Orkes Keroncong Jempol Jenthik: Dari Garasi untuk Negeri


Minggu, 15 Juli 2012

 
Orkes Keroncong Jempol Jenthik (JJOK) untuk ketiga kalinya datang ke Garasi10. Apa tujuannnya? Seperti biasa, dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Tapi kita tahu JJOK tidak hanya tampil, mereka selalu hadir bersama dengan misinya yang mulia: Menduniakan musik keroncong.

Kelompok asuhan Pak Adi B. Wiratmo ini, seperti biasa, membuka penampilannya dengan lagu instrumental yaitu Manuk Dadali. Orkes yang beranggotakan instrumen cukup lengkap ini (cak, cuk, cello, gitar, biola, flute, dan kontrabas) membawa tiga orang penyanyi. Meski demikian, yang menyanyi tidak hanya tiga orang tersebut, melainkan juga para penonton. Ada Pak Dudi, Pak Wid, Pak Lalan, dan Intan tampil bergantian menyumbangkan suaranya.

Salah satu ciri khas penampilan JJOK di Garasi10 ini adalah menyisipkan diskusi di antara lagu-lagunya. Pak Adi tak pernah bosan berbagi cerita tentang asal mula keroncong dan pengenalan instrumen serta struktur-struktur lagu di dalamnya. Selain itu, Pak Adi juga mau melayani pertanyaan demi pertanyaan dari para penonton. Seperti misalnya, Pak Dudi bertanya “Apakah betul, keroncong itu bukan berasal dari Portugis?” Pak Adi termasuk orang yang percaya bahwa keroncong adalah murni hasil kreativitas orang Indonesia. Pun instrumen-instrumen yang diadopsi oleh keroncong sebetulnya bukan instrumen khas Portugis. Juga ada pertanyaan lain semisal, “Apakah keroncong hanya dimainkan oleh instrumen Barat? Kenapa tidak ada yang memainkannya dengan instrumen tradisional kita?” Pak Adi kemudian menjawabnya dengan merujuk pada anak-anak dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) yang punya kelompok gamelan khusus mengambil “sari-sari” musik keroncong. Jadi dengan itu cukup terjawab, bahwa ada kelompok yang memainkan gamelan tidak dengan instrumen Barat.  

Khusus untuk acara munggahan kali ini, JJOK juga membawakan tiga karya rohani. Selain itu, yang menjadi khas adalah naik panggungnya Pak Wid yang hampir pasti memainkan lagu yang sudah menjadi favorit para penonton yaitu Kupat Tahu. Dalam kesempatan ini beliau juga menyanyikan lagu baru ciptaannya, yakni tentang himbauan berhati-hati ketika arus mudik lebaran. Seperti halnya lagu Kupat Tahu, lagu ini juga punya bagian-bagian interaktif dengan penonton. Selain itu, JJOK juga seperti biasa menampilkan lagu-lagu seperti Route 66, Juwita Malam, Sepasang Mata Bola, Pahlawan, Bubuy Bulan, dan seperti biasa ditutup dengan Keroncong Kemayoran. Acara yang dimulai pukul setengah delapan itu pun ditutup pukul setengah sepuluh.

Pak Adi, di sela-sela diskusi kerapkali menyisipkan promosi bahwa di garasi rumahnya juga sekarang sedang rutin menyiapkan generasi muda untuk memainkan musik keroncong. Intinya, dari garasi ke garasi, sedang disiapkan banyak hal yang barangkali bisa membantu untuk menata negeri ini.
Previous
Next Post »