Me’ngontrol’ Manusia melalui film A Clockwork Orange (1971)

Kamis, 31 Mei 2012

Arahkan konsep pada Geng Motor di Bandung. Kemudian dialihkan pada sekelompok pemuda berandalan Britania penggemar susu yang hobi membuat onar. Kelompok beranggotakan empat orang berpenampilan ciamik ala Lord, namun tidaklah seenak penampilannya, justru sebaliknya ketika mereka mulai berulah. Pengroyokan pada seorang gembel, perkelahian dengan kelompok lain yang akan memperkosa gadis di lokasi mirip gedung ex-teater, seolah pahlawan. Menyerbu layaknya perampok, mendatangi rumah yang cukup mewah dan jauh dari penduduk mereka berpura-pura meminta bantuan, ketika pintu dibuka oleh seorang perempuan tamatlah riwayatnya. Perempuan itu langsung diangkat, masuk rumah dan mendapati keberadaan suaminya, segera dihajar dan langsung mengacak-ngacak rumah. Belum selesai dengan keonarannya, salah seorang tokoh bernama Alexander DeLarge alias Alex (Malcolm McDowell) memperkosa perempuan didepan suaminya yang sesekali ditendang sembari menyanyi riang sebuah lagu.

Dalam Kelas Filsafat dalam Film pertemuan ketiga, kali ini A Clockwork Orange karya Stanley Kubrick menjadi bahan. Alex merupakan sosok dalam film yang disoroti. Keliaran Alex bersama gengnya justru mendapat tentangan oleh gengnya sendiri, diadegankan ketika menyambangi sebuah rumah dan telah mengacaukan, tiba-tiba alex dijebak hingga akhirnya Alex ditangkap polisi. Perlakuan Gengnya terhadap Alex itu dikarenakan ia merasa dirinya adalah pemimpin dalam kelompoknya, sebelumnya diadegankan ketika mereka berjalan dipinggir kanal Alex menceburkan dua temannya ke air menunjukkan kuasa atas kehendaknya.

Dalam penjara Alex merasa liar pada awalnya, pemberontakan bergejolak dalam diri, tapi apa yang didapat ia malah memperoleh perhatian lebih dan akhirnya mendapat hadiah Ludovico Technique. Ludovico Technique simpelnya adalah metode saintifik yang bisa membuat orang menjadi baik untuk selamanya. Metodenya adalah Alex dicekok menonton video-video. Yang membuat metode Ludovico berhasil adalah ketika ia dipaksa menonton video kekerasan diiringi lagu Symphony no. 9 karya Beethoven lagu favorit Alex— yang membuatnya sakit hati tak terima karena tidak rela menghadapi itu. Setelah dites akhir Alex ternyata memenuhi indikasi bahwa ia telah berhasil menjadi seorang yang baik, kemudian ia dilepaskan.

Tentu itu sangat lah Behaviorisme, cara memandang orang dan cara mengubah orang dengan sebuah perilaku. Pertanyaan-nya, apakah bisa orang diubah kebiasaan buruknya menjadi baik melalui metode yang sangat-sangat ilmiah sekalipun?

Kenyatan memang tidak semuanya berjalan seperti apa yang diharapkan. Ketika Alex kembali dalam dunia sehari-hari naasnya malah hukum karma terjadi, seorang gembel beserta gerombolannya balik memukuli dia. Orang tua Alex dengan sengaja mengusir karena mereka telah mendapatkan pengganti Alex di rumah. Kawan-kawan Gengnya malah menelantarkan di hutan setelah dihajar, karena mereka telah menjadi polisi dan tetap kesal pada Alex.  Sang suami yang istrinya diperkosa, membalas dendam dengan memberi lagu Symphony no. 9 pada Alex secara keras. Karena Alex tidak kuat saking kerasnya yang juga teringat akan terapi Ludovico, akhirnya ia loncat dari lantai dua.

Di rumah sakit ia mendapat perawatan serta mendapat terapi psikologi. Anehnya ketika dites melalui gambar, Alex tetap saja memiliki jiwa keliaran seperti dulu begitu bebasnya, seperti ketika mengumpat yang sangat khas gaya Alex ketika belum diLudovico.

Disini otoritas berperan, yakni Negara. Pertama negara berkewajiban membuat aturan untuk menstandarkan bagaimana yang baik dan buruk. Kedua negara melalui teknologi ingin mengubah perilaku yang buruk menjadi baik sesuai standarisasi-nya.

Hakikatnya manusia adalah bebas. Namun karena kebebasan itulah akhirnya dibuat sebuah aturan. Hukum tentu dibuat bagi siapa yang melanggar aturan tersebut. Pertanyannya siapakah yang membuat peraturan tersebut? bagaimana ia menciptakan itu? dan mengapa untuk menghindari hukum-an diciptakanlah alat pencetak agar orang tak melanggar hukum?

Menurut Rudi, “Kita saat ini sudah dalam Ludovico Technique”. Ya, karena bagi orang hari ini yang masih mempertanyakan ‘kenapa  kita harus ngomongin kebebasan?’ atau bahkan ‘tidak memikirkan kebebasan’ berarti ia-lah korbannya. Semuanya sudah terdisplikan baik secara langsung maupun tidak, untuk mempertanyakan ulang sebuah ‘kehendak bebas’. Satu arah dan menerimanya begitu saja. Seolah apa yang didapatkan memang apa yang sudah baik dan benar, yang paling penting dan dibutuhkan, yang sangat berharga dan mendapat pahala.

Jadi perlakuan negara pada Alex yang diteknologi-displinkan seolah-olah menjadi baik, apa pada akhirnya akan merubah kehidupan menjadi tetap baik? Bisa jadi malah bernegasi, mengendap dan meledak dalam suatu saat karena saking banyak aturan-aturan yang membatasi segala kebebasan.

“Lord itu berkuasa”, ungkap Bambang Sapto “Dan Hedonisme itu hanya boleh dan berlaku dikalangan atas”. Jika saja The Lord of Alex ber-hedonisme secara bebas, lalu bersinggungan dengan Lord yang lebih besar. Bisa jadi ‘hedonisme’ gaya baru memang sedang diterapkan pula pada konteks hari ini oleh institusi sebut negara, kesenangan berbuat baik dengan cara yang bisa jadi tidaklah baik. Pura-pura baik atau berbuat baik untuk mengharapkan imbalan ‘sesuatu’. Yang dianggap biasa dan dingin saja menghadapinya.

Suatu tipikal cara berlaku berbahaya Alex dibandingkan fenomena geng motor lokal mampukah dikendalikan sesuai aturan standar dan paling sempurna sekalipun? Jika tetap terjadi penyimpangan aturan, maka kontrol manusia tentu belumlah sukses. Apakah mungkin cara lembut seperti Ludovico atau bahkan cara kaku fasistik diberlakukan secara relevan menuju kehidupan yang baik?

Kiranya walau hanya sepintas angan-angan akan suatu ‘kehendak’, maka pengontrolan ‘kehendak’ tidak-lah mungkin untuk diubah sekalipun oleh penguasa.

Karena Alexander DeLarge masih berkeliaran bebas dijalan dan menari di televisi.


Benny Apriariska
Previous
Next Post »