Pertemuan Perdana Kelas Filsafat Sartre

Jumat, 31 Agustus 2012

Kelas Filsafat Eksistensialisme, yang beristirahat selama bulan puasa, baru saja memulai kembali edisi terbaru. Setelah sukses dengan kelas Eksistensialisme Soren Kierkegaard dan kelas Filsafat Martil Friedrich Nietzsche, kali ini sang tutor, Rosihan Fahmi, mengajak pesertanya untuk membahas salah satu tokoh eksistensialisme paling mahsyur yaitu Jean Paul Sartre.

Rosihan Fahmi, sang tutor.
Seperti biasa pula, di pertemuan pertama, Rosihan Fahmi alias Kang Ami, tidak langsung masuk pada inti filsafat Sartre. Terlebih dahulu Kang Ami memberikan pemanasan dengan menanyakan motivasi masing-masing peserta. Misalnya Liky Ardianto menjawab, bahwa mengapa ia tertarik mengikuti kelas ini, karena mengetahui salah satu tagline terkenal Sartre tentang kebebasan yang bertanggungjawab. Kata Liky, "Saya ingin tahu, sejauh mana sebenarnya kebebasan manusia?" Alasan yang sama juga dikemukakan oleh Rudy Rinaldi. Alasan yang lebih simpel dikemukakan Liem Freddy, yaitu untuk memberikan suplemen bagi proyek penulisan novel yang tengah digarapnya. Sedangkan peserta yang sudah mengikuti dua kelas sebelumnya yakni Faishal Nurghani, suka dengan kelas ini oleh sebab perlu ruang untuk refleksi setelah menjalani keseharian yang mumet.

Ukuran keberhasilan dua kelas sebelumnya adalah kelahiran dua buku hasil tulisan para peserta kelas. Maka itu, kelas yang satu ini juga sudah dapat dipastikan mengarahkan tujuannya pada penulisan buku. Kang Ami sudah memaparkan kisi-kisi materi kuliah untuk delapan pertemuan, sehingga para peserta bisa menyiapkan dari jauh-jauh hari tentang apa yang mau ditulisnya nanti. Misalnya dalam salah satu slide yang berisi kisi-kisi pertemuan kelima tentang Ateisme ala Sartre, Kang Ami mengajak para peserta menyiapkan nalar kritisnya:

"Sartre yang disebut-sebut sebagai filsuf ateis, kali ini akan didialogkan dalam dua ranah; ranah biografis literer dan diskursif filosofis. Apakah dengan demikiran Sartre dengan senyatanya dapat dikatakan ateis murni atau akal-akalan filosofisnya saja? Atau ada yang lainnya? Mari kita menggunjingnya!" 

Eksistensialisme adalah filsafat tentang manusia dalam posisinya sebagai subjek yang otentik. Ia menempatkan dirinya sebagai eksistensi yang mendahului esensi. Asumsi inilah yang dijadikan Kang Ami sebagai titik pijak bahwa kelas ini bukan semata-mata kelas teori, melainkan juga harus membatin, dalam gerak-gerik: menjadikan seorang manusia menjadi manusia yang utuh dan otentik. Atas dasar itu pula, Kang Ami selalu menyelipkan diantara slide-slide-nya, suatu obrolan ringan yang berpijak pada pengalaman pribadi. Hal ini juga bagian dari "kampanye" Kang Ami yang selalu mengupayakan pembumian filsafat. Bahkan, cerita-cerita dari film ringan semisal Kungfu Panda, diangkat dalam obrolan dan dianggap punya nilai-nilai eksistensialisme. Hal yang membuat peserta tergelak tapi juga diajak merenung.

Mari kita nantikan kupasan kelas ini terhadap filsafat Sartre di minggu-minggu berikutnya!

Previous
Next Post »