Memahami Garasi: Dari Kekosongan ke Perlawanan


John Stuart Mill pernah mengemukakan suatu pemikiran etika bernama utilitarianisme. Katanya, “Ukuran suatu kebaikan adalah selama bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang.” Jika ada pertanyaan semisal: Mana yang lebih baik, mengadakan pertunjukkan musik di gedung konser dengan kapasitas seribu orang, atau di teras rumah disaksikan sepuluh orang saja? Mill akan menjawab yang pertama. Mana yang lebih baik, mengadakan seminar dengan ribuan peserta di hotel mewah, atau diskusi kecil beranggotakan lima orang di garasi rumah? Mill tentu saja akan menjawab yang pertama.

Pemikiran utilitarianisme Mill ini tentu saja sadar ataupun tidak menjadi dasar pengadaan ruang publik yang berprinsip “makin bisa menampung orang lebih banyak, lebih baik”. Ada yang dilupakan oleh utilitarianisme, tentang bagaimana kenyataan bahwa banyak orang tidak sama dengan kemampuan pencernaan materi yang sama orang per orangnya. Utilitarianisme juga luput dari pemikiran bahwa yang sedikit kerapkali punya konsentrasi energi lebih besar. Yang sedikit dan kecil lebih sanggup memahami orang per orang secara eksistensial-personal-unik, tidak hanya sebagai objek simplifikasi bernama “massa”, “hadirin” atau “peserta”.

Tentu saja utilitarianisme dan ruang publik-besar-nya tak perlu diruntuhkan sepenuhnya dengan semangat pascamodern yang sejalan dengan “kehancuran metanarasi”. Ruang publik-besar masih dibutuhkan untuk kebutuhan-kebutuhan tertentu. Namun yang lebih penting adalah derajat ruang-ruang mikro yang tadinya di-liyan-kan dengan sebutan “alternatif”, sekarang justru menyembul ke permukaan -punya makna dalam menyuarakan perubahan-.

Garasi Rumah sebagai Ruang Mikro

Garasi adalah bagian rumah yang agaknya wajib dimiliki oleh penghuni rumah yang memiliki kendaraan (baca: mobil). Dengan garasi, mobil menjadi terlindungi, dekat dengan penghuni, dan tidak perlu khawatir hujan ataupun sengat panas. Bagi kalangan elit tertentu, garasi bahkan bisa disulap menjadi showroom koleksi mobil mewah. Namun apa yang tersisa dari garasi ketika mobil di dalamnya sedang digunakan di luar? Kita tentu saja akan menjawab: ruang kosong.

Namun istilah “ruang kosong” hanya ditujukan bagi mereka yang belum menemukan fungsi garasi melebihi stereotipnya sebagai ruang tempat menyimpan mobil. Sebetulnya bisa saja kekosongan ini tidak dilihat dalam –apa yang diistilahkan dalam bahasa metafisika sebagai- aktus (keadaan yang terlihat sebagaimana adanya), melainkan potensi. Ruang kosong selalu menanti untuk diisi. Justru karena ukurannya yang kecil, garasi rumah yang kosong menawarkan pelbagai kelebihan –yang menggiurkan- yang tidak dipunyai ruang-ruang besar.

Garasi10: Dari Garasi untuk Negeri

Garasi10 lahir dari pemikiran-pemikiran semacam di atas. Pertama, dugaan bahwa ruang publik-besar yang semakin hari punya kecenderungan dingin, arogan, minim konsentrasi energi, dan jauh dari publik itu sendiri. Utilitarianisme menjadi dogma yang kering dan basi. Kedua, kenyataan bahwa ketika mobil dikeluarkan dari garasi, maka garasi itu sendiri menjadi tak punya manfaat selain ruang kosong yang teronggok begitu saja.

Maka yang dilakukan kemudian adalah pemanfaatan kekosongan itu semaksimal mungkin. Garasi10, dengan ukuran yang betul-betul dikategorikan kecil, pernah menggelar pameran (komik maupun lukisan), bazaar, konser musik (klasik, keroncong, hingga elektronik), kelas filsafat dan musik, peluncuran buku, seminar, sampai sarana olahraga pingpong. Garasi10 bahkan berevolusi menjadi penerbit yang sudah melahirkan beberapa buku –disamping koleksi ratusan buku yang juga sudah menghuni pustakanya sedari dulu-.

Garasi10 punya visi memberi kontribusi bagi negeri. Tapi bukan kontribusi yang bergaya utilitarian. Kontribusi yang dimaksud adalah suatu upaya membangkitkan kesadaran bahwa di luar sana terbentang banyak sekali garasi rumah yang masih dibiarkan dingin dan kaku ketika mobil tidak bermukim di dalamnya. Masih banyak ketidakpercayaan –atau ketidakpercayadirian?- tentang bagaimana sesuatu yang kecil, mikro, dan sempit, bisa menghasilkan sesuatu yang besar kelak. Seperti apa yang Bambang Sugiharto pernah katakan, “Bahkan dunia bisa diubah oleh individu, asal ia mempesona dan berkualitas.”




Previous
Next Post »