Sartre dan Dunia Sastra

Jumat, 21 September 2012


Kelas Filsafat Sartre memasuki pertemuannya yang keempat. Setelah pertemuan sebelumnya membahas kehidupan Sartre dan pemikiran Sartre tentang relasi antarmanusia, kali ini sang tutor Rosihan Fahmi berbagi topik yang cukup menarik: Sartre dan dunia sastra.

Pertama-tama, sebagai rangsangan, Kang Ami memberikan gambaran posisi karya sastra dan filsafat:
  • Secara asasi, baik karya sastra maupun filsafat, sebenarnya merupakan refleksi pengarang atas keberadaan manusia. 
  • Hanya jika karya sastra merupakan refleksi evaluatif, maka filsafat merupakan refleksi kritis. 
  • Apa yang diungkapkan filsafat adalah catatan kritis yang awal dan akhirnya ditandai dengan pertanyaan radikal yang menyangkut hakikat dan keberadaan manusia
Setelah itu, Kang Ami memaparkan tentang karya sastra Sartre yang secara umum terbagi dalam dua ranah, yaitu eksistensialisme dan marxisme. Karya sastra eksistensialisnya banyak membahas hal-hal yang berkaitan dengan kebebasan. Sedangkan karyanya yang berbau marxis, Sartre merefleksikan keadaan kaum proletar sebagai subjek. "Sartre sendiri, dalam karya sastranya, banyak mengambil jalur prosa. Daripada, misalnya, puisi," lanjut Kang Ami. Setelah itu, Kang Ami memberikan perbedaan karakteristik prosa dan puisi. "Agar paham kira-kira mengapa Sartre mengambil jalur prosa. Agaknya karena ia percaya bahwa prosa lebih menggugah kesadaran."

Kang Ami kemudian mengangkat hubungan filsafat Hegel dengan filsafat Sartre. Hegel bertolak pada dunia yang dibentuk lewat sejarah. Sejarah itu sendiri mengenal dirinya lewat dialektika tesis, antitesis dan sintesis. Sartre mengambil semangat dialektika ini untuk menjadi semacam fondasinya dalam bersastra. Katanya, sastra haruslah membangkitkan keberanian pada manusia untuk mengubah dunia hidupnya dan dengan cara demikian, manusia mengubah dirinya. Sartre, kata Ami, "Menanggung kewajiban tak terelakan: Membantu pembacanya untuk menjadi manusia yang penuh dan bebas dalam dan melalui sejarah." Maka itu, Sartre menjadi sangat dekat dengan marxisme terutama sejak Perang Dunia II. Sartre selalu condong ke kiri. Dia menaruh simpati kepada gerakan sosialisme. "Filsafat Marx, kata Sartre, merupakan filsafat zaman kita. Marxisme adalah satu-satunya filsafat yang benar dan definitif," kata Kang Ami. 

Setelah itu Kang Ami mulai mengajak dialog lebih bebas. Ia pertama menanyai Rudy, "Apakah yang sedang kamu perjuangkan?" "Lulus kuliah," jawabnya singkat. Benny juga, sebagai mahasiswa baru, menjawab singkat, "Ingin cepat lepas dari inisiasi." Kang Ami kemudian menajamkan pertanyaannya karena merasa kurang mendapat jawaban yang lengkap, "Apakah yang sedang kamu perjuangkan, yang punya artinya juga bagi pembebasan orang lain?" Benny menjawab lagi, "Tidur adalah sesuatu yang saya perjuangkan. Karena yang demikian adalah membebaskan saya dan orang lain." Kape menambahkan, "Saya memperjuangkan harapan, karena harapan juga membebaskan." 

Minggu depan, Kelas Filsafat Sartre akan membahas soal ateisme.
Previous
Next Post »