Suasana Pertemuan Pamungkas Dua Kelas Filsafat

Kamis, 12 Juli 2012



Dua kelas filsafat yang meramaikan Garasi10 dalam dua bulan terakhir, menemui pamungkasnya. Mereka adalah kelas Filsafat dalam Film dan kelas Filsafat Martil F. Nietzsche. Agar efisien -dan juga mengingat hari Jumat tanggal 13 Juli yang seyogianya digunakan untuk jadwal rutin kelas Filsafat Martil ternyata bentrok dengan acara diskusi buku Metodologi Penelitian Seni- maka kedua kelas digabungkan di hari Kamis yang normalnya adalah jadwal kelas Filsafat dalam Film. 

Meski menggabungkan dua kelas yang berbeda tema, namun keseluruhan peserta secara umum bisa berbaur satu sama lain. Apa yang dilakukan di malam penutupan itu adalah pembacaan tulisan masing-masing peserta. Hal tersebut tidak lepas dari syarat wajib agar peserta menuliskan pelbagai refleksinya untuk dijadikan buku sebagai output konkrit. Kelas Filsafat Martil F. Nietzsche mendapat giliran pertama untuk mempresentasikan tulisan yang diperolehnya. St. Ping Setiadi secara menakjubkan membuat tulisan sepanjang 35 halaman yang oleh Kang Ami disebut sebagai, "Yang paling cocok ditempatkan di mukadimah buku nanti." Setelah itu, Kang Ami, sang tutor, juga dibuat kagum oleh tulisan M. Sulhan yang sedemikian sistematis dan diisi oleh beberapa diagram. Padahal, M. Sulhan ini termasuk peserta yang jarang sekali hadir. Rudy dan Faishal, mereka membuat puisi yang berkarakter cukup Nietzschean: Nihil dan menggebrak.

Sedangkan kelas Filsafat dalam Film, meski para peserta belum menamatkan tugasnya secara sempurna, namun mereka masih tetap sanggup mempresentasikan calon tulisan. Seperti misalnya Muhammad Al-Mukhlisiddin (AM) yang membahas film Lost in Translation karya Sofia Coppola tahun 2003. Ia sudah merampungkan sembilan puluh persen tulisannya, hanya tinggal diberi beberapa sentuhan final. Meski demikian, analisis AM cukup mengundang decak kagum dengan mengaitkan film tersebut dengan konsep-konsep Freudian. Pun Rudy secara menarik memilih My Girl sebagai film yang dianalisisnya. Padahal, secara stereotip film tersebut dirasa lebih cocok bagi anak-anak. Namun Rudy tidak setuju, "Film ini sangat eksistensialis." Pak Bambang Sapto yang tidak pernah absen delapan pertemuan, beliau mengambil film lokal sebagai bahan analisanya, yaitu karya Garin Nugroho: Daun di atas Bantal.

Setelah pemaparan selama hampir tiga jam tersebut, kelas akhirnya mencapai bagian paling formal, yakni pembagian sertifikat. Sebelumnya, Pak Setiawan Sabana memberikan sedikit wejangan, "Kegiatan yang kecil ini, harus dilakukan secara konsisten dan terus menerus. Jangan pernah berhenti berbuat." Tak lupa beliau pun memberi sedikit bocoran bahwa setelah lebaran akan diadakan kelas yang khusus membedah soal museum dan permasalahannya. Sedangkan kelas filsafat eksistensialisme asuhan Kang Ami berencana membuka kelas yang khusus membahas Jean Paul Sartre di waktu dekat. 

Sampai jumpa di acara-acara Garasi10 berikutnya!



Previous
Next Post »