Sartre dan Kebebasan

Jumat, 12 Oktober 2012

Sambil menanti proses buffering youtube yang akan menayangkan salah satu drama terkenal karya Sartre berjudul Huis Clos, sang mentor, Rosihan Fahmi, memberi pengantar terlebih dahulu.

Kang Ami mempersandingkan tiga konsep subjek-objek yang ada pada tiga pemikir yakni Sartre, Foucault, dan Pramoedya Anata Toer. Sartre dengan mengintip-nya, Foucault dengan panoptikon-nya dan Pram dengan rumah kaca-nya. Ketiganya bersinggungan dengan kebebasan manusia. Bahwa jika ada yang mengawasi, maka manusia otomatis kehilangan kemerdekaannya. "Konsep ketiganya, jika mau three in one, bisa disaksikan dalam film The Truman Show," kata Kang Ami merujuk pada film garapan sutradara David Weir tahun 1999 tersebut.

Sebagai makhluk yang bereksistensi sebelum esensi, manusia tidak terikat atau terbelenggu pada berbagai pasokan definisi tentangnya. Sebaliknya, definisi tentang dirinya justru ditentukan oleh pilihan-pilihannya sendiri. Manusia, kata Sartre, adalah makhluk yang terus menjadi. Kedua, manusia adalah makhluk berkesadaran, sehingga ia bercitrikan kekosongan, berlawanan dengan kepadatan benda-benda. Manusia tidak pernah terumuskan secara tuntas. Karena manusia selalu berongga, maka manusia bebas. "Meskipun demikian Sartre beranggapan kebebasan bukan berarti tanpa tanggung jawab, kebebasan justru mengindikasikan tanggung jawab," lanjut Kang Ami.

Huis Clos siap ditayangkan..

Huis Clos adalah karya tahun 1944 yang diperankan oleh hanya empat orang. Salah seorang dari mereka, yakni disebut sebagai The Valet, mengantarkan satu per satu orang bernama Joseph Garcin, Inès Serrano dan Estelle Rigault. Mereka diantarkan The Valet menuju tempat yang bernama neraka. Dikira oleh Joseph, Inès, dan Estelle, neraka itu tempat yang dipenuhi alat-alat penyiksaan. Namun setelah lama kelamaan mereka berbincang bertiga, barulah sadar bahwa alat-alat penyiksaan itu tidak ada. Neraka sesungguhnya adalah ketika mereka saling mengobjekkan satu sama lain, "Orang lain adalah neraka."

Setelah menyaksikan beberapa saat, Kang Ami mengarahkan pertanyaannya pada Fio, seorang mahasiswa baru di FSRD ITB. Kang Ami bertanya, "Kamu mahasiswa baru, pasti sering diobjekkan, dibentuk identitasnya oleh kakak kelas. Kapan momen kamu yang paling otentik?"Kata Fio, "Ketika saya berupaya kabur dari ospek." Kang Ami melanjutkan pertanyaannya pada Kape dan dijawab singkat, "Tidak ada." Pertanyaan lalu mengarah pada Freddy, dan dijawabnya, "Ketika bisa mengambil pengobjekkan yang dilakukan oleh orang lain, untuk diramu menjadi diri yang otentik." 

Faktisitas merupakan salah satu pemikiran Sartre atas "fakta-fakta" yang tak terhindarkan dalam kehidupan manusia. Fakta-fakta tersebut, dimata Sartre tidak dapat ditiadakan namun dapat "dilupakan", "diolah", atau dimanipulasi. Kang Ami melanjutkan pembahasannya dengan konsep mauvaise foi atau "keyakinan yang buruk". Bagi Sartre, terdapat dua pilihan hidup bagi manusia, yakni hidup secara otentik atau hidup dengan mauvaise foi. Apa contoh mauvaise foi? Pelayan di toko yang mesti tersenyum ramah pada setiap pengunjung, ia sadar betul bahwa dirinya sedang berakting. Itu Sartre sebut sebagai otentik. Namun ada juga pelayan yang tidak sadar bahwa dirinya tengah berakting. Ia merasa ikut arus menjadi orang lain, sehingga dirinya tidak mungkin menjadi bahagia. Ada penolakan dalam dirinya.



Previous
Next Post »