Menyimak Gelagat Video Mapping Instalation di Indonesia



Kecanggihan teknologi digital mampu menghadirkan bentuk-bentuk ilusi yang nyata. Dunia gambar gerak atau yang lazim disebut dengan video, akhir-akhir ini mengalami perkembangan yang signifikan. Suguhan seperti film ataupun games berbasis 3D mampu membawa kita, sebagai pelaku, seolah-olah terkoneksi pada cerita di dalamnya.

Ranah video art sedang marak memperbincangkan gaya baru dalam berkarya, yaitu konsep Video Mapping Instalation. Berkaitan dengan hal tersebut, Rabu, 6 Juni 2012, Garasi 10 mengundang dua pakar di bidang video mapping untuk memperbincangkan dan membagi pengalamannya mengenai gelagat video mapping di Indonesia. Adalah M. Fathony (Tony) dan Yusvatria Adri S. (Adri), dua pemuda yang saat ini sedang bergiat menggeluti dunia video mapping. Tony dan Adri tergabung dalam “Sembilan Matahari”, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang instalasi video.

Bincang-bincang diawali dengan presentasi hasil karya yang pernah mereka buat, antara lain “Moveable Diorama: Museum Bank Indonesia”, “Universitas Pelita Harapan: Be Transformed”, “Museum Fathillah: Transforming Old Town as a Creative Playground”, “Museum Batik Pekalongan: World’s City of Batik”, dan “Gedung Sate Bandung: What A Wonderful Jabar”. Selain menampilkan video hasil karya mereka, ditampilkan juga behind the scene atau proses di belakang layar pembuatan karya, berupa video dokumenter sederhana.

Selama satu jam pemutaran video mapping karya sembilan matahari berlangsung, antusiasme peserta semakin tinggi, mulai dari celoteh ringan hingga interupsi pertanyaan di sela-sela pemutaran video. Hal ini disebabkan, mayoritas peserta yang hadir adalah mahasiswa yang memiliki kecintaan terhadap dunia desain visual dan video maker. Namun, karena hari telah menjelang malam, presentasi video pun harus dihentikan dan dilanjutkan dengan sesi diskusi santai. Patra, yang merupakan penggagas kegiatan ini, bertindak sebagai moderator. Berbagai pertanyaan seputar definisi video mapping instalation, ruang batas gerak video mapping, prosedur dan proses pembuatannya, hingga kiat sukses membangun teamwork dalam video mapping project, berlontaran.



Video mapping instalation merupakan jenis seni visual yang menggunakan proyeksi pada ruang tertentu, termasuk interior bangunan. Proyeksi tersebut berupa animasi yang diproyeksikan dengan pencampuran tata cahaya dan musik. Hasilnya terlihat seperti film dengan plot latar belakang bangunan realistis. Singkatnya, video mapping instalation merupakan karya ilusi video pada bidang tembak tertentu dan merespon bidang tembak tersebut. Tony memaparkan bahwa video mapping merupakan perkembangan lebih lanjut dari film layar tancap. Bedanya, proyeksi film layar tancap adalah bidang datar, sementara proyeksi video mapping tidak terbatas pada bidang datar saja. Bangunan gedung realis merupakan bidang tembak yang paling lazim direspon. 

Berbicara mengenai prosedur dan proses pembuatan video mapping, Adri memulai penjelasannya dengan waktu yang dibutuhkan selama proses berkarya. Idealnya, proses total pembuatan karya video mapping membutuhkan waktu sekitar enam hingga delapan bulan. Namun demikian, sebagian besar karya yang dihasilkan oleh Adri dan Tony harus dikerjakan dalam waktu minimal dua bulan. Penyebab utamanya adalah keinginan pihak pemesan video yang tidak memberikan tenggang waktu ideal.

Di Indonesia, karya-karya video mapping memang belum begitu populer, sehingga tak jarang pihak pemesan tidak memahami aspek prosedural yang sangat berkaitan dengan aspek waktu pembuatan. Oleh sebab itu, menurut Adri, proses pembuatan video mapping ini hendaklah terdiri dari tim kreatif yang memiliki jiwa pekerja keras dan mau berdamai dengan segala yang tidak ideal, namun tetap menjaga kelayakan sebuah karya.

Seperti yang dijelaskan di atas, karya video mapping merupakan karya hasil kerja tim. Artinya, dibutuhkan kekompakan tim yang solid dan saling  memahami. Adri mengemukakan, justru kendala yang paling sering ditemui dan menjadi masalah serius adalah perihal keutuhan tim. Baginya, kendala skill atau hal teknis lainnya relatif mudah diatasi, namun membentuk chemistry antar personillah yang lebih sulit. Untuk membuat karya video mapping, paling sedikit dibutuhkan tiga orang yang bekerja di wilayah audio, desain grafik 2D, dan desain grafik 3D. Kendati demikian, jika karya yang dibuat sangat komplek dan berdurasi panjang, maka sumber daya manusianya akan ditambah. Penambahan disesuaikan dengan kebutuhan. Umumnya, personil ditambahkan pada slot perancangan desain grafik 2D dan 3D.

Secara umum, terdapat tiga langkah dalam proses pembuatan video mapping. Langkah pertama adalah melakukan survey lapangan tentang bidang lokasi yang hendak direspon oleh video. Hasil survey lapangan akan sangat menentukan konsep karya yang hendak dibuat. Selama survey, juga dilakukan proses pengukuran bidang tembak. Pengukuran bidang tembak bisa dilakukan secara manual, yaitu mengukur detail setiap sudut gedung, atau cara yang lebih ideal adalah mendapatkan blue print gedung tersebut. Ukuran yang didapat merupakan batasan luas video yang hendak ditayangkan. Kedua, mendesain video sesuai konsep dan sesuai ukuran bidang tembak (gedung). Setelah video selesai dibuat, sebelum benar-benar dipentaskan, harus melalui tahap ketiga terlebih dulu, yaitu tahap Alignment. Tahap ini merupakan proses penyelarasan antara karya video terhadap bidang tembak dengan tujuan untuk mengetahui ukuran presisi dari video terhadap bidang tembak. Ukuran yang boleh ditoleransi lebih kurang 3 cm. Selain melakukan penyelarasan antara hasil video dengan bidang tembak, juga dilakukan pengecekan warna hasil tembak proyektor.

Di ujung diskusi, Tony menjelaskan bahwa hal utama yang harus diperhatikan dalam merancang video mapping instalation adalah keseimbangan antara video, pencahayaan (lighting), musik, dan narasi yang dibuat (story telling).

Bincang-bincang secara formal berakhir pukul 21.15.  Namun, karena malam itu hujan belum juga reda yang menyebabkan para peserta tertahan pulang, maka kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk berdiskusi lebih mendalam dengan para narasumber. 

Previous
Next Post »