Berakhirnya Kelas Eksistensialisme Sartre

Jumat, 19 Oktober 2012

Pertemuan terakhir ini, Kang Ami tidak menyiapkan materi apapun. Sesuai temanya, yaitu Refleksi Atas Pemikiran Sartre, Kang Ami memberi kesempatan masing-masing peserta untuk mempresentasikan tulisannya masing-masing. Sesuai tradisi, kelas eksistensialisme selalu melahirkan buku yang ditulis atas dasar pembatinannya terhadap pelajaran yang telah dicerna.

Meski dipresentasikan, namun rata-rata peserta belum merampungkan tulisannya. Kape bahkan merasa putus asa untuk memenuhi tugas ini. Katanya, "Gak bisa nulis euy. Ada yang punya buku kiat-kiat menulis gak?" Ping belum menulis, tapi ia sangat tergoda untuk mengambil inspirasi dari drama terkenal karya Sartre berjudul Huis Clos. Sedangkan Liky, ia tertarik untuk menulis sesuatu bertemakan self-deception.

Faishal, yang baru saja lulus kuliah, bercerita tentang pengalamannya lulus. Ia bercerita tentang pendidikan yang semakin lama semakin mirip pabrik. Ada semacam keinginan dari otoritas kampus untuk membentuk mahasiswanya menjadi sesuatu yang sifatnya masal dan bukannya otentik. Kang Ami menyarankan, "Baca Toto Chan deh, untuk melengkapi amunisimu melihat bagaimana pendidikan seharusnya."

Rudy mendapat gilirannya sekarang. Ia menyajikan empat tulisan: pertama puisi, kedua cerpen, ketiga aforisme, keempat autobiografi. Rudy memulai dengan membacakan puisi berjudul Ketiadaanku adalah Eksistensiku.. Berikutnya, Rudy menceritakan tulisannya berjudul Kebebasan Kumaha Aink. Yang ketiga, Rudy menyajikan kumpulan aforismenya berjudul Ayat-Ayat Mata dibalas Mata. "Tapi tulisanku yang ketiga ini banyak mengandung paradoks," ujar Rudy. Ia kemudian membacakan salah satunya: Sesungguhnya kebabasan itu apabila dibahasakan dan menjadi tujuan bagi tiap-tiap diantaramu maka kebebasan itu menjadi penjara kehidupan karena tak ada satupun kata maupun kalimat yang dapat kau terima sebagai kebebasan. 

Rudy membacakan karyanya.
Setelah pembacaan panjang lebar oleh Rudy ini, suasana menjadi lebih santai. Ngobrol-ngobrol menjadi tidak formal dan lebih membicarakan hal-hal yang di luar filsafat. Meski demikian, kata Kang Ami, "Yang seperti ini adalah cara terbaik memahami eksistensialisme. Mengenal diri sebagai yang otentik." Obrolan bebas pun terpaksa dihentikan oleh upacara penutupan yang diawali dengan sepatah dua patah kata oleh Pak Setiawan Sabana selaku kepala Garasi10.

Kelas Eksistensialisme Jean-Paul Sartre pun ditutup dengan meluluskan tujuh orang alumni. Semoga filsafat yang dipelajari tidak cuma berakhir di balik meja dengan bertopang dagu memikirkan dunia. Apalah guna filsafat, selain menjadikan manusia menjadi manusia seutuhnya.

Ping Setiadi Yap menerima sertifikat tanda kelulusan.

Previous
Next Post »