12 Angry Men (1957) dan Aplikasi Logika

Selasa, 5 November 2012

Tidak seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya yang menyuguhkan sejumlah teori, Kelas Pengantar Logika kali ini berlangsung lebih santai. Para peserta diajak untuk menyaksikan sebuah film yang menunjukkan bagaimana logika diaplikasikan. Film tersebut berjudul 12 Angry Men (1957).

Film berdurasi sekitar satu setengah jam ini hanya berkutat di satu latar saja, yakni ruang juri. Juri yang dimaksud disini adalah bagian dari sistem peradilan Amerika Serikat yang menganut gaya Anglo-Saxon. Sistem pengadilan Anglo-Saxon menyerahkan putusan benar salah pada dua belas juri yang ditunjuk secara acak oleh pemerintah. Tugas hakim disini -beda dengan sistem Eropa Kontinental yang sentral dalam memutuskan benar salah- adalah menjaga agar persidangan tetap berjalan sesuai prosedur. Dalam film 12 Angry Men yang disutradarai oleh Sidney Lumet ini, keduabelasnya berdebat tentang sebuah kasus pembunuhan yang ditengarai dilakukan oleh anak laki-laki kepada ayahnya. Awalnya, sebelas orang menyatakan bersalah dan satu orang menyatakan tidak bersalah. Namun dengan sejumlah argumen yang meyakinkan, pelan-pelan satu orang tersebut bisa membuat satu persatu mereka yang menyatakan bersalah berubah pendiriannya.

Film dengan satu latar ini mencontohkan dinamika obrolan yang mempunyai muatan logika sangat kuat. Mereka tidak menggunakan nama-nama sedikitpun. Hanya nomor urut juri, tersangka disebut dengan "si anak", korban disebut "ayah", saksi disebut "orangtua" dan "perempuan di seberang jalan". Hal ini menunjukkan bahwa dalam penggunaan logika, hal-hal yang menyangkut prasangka pribadi harus dikesampingkan. Nama, dalam hal ini, adalah satu acuan yang barangkali menghambat logika dalam berpikir objektif. Maka itu, logika sering dianalogikan sebagai "dingin". Berbanding terbalik dengan intuisi atau rasa yang cenderung "hangat".

Andra, salah seorang peserta, mempunyai pendapat, bahwa jalan pikir masing-masing juri berbeda, tergantung pengalamannya masing-masing. Tambah Kim, "Juri nomor delapan (ia yang sedari awal menyatakan tidak bersalah -red) adalah seorang arsitek. Ia membayangkan dirinya membangun sebuah bangunan argumen yang kokoh dan meyakinkan." Ping menambahkan, "Saya tiba-tiba ingat novel To Kill a Mockingbird. Seorang pengacara dalam novel itu, Atticus Finch, berkata bahwa 'Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya, hingga kau menyusup ke balik kulitanya dan menjalani hidup dengan caranya.'" Ia berkata hal demikian karena melihat bahwa kesebelas juri yang menyatakan bersalah, selalu mengambil putusan berdasarkan sudut pandangnya sendiri tanpa mempertimbangkan posisi si anak.

Sejumlah pendapat ini membawa peserta pada pertanyaan menarik dari Yura, "Adakah logika itu objektif? Atau ditentukan sejumlah asumsi, yang notabene subjektif?" Logika sering diandaikan universal, ada satu hal yang, menurut Descartes, terlepas dari pengindraan. "Bahkan jika kita sedang merasakan sakit kepala yang amat hebat, segitiga akan tetap bersisi tiga," demikian kata novel Dunia Sophie. Meski ada benarnya, namun hal ini tidak terlalu mudah menjadi acuan bahwa logika pastilah tidak mempertimbangkan aspek penilaian pribadi.

Untuk menutup pertemuan, ditayangkan cuplikan beberapa menit dilema moral berjudul The Trolley Problem. Dalam sebuah kasus kereta barang yang melaju cepat dalam sebuah rel dan akan menabrak empat pekerja, kita dihadapkan pada sebuah tuas. Jika tuas itu ditarik, keempat orang akan selamat namun kemudian kereta barang akan pindah lajur dan menabrak satu orang. Rata-rata peserta menjawab bahwa lebih baik mati satu daripada empat. Kemudian situasinya diganti sedikit. Kereta barang yang akan menabrak empat orang tersebut hanya bisa dihentikan oleh orang gemuk yang berada di atas jembatan. Orang gemuk itu harus kita dorong agar ia terjatuh dan menyebabkan kereta berhenti. Meski secara jumlah sama, membunuh satu demi empat, namun untuk kasus yang satu ini, para peserta enggan mendorong orang gemuk. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan akan satu hal: Jika etika ditentukan oleh logika, tidakkah dilema moral semacam tadi harusnya mudah untuk dijawab?


Previous
Next Post »