Workshop Membatik untuk Mahasiwa Universitas Daito Bunka

Jumat, 31 Agustus 2012

Siang itu Garasi10 dipenuhi orang-orang Jepang. Mereka adalah mahasiswa Universitas Daito Bunka jurusan Hubungan Internasional yang tengah berkunjung ke Indonesia. Dalam mata kuliah tentang studi Asia Tenggara di kampus mereka, ada pilihan untuk pergi ke Indonesia dan mempelajari langsung kebudayaannya selama kurang lebih dua minggu -Jika mereka tidak ke Indonesia, maka harus ikut mata kuliah delapan SKS-. Walhasil, dalam kurun waktu dua minggu tersebut, Universitas Padjadjaran yang bekerjasama sudah lama dengan Universitas Daito Bunka, menampung mahasiswa-mahasiswa tersebut dengan berbagai kegiatan mulai dari membaurkan dengan host family (keluarga yang diinapi di Indonesia), melatih bahasa Indonesia, mengajak ke tempat-tempat wisata, hingga workshop batik yang dilakukan di Garasi10 ini.

Zaskiah Pawitan, lulusan FSRD ITB, menjadi pelatih workshop batik bagi sekitar dua puluh orang mahasiswa Jepang sekitar semester tiga atau empat tersebut. Sebelum mulai membatik, pertama-tama, Zaskiah atau biasa dipanggil Moni tersebut, mengajak para mahasiswa untuk membuat desain yaitu proses pembuatan rancangan dengan membuat sketsa di atas kertas atau langsung di atas kain. Setelah itu, tahap-tahapnya adalah sebagai berikut:

1. Menggambari kain dengan motif yang akan dibuat.
2. Membubuhkan lilin atau malam di atas kain (ngarengreng).
3. Mengisen-iseni atau mengisi lembaran kain dengan motif tertentu.
4. Nerusi yaitu membatik mengikuti motif pembatikan yang pertama.
5. Nembok adalah menutupi bagian-bagian yang tidak akan diberi warna.
6. Pewarnaan adalah tahapan memberikan warna pada batik sesuai dengan warna yang diinginkan.
7. Mbabar (pelordan) pada tahap ini adalah membersihkan seluruh malam yang masih ada di kain dengan cara dimasak dalam air mendidih dengan ditambah air yang dicampur dengan soda agar malam tidak melekat.


Mahasiswa dan mahasiswi dari Jepang tersebut tampak menikmati sekali kegiatan yang "sangat Indonesia" ini. Dimulai pukul satu dan dijadwalkan berakhir pukul empat, sebagian besar diantaranya sudah selesai sejak pukul tiga. Namun ada juga yang jam empat lebih masih asyik dengan cantingnya, karena cukup idealis dengan menambahi banyak gambar seperti salib hingga skateboard. Acara workshop itu ditutup dengan foto seluruh mahasiwa dengan karyanya masing-masing. Setelah itu, mereka pulang untuk istirahat ke rumah host-family.

Previous
Next Post »