Dibuka Pendaftaran Kelas Garasi: Pengantar Logika



Gambar diambil dari sini

Pengantar

Kata Bambang Q-Anees dalam suatu obrolan ringan di tahun 2010, "Berpikir reflektif sebaiknya menjadi tahap lanjutan dari proses berpikir. Pertama-tama, seseorang mesti paham dulu tahap-tahap berpikir yang lebih dasar seperti: Tahu bedanya deduktif dan induktif, analisis dan sintesis, universal dan partikular, dan bagaimana mengecek premis-premis sebelum mengambil kesimpulan."
 
Dalam sebuah artikel di dunia maya, ada tulisan mengenai pendapat seorang ibu tentang tawuran yang sedang marak. Beliau mengomentari maraknya penggunaan celurit untuk tawuran. Katanya, “Celurit itu kan lambangnya komunis, anak-anak yang tawuran itu selalu pakai celurit, itu dapatnya dari mana? Saya lihat di pasar tradisional tidak ada yang jual, di mal-mal juga tidak ada yang jual.” Ia hendak menunjukkan satu logika berpikir bahwa: Komunis telah menyusupi anak-anak yang tawuran dengan mendasari argumennya pada kenyataan bahwa anak-anak tersebut tawuran dengan menggunakan celurit.

Meski sepintas terlihat benar, namun ada permasalahan logika dari pernyataan yang diungkapkan ibu tersebut. Hal lumrah juga sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pembentukan stereotip misalnya, bisa jadi didorong oleh pembentukan premis-premis yang keliru. 

Misalnya: 
Premis mayor: Orang yang memakai sorban adalah teroris. 
Premis minor: Amir memakai sorban.
Kesimpulan : Amir adalah teroris.

Mempelajari logika menjadi penting untuk melacak bagaimana asal mula suatu kesimpulan bisa lahir. Seringkali suatu kesimpulan menjadi keliru, bukan oleh sebab pengambilan kesimpulan itu sendiri, melainkan kelemahan premis-premisnya. Secara praktis, logika juga penting untuk sarana berbicara, menulis, berdebat, serta fondasi yang kokoh sebelum memulai berpikir lebih dalam, tajam, dan reflektif.

Materi Pertemuan

Pertemuan 1 : Apa itu logika?
Pertemuan 2 : Mendefinisikan dan menglasifikasi
Pertemuan 3 : Pernyataan dan proposisi 1
Pertemuan 4 : Pernyataan dan proposisi 2
Pertemuan 5 : Silogisme dan validitas 1
Pertemuan 6 : Silogisme dan validitas 2
Pertemuan 7 : Kerancuan berpikir informal
Pertemuan 8 : Penutup

Informasi Pendaftaran
  1. Kelas dibatasi untuk 10 (sepuluh) orang peserta.
  2. Kelas diselenggarakan setiap hari Selasa mulai 16 Oktober 2012 pukul 19.00 sampai pukul 21.00 WIB di Garasi 10, Jl. Rebana no. 10, Bandung.
  3. Biaya Rp. 150.000 untuk 8 (delapan) pertemuan akan sepenuhnya dikembalikan pada peserta dalam bentuk hand-out, sertifikat, dan operasional kelas itu sendiri. 
  4. Informasi dan pendaftaran dapat menghubungi Dega (08-1111-04844)
Profil Pengajar

Syarif Maulana lahir di Bandung, 30 November 1985. Lulus S1 Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan tahun 2008 dan melanjutkan Magister di bidang Ilmu Komunikasi di Universitas Padjajaran pada tahun yang sama. Setelah lulus tahun 2011, Syarif mengajar di D3 Fakultas Ilmu Budaya Unpad untuk mata kuliah Logika, Komunikasi Bisnis, dan Pengantar Ilmu Komunikasi. Ketertarikannya pada filsafat dimulai sejak mengikuti Extension Course Filsafat Unpar pada tahun 2007. Selain dari mengikuti ECF Unpar, Syarif juga aktif di kelompok diskusi Madrasah Falsafah Sophia, Klab Filsafat Tobucil dan KlabKlassik. 
Untuk melihat tulisan-tulisannya, bisa klik situs-situs di bawah ini:

Previous
Next Post »