Komunitas Hong: Spiritualitas dan Permainan

Minggu, 5 Agustus 2012

Sore itu Garasi10 kedatangan Komunitas Hong. Siapakah mereka? Komunitas Hong sering disebut juga sebagai Pusat Kajian Mainan Rakyat. Komunitas yang dipimpin oleh M. Zaini ini, didirikan pada tahun 2003 -meski penelitian tentang mainan anak itu sendiri sudah dimulai sejak 1996-. M. Zaini sendiri kemudian yang mempresentasikan tentang komunitasnya di Garasi10. Tak hanya itu, ia juga memaparkan macam-macam mainan anak beserta filosofi di baliknya. Walhasil, acara yang dimulai pukul empat sore tersebut menjadi ajang ngabuburit yang bergizi dan "mengenyangkan", membuat para peserta yang jumlahnya sekitar dua puluh-an tak terasa menanti waktu berbuka. 


M. Zaini yang juga dosen di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) ini, mengawali presentasinya dengan memaparkan beberapa permainan tradisional dan kegunaannya. Misalnya, permainan sur ser adalah permainan yang melatih keseimbangan otak kiri dan otak kanan -fungsi yang sama juga dapat diperoleh dari permainan bernama salam sabrang-. Permainan lain semisal paciwit-ciwit lutung, kata M. Zaini, "Mengajarkan empati. Karena jika kita yang posisi tangannya paling atas melakukan cubitan keras, maka tangan di bawahnya akan juga mencubit keras. Jika sebaliknya kita pelankan cubitan kita, cubitan di bawahnya juga akan pelan." 

M. Zaini tidak berhenti sampai disitu, ia juga menilai bahwa seluruh permainan tradisional pada dasarnya mengajarkan sesuatu yang fundamental bagi kehidupan sosial maupun spiritual. Misalnya permainan congklak mengajarkan menabung dan berbagi. bedil jepretan mengajarkan hukum-hukum fisika, gatrik mengajarkan menghitung, hingga yang cukup filosofis seperti engkle. "Engkle," kata M. Zaini, "Mengajarkan suatu perjalanan hidup yang membutuhkan perjuangan." Namun berkali-kali ditekankan pula, bahwa antara permainan dan keseriusan, keduanya berkesinambungan. "Dalam permainan, kita dituntut serius. Dalam keseriusan, kita juga dituntut untuk menganggap ini semua permainan," sambungnya. 



M. Zaini yang baru saja terdaftar sebagai mahasiswa S3 dengan penelitian mengenai hubungan spiritualitas dan permainan ini, memaparkan bahwa dalam pengamatannya ke hampir banyak negara, ternyata masing-masing punya permainan tradisional yang mirip satu sama lain. Seperti misalnya dam-daman, bahkan Romawi Kuno pun memainkannya. "Jadi," sambungnya, "Soal permainan tradisional ini tidak perlu kita memotret isu orisinalitasnya. Karena permainan tradisional merupakan fenomena universal, setiap bangsa pasti memainkannya." M. Zaini, lewat Komunitas Hong, tidak bermaksud agar seluruh masyarakat memainkan permainan tradisional. "Saya cuma ingin melihat nilai dari permainan tradisional. Karena seiring dengan ramainya permainan modern, harus ada orang yang kembali menengok ke permainan tradisional dan menyejajarkan derajatnya dengan yang modern," tutupnya. Sebagai informasi, pameran mainan tradisional anak dari Komunitas Hong ini bisa dilihat di Garasi10 sampai dua puluh hari ke depan.

Sebagai penutup, Pak Setiawan Sabana memberikan buku  Jagat Kertas dan kaos Garasi10.



Previous
Next Post »