juga pada awalnya hanya beralaskan papan di dalam ruangan yang sungguh kecil. Sekarang, sekolah itu sudah berkembang pesat dengan fasilitas dan teknologi terdepan. Pak Awal kemudian bercerita tentang film Battleship Potemkin tahun 1925 karya Sergei Eisenstein yang mengambil inspirasinya juga dari hal kecil: sebuah tangga di kota Odessa.

Pak Awal Uzhara memilih untuk berdiri dalam menyampaikan paparannya.

Setiawan Sabana juga bercerita tentang pengalamannya menonton Rambo versi Russia di sebuah rumah kecil di daerah Pajajaran. Lewat kegiatan menonton rutin di rumah tersebut -yang dihadiri cuma lima atau enam orang-, lahir juga ide membuat festival film yang cukup besar. "Hanya sedikit usul, untuk penyelenggaraan berikutnya, bagusnya diperhitungkan juga kategori media pembuatan filmnya. Sekarang orang bisa membuat film dari telepon genggam. Mereka yang menggunakan media sederhana harus mendapat apresiasi. Karena tidak fair jika harus dipertandingkan melawan mereka yang sudah canggih alatnya," ujar Pak Setiawan sembari memberi saran bagi panitia.

FFIB adalah yang pertama diselenggarakan di Bandung. Kata Sophan, "Yang pertama ini akan dilangsungkan secara sederhana. Namun yang terpenting adalah kekontinyuan. Rencananya, seterusnya ini akan menjadi agenda dwitahunan." FFIB ini akan diawali oleh diskusi dengan topik "Film Independen dan Gaya Hidup Masyarakat". Setelah itu, acara dilanjutkan dengan malam anugerah, yaitu pembacaan sejumlah pemenang. FFIB yang diselenggarakan tanggal 4 Desember ini, digelar di Gedung Asia Africa Cultural Centre mulai pukul 16.30 hingga pukul 21.00.

Previous
Next Post »