Pertemuan Perdana Kelas Pengantar Logika

Selasa, 16 Oktober 2012

Kelas Pengantar Logika dimulai malam itu di Garasi10. Pendaftarnya ada tujuh orang termasuk satu diantaranya adalah siswi kelas 3 SMA bernama Yura. Kelas Pengantar Logika ini direncanakan akan berlangsung delapan kali pertemuan. Tidak seperti kelas filsafat pada umumnya yang menitikberatkan pada berpikir reflektif, kelas ini mencoba kembali ke dasar: berpikir tentang pikiran itu sendiri. Wajar jika nantinya ada semacam latihan soal atau pekerjaan rumah, karena untuk memikirkan tentang pikiran, butuh sedikit kedisiplinan.

Rudy mengaku membutuhkan kelas ini, "Saya kerap mengalami masalah ketika bicara ataupun menulis. Semoga dengan belajar logika, cara penyampaian saya makin tertata." Pertemuan pertama ini tidak langsung masuk ke materi, melainkan semacam perkenalan. Misalnya, memahami posisi logika dibandingkan dengan cabang-cabang filsafat lainnya seperti estetika, epistemologi, metafisika, ataupun etika. Estetika, misalnya, mempelajari hakikat keindahan; epistemologi membahas hakikat batas-batas pengetahuan; metafisika membahas hakikat ada; etika membahas hakikat kebaikan. Posisi logika disini adalah mempelajari hakikat pikiran.

Mengapa kita mesti berpikir mengenai pikiran? "Karena dalam setiap gerak, kita berpikir," kata Yura yang juga diamini oleh peserta lainnya. Selain dalam setiap gerak, secara spesifik kita mulai berpikir ketika misalnya, mendapat pertanyaan dari orang lain; ada perubahan dalam lingkungannya; pernyataannya dibantah oleh orang lain maupun diri sendiri; serta dorongan rasa ingin tahu. Dalam buku Daniel B. Calne berjudul Batas Nalar, bahkan kegiatan berpikir itu sendiri direduksi menjadi sekadar sarana untuk memenuhi tujuan utama manusia yaitu makan, minum, tidur dan seks.

Pembahasan kemudian masuk pada prinsip-prinsip dasar dalam berpikir yaitu asas identitas, asas pengecualian kemungkinan ketiga, dan asas non-kontradiksi.
  • Asas identitas berarti segala sesuatu adalah dirinya sendiri (A adalah A; A adalah bukan non A). Rudy adalah Rudy dan bukan Esoy.
  • Asas pengecualian kemungkinan ketiga berarti dalam pernyataan mesti menegaskan, tidak boleh ada dua kebenaran yang tidak bisa dipersandingkan. Misal, "Kamu mau es teh panas?" Hal yang demikian harus dipisah karena mengandung kontradiksi (Es teh tidak mungkin panas) menjadi, "Kamu mau es teh atau teh panas?" Atas penggunaan kata "atau" tersebut, maka harus dipilih salah satunya, karena keduanya jika dipersandingkan tidak bisa bersatu -jika bersatu menjadi kalimat nonsens-. Tidak mungkin kita menjawab, "Saya ingin dua-duanya sekaligus," yang berarti kita memilih kemungkinan ketiga -padahal kemungkinan ketiga itu tidak boleh-. 
  • Asas non-kontradiksi hampir mirip, namun biasanya kata sambung yang dipakai adalah "dan". Tidak boleh ada kalimat misalnya, "Rudy adalah seorang laki-laki dan perempuan." Karena laki-laki dan perempuan adalah hal yang persis berkontradiksi. Tapi masih boleh kalimat semisal, "Rudy adalah seorang yang baik dan ramah," karena baik dan ramah masih identik.
Yang dipelajari di kelas ini nantinya adalah logika informal maupun logika formal. Logika informal terdiri dari konsep, pernyataan, dan kerancuan berpikir. Sedangkan logika formal terkandung di dalamnya berpikir deduktif dan induktif. Sumber buku yang digunakan untuk kuliah ini adalah Introductory Logic dan Intermediate Logic oleh James B. Nance dan Douglas C. WIlson; Logika: Filsafat Berpikir karya A. Soedomo Hadi dan Pengantar Logika oleh B. Arief Siddharta. Minggu depan, kelas akan membahas tentang pendefinisian dan pengklasifikasian.
Previous
Next Post »