Nihilisme dan Keberanian Memaknai Ulang

Jumat, 8 Juni 2012 

Pertemuan ketiga Kelas Filsafat Martil berlangsung dalam kondisi cuaca gerimis. Suasana gloomy tersebut agaknya cocok dengan topik yang dibawakan Rosihan Fahmi yaitu tentang “Nihilisme”.




Sebelum menjelaskan apa itu nihilisme, Kang Ami –seperti biasa- memulainya dengan saling berbagi pengalaman. Kang Ami mengritik dunia ajar mengajar yang menurutnya seringkali tidak lebih daripada transformasi informasi. Hal tersebut juga diiyakan Ping Setiadi, salah seorang peserta, yang menyebutkan bahwa sesungguhnya tidak mungkin mengajarkan satu metode untuk satu murid. Mesti banyak metode, juga mesti ada upaya penggalian diri si murid itu sendiri. “itulah dia,” kata Ami, “Banyak guru hanya membawa ‘tubuh’, bukan ‘diri’.” Maksudnya, semestinya guru menerapkan suatu nilai-nilai kehidupan secara integral, bukan metode praktis yang seringkali nirmakna: Murid bisa segala, tapi tidak tahu untuk apa. 

Pembahasan pengalaman pribadi tersebut ternyata menjadi jalan masuk untuk memahami nihilisme itu sendiri: 

 “What i relate is the history of the next two centuries. I describe what coming, what can no longer come differently: the advent of nihilism. This history can be related even now in hundred signs, this destiny announces itself everywhere; for this music of the future all ears are cocked even now.. “ – Friedrich Nietzsche 

Kutipan di atas, memang belum menjelaskan nihilisme. Kang Ami mau terlebih dahulu menunjukkan gaya berpikir spekulatif. Dalam kalimat yang dikutip dari buku Will to Power tersebut, “Nietzsche tak ubahnya seperti peramal,” kata Ami, “Ia menebak-nebak apa yang terjadi pada dua ratus tahun ke depan.” Apa yang diramalkan oleh Nietzsche? Yakni: Kebudayaan Eropa yang sedang bergerak menuju suatu malapetaka, dengan tekanan yang tercabik yang meningkat dari tahun ke tahun. Ketercabikan ini kira-kira apa yang dimaksud seorang Nietzsche sebagai nihilisme. 

Nihilisme adalah hilangnya pijakan, hilangnya makna akan segala sesuatu: Singkatnya, nihilisme mengantarkan manusia pada situasi “Malam Terus Menerus” karena segala kepastian hidup menjadi runtuh. Tidak hanya agama, tapi juga sains, Nietzsche menganggapnya sebagai tidak stabil. Seolah-olah kokoh dan absolut, tapi kenyataannya begitu rentan dan berubah-ubah.Nietzsche secara khusus menyerang August Comte yang dengan keyakinannya akan ilmu pengetahuan, justru secara tidak sadar telah menciptakan agama baru bagi dirinya dan bangsanya. Maksud Nietzsche: Ketika ada kebenaran yang dianggap absolut, justru ia telah menihilkan kebenaran itu sendiri. Kebenaran itu otomatis mati. "Positivisme Comtean mungkin mengandung kebenaran," kata Kang Ami, "Tapi berbahaya, kata Nietzsche, jika yang dianggap satu-satunya kebenaran adalah positivisme itu."

Kang Ami kemudian menawarkan pemikiran Sir Muhammad Iqbal sebagai jalan keluar, "Segala sesuatu ada being and time." Maksudnya, positivisme bisa benar, dalam kondisi dan waktu tertentu. Manusia menjadi "gagal" ketika menganggap positivisme berlaku untuk semua kondisi. "Apakah ketika kamu berpikir spiritual, artinya menihilkan rasio? Apakah ketika berpikir rasional, menihilkan spiritual?" tanya Kang Ami dengan bersemangat.

Nietzsche juga kemudian menyerang moral kekristenan dalam empat poin yang dirumuskan Kang Ami:

  • Moral kristen memberikan nilai absolut bagi manusia sebagai jaminan bagi dirinya yang merasa kecil dan tak berarti. 
  • Moral kristen berlaku sebagai perintah-perintah Tuhan di dunia. 
  • Moral kristen menanamkan pengetahuan akan nilai-nilai absolut untuk memahami apa yang dianggap penting. 
  • Moral kristen berperan sebagai sarana pemeliharaan bagi mansuia. 

Moralitas "budak" semacam itu, kata Nietzsche, membawa kepastian bagi masyarakat Eropa yang justru membuat mereka tidak bisa menjadi seorang adimanusia, seorang ubermensch. "Yang menganut moralitas semacam itulah yang nantinya akan menjadi manusia-manusia kawanan, yang tidak berdikari dan enggan menerima tantangan," kata Kang Ami berupaya menjelaskan maksud Nietzsche. Akhirul kata, Nietzsche kemudian memberikan tawaran jalan keluar bagi situasi kekosongan ini. Pertama, tentu saja menerima bahwa hidup ini nirmakna. Kedua, manusia sendiri harus menciptakan dunia dan memberikannya nilai. Poin yang terakhir inilah yang membedakan manusia dari yang ubermensch dan yang lemah. Manusia lemah memilih dimaknai daripada memaknai.

Pemaparan-pemaparan ini membawa kita pada topik obrolan di pembuka kelas tentang pengalaman pribadi: Sistem pendidikan kita hanya akan melahirkan manusia kawanan karena tidak mengajarkan untuk berani memaknai ulang kehidupan.

"Kita sudah meninggalkan daratan dan sudah menuju kapal! kita sudah membakar jembatan di belakang kita!" -Friedrich Nietszche
Previous
Next Post »